
"Ev, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Eldar sambil memegang bahu Neva.
"Iya." Jawab Neva. Ia kemudian menarik nafas lega.
"Hei, Eldar! Apa-apaan kamu mencampuri urusan rumah tangga kami? Dan apa juga yang kamu lakukan di sini?" tanya Genald merasa marah karena Eldar mendorongnya sampai jatuh.
"Jangan kasar pada wanita. Itulah mengapa aku mendorongmu." kata Eldar tenang sambil menahan tangannya untuk tak memukul Genald.
"Pergilah, Eldar. Aku nggak ada urusan denganmu." usir Genald.
"Masuklah, Ev." kata Genald lalu menggesek kartu miliknya. Pintu terbuka.
"Neva.....!" Genald akan mengejarnya, namun Eldar kembali menahannya. Tentu saja Genald kalah kuat dengan Eldar karena tubuh Eldar jauh lebih kuat dan kekar.
"Kamu mau cari gara-gara dengan aku?" Genald semakin emosi apalagi saat melihat Neva yang sudah masuk. Ia mengeluarkan kartunya dan bermaksud masuk sendiri namun Genald segera merebut kartu itu dan mematahkannya menjadi 3 bagian.
"Brengsek kamu, Eldar!" Genald dengan cepat melayangkan tinjunya ke wajah Eldar namun dengan cepat Eldar menangkis pukulan itu sehingga Genald akhirnya kembali terjatuh.
"Apa hubungan mu dengan istri aku? Kalian selingkuh ya?" teriak Genald dengan nada cemburu. Ia sadar kekayaan keluarga Eldar jauh di atas keluarganya. Wajah Eldar yang masih keturunan Turki juga tak diragukan ketampanannya bahkan tubuh cowok itu sangat atletis. Wanita mana yang tak akan tertarik? Bisa saja kan Neva juga tertarik pada Eldar?
Memikirkan itu, hati Genald menjadi panas. Ia tak rela jika Neva jatuh hati pada cowok setampan Eldar.
"Neva tak seburuk dirimu yang suka selingkuh. Dia wanita baik-baik. Namun aku katakan padamu lelaki tukang selingkuh, aku akan mengejar Neva jika dia sudah resmi menjadi janda." kata Eldar sambil tersenyum mengejek.
"Aku tak akan pernah bercerai dari Neva. Kamu jangan bermimpi untuk mendapatkannya." teriak Genald dengan wajah merah padam.
"Kita lihat saja." ujar Eldar lalu menggesek kembali kartunya. Pintu itu terbuka dan Eldar masuk meninggalkan Genald yang nampak emosi karena ia tak berhasil masuk sedangkan kartunya sudah rusak.
Saat Eldar melangkah menuju lift, ia kaget melihat Neva masih ada di lantai satu.
"Kok masih di sini, Ev?" tanya Eldar lembut.
"Mana mas Genald?"
"Dia sudah pergi."
Neva menarik napas lega. Ia pun menekan tombol lift. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk bersama.
"Kamu sudah makan?" tanya Eldar.
"Belum. Rencananya aku mau masak. Malas makan makanan dari luar."
__ADS_1
"Aku boleh ikut masak, nggak?" tanya Eldar penuh harap.
"El....." Neva menatap cowok itu dengan wajah penuh permohonan agar Eldar menjauhinya.
"Aku nggak akan macam-macam. Hanya ingin masak saja. Jika kamu khawatir aku ke unit mu, kamu saja yang datang ke tempatku."
"Tapi aku ....!"
"Please....." Mohon Eldar dengan mata yang berbinar. Entah mengapa Neva tak bisa menolaknya. Ia pun mengangguk. "Aku saja yang ke tempatmu."
"Yes ...!"
Hati Neva ikut bahagia melihat Eldar yang nampak sangat senang.
"Aku mandi dan ganti baju dulu ya...." Ujar Neva sebelum masuk ke dalam unit nya.
**********
Satu jam kemudian keduanya sudah berada di apartemen Eldar dan sedang memasak bersama di dapur. Eldar sudah mengirim pesan pada Rangga agar cowok itu tak datang agar tak menganggu kesenangannya bersama Neva.
"Tak ada yang membuat aku bahagia, saat melihat kamu tersenyum seperti ini, Ev. Jadi ingat masa-masa indah kita dulu di Sidney. Setiap kali aku pulang dari tempat kerja, kita pasti akan memasak bersama." ujar Eldar membuat Neva yang sementara mencuci sayur menatap cowok itu sebentar lalu kembali pada aktivitas nya.
