TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Diikuti


__ADS_3

"Neva, kayaknya ada suamimu di depan. Eh, maksudnya mantan suami." Kata Lorry sambil menahan tawa. Entah mengapa ia sangat senang melihat tangan kanannya ini menjadi janda.


"Ngapain dia?" tanya Neva bingung. Hari ini memang Neva sengaja lembur karena dua hari lagi ada acara pernikahan yang harus ditanganinya.


"Nggak tahu. Suruh saja satpam usir ya?"


"Jangan, Bu. Biar aku saja yang menemuinya." Neva segera keluar dari ruangannya. Ia melihat Genald yang nampak kacau sedang di tahan di pos satpam.


"Ada apa, mas?" tanya Neva berusaha tenang. Di lihat dari wajahnya yang merah, Neva tahu kalau Genald sudah minum.


"Neva, sayang, jangan biarkan aku seperti ini. Ayo kembali bersama." Genald berusaha memeluk Neva namun perempuan itu menghindar.


"Mas, bukankah kita sudah resmi bercerai? Jadi sebaiknya kita jangan saling bertemu lagi."


"Nggak, aku akan mendapatkan kamu lagi bagaimana pun caranya." ujar Genald sedikit berteriak karena dua orang satpam menyeretnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu harus kuat, sayang. Jangan terpengaruh dengan mulut manis Genald. Begitulah laki-laki, saat sudah merasa kalah baru bilang nggak bisa hidup tanpa kita. Dasar mulut buaya!" umpat Lorry sambil memegang tangan Neva. Pengalamanya di masa lalu ingin dia bagikan pada karyawan terbaiknya itu.


"Terima kasih, Bu."


"Sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Besok pekerjaan kita sangat banyak."


"Ok." Neva segera ke dalam untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. Ia pun segera pergi meninggalkan kantornya.


Dalam perjalanan, Neva melihat kalau ada motor yang sepertinya sejak tadi mengikutinya. Neva mencoba membelokkan motornya ke sembarangan tempat, tetap saja motor itu mengikutinya. Neva mencoba masuk ke tempat pengisian bensin, saat ia keluar lagi, motor itu tetap mengikutinya.


Rasa panik dan takut mulai membuat Neva asal masuk ke satu lorong ke lorong lain sampai akhirnya Neva tak tahu lagi di daerah mana ia kini. Makam pun semakin larut. Neva meraih ponselnya sambil sesekali menatap jalan di depannya. Entah mengapa ia langsung menelepon Eldar.


"Hallo, Ev. Ada apa?" tanya Eldar.


"Eldar, tolong aku Eldar. Seseorang mengejar ku dengan motor. Sepertinya ia bermaksud jahat. Aku takut...., aku melihat beberapa kali orang itu berusaha menembak ku."


"Tenang, Ev. Kamu ada di mana?"


"Aku nggak tahu. Aku sudah asal jalan saja ini."


"Ev ..., tetap konsentrasi menyetir. Buka google map dan cari pos polisi terdekat. Aku berusaha menemukan dimana signal GPS ponsel mu. Ok?"


"Baik, El." Neva pun bergegas membuka google map dan mencari letak pos polisi terdekat. Terlalu fokus dengan ponselnya, Neva tak menyadari ada lubang di jalan itu. Tak sempat menghindar, ban mobil Neva masuk ke lubang itu membuat Neva kehilangan keseimbangan dan langsung menginjak rem mobilnya mendadak sehingga mesinnya langsung mati. Karena tak memakai sabuk pengaman kepala Neva terbentur pada stir mobilnya. Untung saja Neva tak hilang kesadaran. Ia langsung menyalahkan kembali mesin mobilnya, tepat di saat pengendara motor itu turun dari motornya. Dengan cepat Neva melesat pergi dan akhirnya ia bisa menemukan sebuah pos polisi.


***********


Kintan yang sudah tiba lebih dulu di sebuah restoran nampak tersenyum bahagia. Ia sengaja datang lebih awal karena dia ingin menjalankan rencananya untuk menjebak Eldar lagi malam ini dengan obat perangsang itu.


