TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Seprei Yang Bau


__ADS_3

Tangan Eldar gemetar menatap testpack yang kini ada di genggamannya. Wajahnya yang tadi tegang bercampur senang, kini berubah sendu dan nampak sedikit kecewa. "Hanya satu garis ya?" ujarnya dengan suara yang hampir tak kedengaran.


"Maafkan aku, mas."


Eldar memasukan testpack itu di tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk kamar mandi. Ia tersenyum lalu langsung memeluk Neva. "Jangan minta maaf. Bisa saja dia tak jadi karena kualitas benihku yang nggak terlalu bagus atau mungkin kita keseringan bercinta akhirnya capek."


Neva memejamkan matanya dalam pelukan Eldar. Ia sebenarnya sudah tahu apa kekurangannya sehingga belum hamil. Itu juga yang menjadi persoalannya bersama Genald sampai Neva tak kunjung hamil. Ada sedikit masalah di kandungan Neva. Ia sebenarnya sedang menjalani terapi penyembuhan namun terapi itu sudah tak dilakukan setelah ia bercerai dengan Genald. Neva pun sebenarnya belum ingin hamil waktu dekat ini karena ia ingin mendapat restu dari keluarga Eldar dan Kintan barulah ia hamil.


"Pokoknya kita akan berusaha sampai kamu hamil ya, sayang? Kalau masa subur mu tiba, aku akan mengajakmu berlibur selama seminggu di luar kota." Eldar mengecup dahi Neva dengan sangat lembut. "Aku sudah menyiapkan sarapan. Aku tunggu di meja makan ya?" ujar Eldar.


"Aku mandi dulu, mas." Neva pun kembali masuk ke dalam kamar mandi. Ia mandi dan segera ganti pakaian karena mulai hari ini proses pernikahan Gina akan di mulai. Ada banyak acara yang harus dilaksanakan sebelum puncak acara ijab Kabul nya.


**********


Malam ini adalah malam pengajian di rumah keluarga Daksiano. Ada sekitar 50 anak yatim yang ikut pengajian bersama keluarga besar ini. Pengajian ini merupakan rangkaian awal prosesi pernikahan yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Keluarga mempelai pria pun hadir walaupun baru keluarga inti karena yang lain nanti akan menyusul menjelang hari pernikahan. Maklumlah mereka semua berasal dari Turki.


Kintan pun menggunakan pakaian yang sama dengan keluarga Eldar. Gaun gamis berwarna hijau tosca dengan hijab berwarna putih. Eldar duduk di sebelah Kintan. Namun mata lelaki itu sesekali mencuri pandang ke arah istrinya.


Penampilan Neva malam ini tak kalah cantik juga. Ia menggunakan gaun berwarna putih yang panjangnya di bawah lutut berlengan panjang. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah Eldar sebenarnya sangat merindukan istrinya itu karena sudah 3 malam Eldar tidur di utama keluarga Daksiano ini. Apalagi Neva sedang kedatangan tamu bulanannya. Makanya istrinya itu juga tak keberatan Eldar ada di rumah keluarganya.


Selesai acara pengajian, ada tausiyah dari seorang ustadz yang memberikan nasehat kepada kedua pengantin setelah itu pemberian bingkisan bagi anak-anak panti asuhan dan makan malam bersama.


"Asti, aku ke toilet sebentar ya?" pamit Neva sambil memberikan mandat pada Asti untuk menggantikan tugasnya.


Sebenarnya Neva ingin ke toilet yang ada di luar. Namun karena di luar hujan turun agak deras, makanya Neva mencari toilet yang ada di dalam rumah.


"Bi, toiletnya di mana?" tanya Neva.


"Toiletnya di dekat dapur nona. Tapi kayaknya penuh. Ayo bibi antar ke lantai dua saja." Bi Ning sudah mengenal Neva karena sudah beberapa kali ada di rumah ini. Makanya ia tak khawatir mengajak Neva ke toilet yang ada di lantai dua.


"Ke sini, non."


Neva pun masuk ke dalam toilet. Bi Ning sebenarnya ingin menunggui Neva namun ponselnya berdering dan nyonya besar membutuhkan dia. "Non, bibi tinggal ya? Sudah tahu kan jalan kembali?" kata bibi sambil mengetuk pintu.


"Iya, bi. Pergi aja nggak masalah." Sahut Neva dari dalam. Ia merasa kalau perutnya sedikit kencang karena sudah menahan rasa buang air kecil sejak tadi.


Neva mencuci tangannya setelah selesai buang air kecil. Saat ia keluar dari toilet, seseorang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang dan menarik Neva ke salah satu kamar.


"Mas?" Neva langsung memukul lengan Eldar saat menyadari bahwa itu perbuatan suaminya.


Eldar langsung mengunci pintu kamar dan mencium istrinya dengan penuh kerinduan.


"Mas, sudah. Aku harus kembali." ujar Neva setelah ciuman mereka terlepas.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah selesai datang bulannya?"


"Iya. Kenapa?" tanya Neva.


Eldar meraih tangan Neva dan meletakkannya di atas juniornya. Mata Neva melotot saat merasakan bagaimana kerasnya bagian itu.


"Kamu gila, mas."


"Ayolah sayang. 15 menit saja. Aku sudah 6 hari kan tidak menyentuhmu." rengek Eldar.


"Nanti kita ketahuan, mas."


"Nggak. Ini kamar aku. Mereka kan sedang sibuk makan." Eldar langsung menurunkan resleting celananya. Neva semakin panik. Jujur saja, dia juga ingin. Namun bukankah ini sangat beresiko?


"Mas, malam ini kamu pulang kan?"


"Ev, apa kamu lupa. Malam ini aku dan Rangga harus ke Batam karena besok pagi ada rapat penting di sana."