Terlalu sibuk dengan masalahnya bersama Genald, Neva bahkan lupa dengan perubahan sikap Eldar padanya.
"El, mengapa kamu tak pernah lagi menanyakan masalah anak itu?" tanya Neva.
Eldar menatap Neva sambil tersenyum. "Aku tahu kalau aku yang salah. Makanya aku tak mau lagi mengusik tentang hal itu."
"Oh...." Neva sebenarnya masih penasaran. Namun ia tak berani bertanya lagi. "Aow ....!" Neva memegang jari telunjuknya yang terpotong karena ia keasyikan melamun.
"Sayang, kamu kenapa?" panggilan sayang itu secara spontan keluar dari mulut Eldar. Neva terkejut mendengarnya namun Eldar terlihat biasa saja. Ia dengan lembut meraih tangan Neva lalu dengan cepat memasukan jari telunjuk Neva ke dalam mulutnya.
Mata Neva melotot melihat apa yang Eldar lakukan. Masih seperti masa lalu, Eldar memang akan melakukan hal itu setiap kali tangan Neva terluka. Dan jika Eldar melakukan itu, mereka akan berakhir di tempat tidur. Meninggalkan masakan mereka berdua.
Ada desiran aneh dalam diri Neva merasakan hangatnya jari telunjuknya yang ada di mulut Eldar. Neva juga perempuan biasa yang merindukan sentuhan yang belaian yang lembut. Sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan. Bangkit dan menggoda tubuhnya untuk merasakan sesuatu yang lebih. Namun Neva buru-buru menguasai dirinya. Ia tak mau sampai napsu menguasai mereka. Ia juga dapat melihat wajah Eldar yang memerah, menandakan cowok itu juga mulai terbakar gairah.
"El, jariku sudah membaik." Neva menarik perlahan jarinya. Tubuhnya memang terlihat tak rela namun Neva masih cukup waras untuk tak tenggelam dalam bayangan masa lalu. Ia kemudian mencuci tangannya
"Ada plester obat?" tanya Neva.
Eldar mengangguk. Ia membuka kotak obat yang ada di dinding ruang makan. Setelah menemukan plester obat, Eldar segera membawanya kepada Neva. Ia bahkan memakaikan plester obat itu di jari Neva yang terluka.
__ADS_1
"Kamu duduk saja. Nanti aku yang lanjutkan." kata Eldar.
"El, lukaku hanya kecil. Biar aku bantu."
"Nggak. Kamu atur meja makan saja dan siapkan teh hangat untuk kita."
Neva akhirnya mengangguk setuju. Ia pun melakukan apa yang Eldar kehendaki.
Sampai akhirnya, keduanya pun makan bersama. Selesai makan, Neva langsung permisi untuk kembali ke tempatnya, namun Eldar menghadangnya di depan pintu. Cowok itu menyandarkan punggungnya.
"Ev, jika kamu sudah resmi bercerai, dan masa Iddah mu sudah selesai, ayo kita menikah." kata Eldar.
"El, aku tak mau membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Kintan itu gadis baik. Bagaimana mungkin kita akan menyakitinya?"
"Apakah tidak lebih jahat menikahinya tanpa mencintainya?"
"El, kamu pasti akan bisa mencintai Kintan.Dia cantik, lembut dan calon istri yang ideal."
Eldar meraih kedua tangan Neva. "Ev, aku mencintaimu. Dan itu tak akan berubah dengan hadirnya seribu Kintan dalam hidupku."
"El, sudah aku bilang kan, sebaiknya kita saling berjauhan. Tak baik jika kita selalu dekat seperti ingin."
Eldar membelai wajah Neva. "Memangnya kamu tak ingin lagi bersama ku, Ev? Kita perlu bersama untuk menjadi keluarga yang utuh."
"Maksud kamu apa, El?"
Eldar menarik Neva dan memeluknya erat. "Ev, aku janji akan menebus semua yang hilang diantara kita. Kau tak akan lagi menderita dan harus sembunyi-sembunyi untuk menunjukan kasih sayang mu."
"El, maksud kamu apa?" tanya Neva dengan pertanyaan yang sama.
"Ev, kamu sudah yatim piatu. Aku ingin menjadi tempat sandaran mu. Aku tak rela melihat kamu harus bersama dengan pria yang lain lagi."
Neva melepaskan pelukannya. "Sebaiknya aku pulang, El." Neva membuka pintu. Jantungnya langsung berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Kintan?"
Eldar menatap tajam ke arah Rangga yang berdiri di belakang Kintan.
*********
Bagaimana Kintan bisa masuk?
__ADS_1