Tadi, Eldar mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan. Ia juga meminta Kintan segera memesan makanan jika sudah tiba di sana.


Kintan pun memesan makanan kesukaan Eldar. Restoran ini memang restoran favorit cowok itu jadi Kintan sudah hafal apa saja makanan kesukaan cowok itu. Ia juga memesan minuman kesukaan Eldar. Di minuman itulah Kintan akan mencampur obat yang akan menjebak Eldar lagi dalam pusaran gairah. Kintan tersenyum saat membayangkan itu. Ini adalah masa suburnya. Dan ia berharap benih Eldar akan tumbuh subur di sana nanti.


*********


Saat melihat Eldar yang memasuki pos polisi itu, Neva segera berlari dan memeluk Eldar sambil menangis.


"Tenang, Ev. Aku sudah di sini." Eldar melepaskan pelukannya, ia menatap dahi Neva yang diperban. "Apakah ini sakit?" tanya Eldar.


"Hanya benturan kecil karena aku tadi tak mengunakan sabuk pengaman."

__ADS_1


Eldar pun segera menemui polisi yang ada. Neva sudah membuat laporan tentang ciri-ciri pria yang mengikutinya serta plat nomor motornya. Untung saja kamera yang ada di bagian belakang mobil itu mendapatkan gambar motor itu.


"Kami akan kabari saat sudah mendapatkan identitas pemilik motor itu." kata pak polisi.


"Terima kasih. Boleh saya mengajak istri saya untuk pulang?" tanya Eldar sambil memeluk pinggang Neva.


"Ya."


Neva sebenarnya agak terkejut saat Eldar menyebutnya sebagai istrinya. Namun perempuan itu masih sock dan terlalu malas untuk berdebat dengan Eldar.


"Rangga, sebaiknya kamu pulang membawa mobilku dan aku akan pulang dengan membawa mobil Neva." kata Eldar.


"Baik, tuan." kata Rangga. "Tapi bagaimana dengan makan malamnya?"


Eldar terkejut saat menyadari bahwa malam ini ia ada janjian makan malam dengan Kintan. Ia ingin mengakhiri hubungan mereka.


"Kamu telepon Kintan, katakan saja kalau aku ada tamu yang tak bisa ku tolak."


"Tapi tuan ..."


"Lakukan saja. Aku tak mungkin meninggalkan Neva saat ini." kata Eldar lalu segera masuk ke mobil Neva dimana perempuan itu sudah lebih dulu masuk dan duduk di kursi penumpang sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"El, aku nggak mau pulang ke apartemen." Kata Neva saat mobil mulai berjalan.


"Kamu mau kemana, Ev?"


"Kemana saja yang penting nggak ke apartemen. Aku justru takut kalau ada penjahat juga di sana."


"Nanti aku akan menjagamu di sana, Ev. Kamu tenang saja."


"Kakau begitu kita ke rumah Rangga."


"Rumah Rangga?"


"Iya. Rangga punya rumah tak jauh dari sini. Sebentar aku menelponnya untuk meminta kunci." Eldar pun menghubungi Rangga. Pria itu mengatakan kalau kunci pagarnya menggunakan password demikian juga dengan pintu masuk. Rangga memang jarang datang ke rumahnya itu sehingga ia tak memiliki kunci untuk memindahkan dia datang kapan saja ke sana.


Neva kagum melihat rumah Rangga yang ada di salah satu kawasan elit ini. Rupanya ini rumah warisan orang tuanya. Walaupun Rangga jarang datang ke sini namun rumah ini terlihat bersih dan rapi.


Eldar langsung mengantar Neva ke kamar tamu. Karena pengaruh obat yang Neva minum, Perempuan itu langsung tertidur begitu ia tiba di kamar.


"Jangan tinggalin aku, El." Kata Neva sebelum benar-benar terlelap.


"Tidak akan pernah, sayang. Aku KN selalu menjagamu." kata Eldar sambil mengusap kepala Neva. Rasa cintanya pada gadis ini membuat Eldar sanggup meninggalkan apa saja untuk bisa bersama Neva.