Neva bingung. Namun ia juga sayang melihat Eldar yang kelihatan butuh dibelai. Dan akhirnya percintaan panas itu pun terjadi. Janji Eldar yang katanya hanya 15 menit menjadi 50 menit dengan permainan dua ronde. Neva tak tahu bagaimana kacaunya dandanan ia kini. Untung saja ia tak menyanggul rambutnya.


Ponsel Eldar berbunyi ketika ia mencapai puncaknya yang kedua. Masih dengan napasnya yang terengah-engah, Eldar menjawab panggilan ke-10 dari Kintan.


"Mas, kamu di mana sih? Para tamu sudah mau pulang." tanya Kintan.


"Kok suara kamu kayak orang yang baru saja lari jauh sih?"


"Masa sih? Aku sedang marah dengan salah satu anak buahku. Mungkin terbawa emosi. Ya sudah, kamu tunggu saja di bawa."


"Memangnya kamu di mana El? Aku ada di depan kamarmu."


"Aku ada di luar kok. Tunggu dibawa saja." Eldar langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Ada Kintan di luar." kata Eldar. Neva yang masih berbaring segera bangun dengan wajah pucat.


"Tenang saja. Pintunya aku kunci dan kamar ini kedap suara."


Neva pun meraih pakaiannya dan segera ke kamar mandi. Ia perlu mencuci bagian khususnya saja untuk menghilangkan bau pandan yang bisa saja tercium orang.


Eldar keluar kamar lebih dulu setelah memastikan kalau Neva sudah selesai memakai kembali gaunnya yang sedikit kusut.


"I love you " kata Eldar lalu keluar kamar. Neva menyisir rambutnya. Ia melihat lipstik nya yang agak pudar. Sekalipun ia memakai lipstick yang anti luntur namun cara Eldar mencium bibirnya sanggup membuat lipstik apa saja akan pudar.


Dengan jantung yang berdetak cepat, Neva pun keluar kamar setelah memastikan bagian lorong nya aman. Neva turun ikut tangga depan sementara Eldar turun lewat tangga belakang.

__ADS_1


"Lho nona, baru selesai dari toilet?" Bi Ning kembali berpapasan dengan Neva.


"Perutku sakit, bi. Sampai 4 kali bolak balik tadi."


"Pantas saja wajah non kelihatan pucat. Bibi buatkan teh jahe?"


"Nggak perlu, bi. Sebentar lagi kan mau pulang." Neva segera kembali ke ruang depan.


"Kak, dari mana sih? Semua kru sibuk mencari kakak." Asti langsung mendekati Neva saat melihat gadis itu.


"Maaf, perutku sakit." Neva pura-pura memegang perutnya. Ia melihat Eldar yang sedang menyalami para tamu yang akan pulang. Kintan nampak bergelut manja di lengan Eldar seakan mau menunjukan pada semua orang kalau Eldar adalah miliknya.


Saat para tamu sudah pulang semuanya, Neva pun langsung menelepon pihak katering untuk membereskan sisa makanan yang ada. Tim yang lain pun segera memasukan beberapa properti milik perusahaan yang dipakai untuk menghiasi rumah ini. Karena Nyonya Elif ingin besok pagi rumahnya sudah rapi.


Neva yang sedang bekerja melihat sekilas Rangga dan Eldar yang nampak sudah siap untuk pergi. Eldar sudah mengganti baju Koko nya dengan celana jeans dan kaos lengan panjang. Sopir sudah menarik koper Eldar dan memasukannya ke dalam mobil.


Ponsel Neva bergetar. Ada pesan masuk dari Eldar.


Sayang, jaga kesehatan ya? Aku pergi hanya dua hari. Jika aku kembali, kita akan pergi liburan ke pulau seribu. Itu masa subur mu kan? Terima kasih untuk yang tadi. Walaupun itu bercinta tercepat yang pernah kita berdua lalui, namun aku sangat puas.


Neva tersenyum membaca pesan Eldar. Ia melihat suaminya yang nampak sedang berbicara dengan Kintan.


Kamu juga hati-hati di sana, mas. Aku akan menunggu masa liburan kita dengan senang hati. Love you too.


Eldar yang sudah selesai berbicara dengan Kintan segera melihat ponselnya. Selesai membaca pesan Neva, ia melirik sekilas ke arah istrinya itu sambil mengedipkan mata kirinya. Rangga yang melihat itu menahan senyum karena melihat kenekatan pasangan itu.


Eldar masuk ke dalam mobil setelah Kintan mengejarnya karena ingin minta dipeluk. Neva pun fokus kembali ke pekerjaannya.


Saat ia akan pulang, terlihat bibi Ning turun dari lantai dua sambil membawa seprei.


"Kamar siapa yang bibi ganti sepertinya? Bukankah kemarin baru saja diganti semuanya?" tanya Elif yang berdiri bersisian dengan Kintan.


"Seprei di kamar tuan Eldar. Tadi saat bibi mau mengambil baju kotor di kamar tuan, tempat tidurnya agak berantakan. Makanya bibi langsung membukanya saja. Kayak bau gitu, Nyonya."


"Bau?" Elif menciumi seprei yang ada di tangan bibi. Ia terkejut. Kok kayak bau pandan? Apakah Eldar main sama Kintan? Tapi bukankah Kintan tadi selalu bersama aku?


"Ya sudah. Bawa saja ke ruang laundry."


"Ada apa, ma?" tanya Kintan.


"Nggak ada apa-apa."


Neva menarik napas panjang. Ia hampir pingsan saat mendengar drama seprei yang bau itu. Eldar....Eldar...! Awas kamu ya!

__ADS_1


__ADS_2