**********


"Kintan, kamu kenapa?" tanya mama Kintan yang bernama Dewi. Ia kaget melihat kamar anaknya yang sudah berantakan.


"Aku benci Eldar, ma. Aku benci!" teriak Kintan sambil melemparkan apa saja yang ada di dekatnya. Meja riasnya pun sudah kacau karena alat make up nya yang berserakan di sana. Bahkan ada beberapa yang jatuh ke lantai.


"Kenapa memangnya dengan Eldar? Bukankah kalian ada janji makan malam bersama?"


"Eldar membatalkannya di saat aku sudah berada di sana, ma. Dia ada meeting mendadak. Namun aku tak percaya. Dia pasti sedang bersama seseorang sekarang."


Dewi memeluk putrinya dan mengajak Kintan keluar kamar. Keduanya duduk di ruang tamu yang ada di lantai dua ini. "Sayang, kamu harus tenang. Kalau tidak, semua usaha kamu untuk memiliki Eldar akan gagal. Kamu kan sendiri tahu kalau Eldar memang sangat sibuk."

__ADS_1


"Aku akan mencari tahu kebenaran tentang perubahan sikap Eldar, ma. Jika benar karena seorang perempuan, aku akan membunuhnya. Aku bersumpah, ma."


"Nak, kamu kok kayak gini sih?"


"Aku mencintai Eldar. Aku nggak mau dia bersama gadis lain."


Dewi memeluk putrinya kembali. Kintan menangis dalam pelukan Dewi. Namun tak lama kemudian, Kintan pun berdiri. "Aku mau pergi, ma."


"Mau kemana, nak?"


"Mau ke apartemen Eldar."


"Untuk apa ke sana?"


"Aku akan menunggunya di sana."


Kintan bertekad akan bicara dengan Eldar malam ini. Saat ia tiba di tempat parkir, ia melihat kalau mobil Eldar ada di sana. Apakah cowok itu sudah selesai meeting?


Berulang kali Kintan menelpon Eldar, namun ponsel cowok itu tak aktif. Saat ia menghubungi Rangga, asisten Eldar itu pun tak menjawab panggilannya. Kintan menjadi kesal sendiri. Ia pun menelpon seseorang, lalu meninggalkan tempat itu.


*********


Perlahan Neva membuka matanya. Ia tersenyum melihat Eldar yang ada di depannya. Pria itu sudah bangun dan sedang tidur miring menghadap ke arahnya sambil bertumpuh pada satu tangannya.


"Good morning!" sapa Eldar lalu membelai wajah Neva.


"Kamu sudah dari tadi bangun?" tanya Neva.


"Satu jam yang lalu. Aku suka menatap kamu saat sedang tidur."


Neva tersipu. Perlahan ia bangun dan merapikan rambutnya.


"El, aku harus pergi. Banyak pekerjaan hari ini."


"Kamu kan sedang sakit, Ev."


"Kepalaku sudah nggak sakit lagi." Neva memegang dahinya yang diperban.


"Kalau gitu kita sarapan saja ya? Aku meminta Rangga untuk membawakan sarapan untuk kita dan baju ganti untukmu."


"Aku cuci muka dulu."


Eldar mengangguk. Ia membiarkan Neva masuk ke kamar mandi, sedangkan dia segera keluar menuju ke ruang makan.


"Kamu sudah datang?" Eldar senang melihat Rangga sudah ada.


"Sudah tuan. Ini sarapannya."


Bel pintu rumah Rangga berbunyi. Ia dan Eldar kaget saat merasa tak sedang menunggu seseorang. Rangga ingat kalau ia belum sempat menutup pintu pagarnya kembali.


"Rangga, mana Eldar? Mobil siapa yang ada di luar?" tanya Kintan yang segera mendorong tubuh Rangga sehingga ia bisa masuk ke dalam.


Rangga menjadi tegang. Apakah akan terjadi perang dunia ke-3 pagi ini?????


*********

__ADS_1


Bagaimana Kintan melihat siapa yang bersama Eldar?


__ADS_2