TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Makna Kehidupan


__ADS_3

Mata Eldar memandang istrinya yang sedang duduk bersama Genald di sebuah bangku kayu yang ada di dekat gerobak martabak itu.


Ada sedikit rasa cemburu saat Neva mendatanginya dan meminta ijin berbicara dengan Genald.


Namun Eldar percaya kalau Neva tak ada hari sedikit pun pada Genald. Neva hanya peduli karena keluarga Genald sangat baik padanya.


"Sejak kapan jualan martabak?" tanya Neva memulai pembicaraan.


"Sudah 3 bulan ini." jawab Genald sedikit ada rasa malu. Tak ada lagi Genald yang arogan, sombong dan modis selaku anak orang kaya. Kini hanya Genald yang sederha, menggunakan celana jeans lusuh dan kaos oblong hitam.


"Kenapa nggak pulang ke rumah?"


Genald menggeleng. "Aku malu, Nev. Dulu, aku menyia-nyiakan kesempatan hidup yang baik saat bersamamu. Aku sungguh bodoh."


"Masa lalu adalah sebuah pelajaran, mas."


Genald menatap Neva. "Kamu masih memanggil aku dengan sebutan, mas?"


"Mengapa tidak? Mas Genald sekarang sudah menjadi kakak bagiku."


"Terima kasih. Aku pikir kalau kamu akan membenciku."


"Aku sudah memaafkan kamu, mas. Oh ya, di mana mobil mas?"


"Seperti yang kamu pernah usulkan, aku menjualnya. Aku menyewa sebuah rumah susun, aku beli motor bekas dan sisanya aku beli gerobak ini. Awalnya, tetanggaku yang ada di rumah susun menawarkan gerobaknya karena ia ingin pulang kampung. Dia juga mengajari aku cara membuat martabak. Alhamdulilah. Hasilnya lumayan. Setiap malam untungnya bisa sampai 300 ribu." kata Genald dengan bangganya.


Hati Neva sedih mendengarnya. Apa arti uang 300 ribu bagi Genald, dulu? Rasanya ia akan menghabiskan 3 juta dalam semalam saja. Namun kini, ia jadi mengerti arti mencari uang sendiri.


"Bulan yang lalu, aku pergi ke apartemen mu, aku rindu denganmu. Namun sayangnya, aku melihat kamu yang baru saja turun dari mobil bersama pengusaha kaya Eldar Daksiano. Aku pulang dengan rasa menyesal. Namun apalah daya? Aku yang sudah mengecewakan mu." Genald tertunduk dengan wajah yang penuh rasa penyesalan.


"Mas, aku sudah menikah dengan mas Eldar 6 bulan yang lalu. Dia adalah lelaki pertama dalam hidupku. Kami sebenarnya memiliki anak yang selama ini aku sembunyikan keberadaannya."


Genald terkejut mendengarnya. "Jadi, dia pacarmu saat kamu ada di Sidney?"


Neva mengangguk. "Mas Eldar sudah batal menikah dengan tunangannya."


"Selamat ya? Kamu berhak bahagia dengan orang yang lebih baik dari aku. Sungguh, aku menyesal dulu menyia-nyiakan kamu."


Neva menepuk bahu Genald. "Allah pasti akan memberikan seseorang yang terbaik bagi kamu." Neva berdiri. "Aku pergi dulu, ya? Anakku sudah tidur. Kasihan kelamaan di jok belakang. Aku doakan dagangannya laris manis. Nanti kapan-kapan aku datang dan membeli lagi. Selamat malam." pamit Neva lalu segera menuju ke mobil di mana sang suami masih setia menunggunya dengan senyum manis.


"Mas, maaf ya agak lama."


Eldar menggeleng. "Nggak masalah. Aku tahu kamu pasti penasaran dengan kehidupan Genald. Kenapa nggak cerita sama Tante Tirta saja?"

__ADS_1


"Mas Genald nggak mau. Dia sepertinya ingin menikmati hidupnya yang sekarang. Aku pikir, biar saja seperti itu. Suatu saat, aku akan ceritakan pada mama Tirta."


Eldar menjalankan kembali mobilnya. Ia menggenggam tangan Neva dan menciumnya mesra. Neva tersenyum bahagia. Ia tahu kalau hidup telah memberikan pelajaran berharga bagi dirinya dan Genald sehingga selalu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Harta memang gak selamanya menjanjikan kenyaman. Genald justru terlihat lebih gemuk saat menjadi tukang jual martabak.


***********


Dona yang baru saja keluar dari kamar mandi, terkejut melihat Rangga yang sudah berada di kamar.


"Kamu masuk dari mana?"


"Papa Carlos memberikan kunci reserep. Dia sayang melihat aku yang duduk di depan pintu."


Dona berdecak kesal. Ia lupa kalau kunci reserep ada di kamar tuan Carlos.


"Sayang .....!" Rangga mendekat.


"Jangan mendekat!" Dona mengangkat tangannya di udara.


"Dona...., apakah selamanya kita akan terus hidup begini tanpa ikatan?" tanya Rangga.


"Di awal kita memulai hubungan, bukankah kita sudah sepakat? Kamu setuju kalau kita hanya akan seperti ini. Sehingga jika salah satu diantara kita ada yang tertarik dengan orang lain, tak akan saling menyakiti."


Rangga mendekat sekalipun Dona sudah memperingatinya untuk menjauh. "Aku mencintai kamu, Na. Sudaj berulang kali aku katakan kalau cintaku padamu sangat tulus. Aku bersumpah demi apapun juga kalau aku nggak akan pernah mengkhianati cintamu."


"Tapi tidak dengan aku. Aku sudah pernah merasakan bagaimana dulu gagal, disakiti, dikhianati. Aku nggak akan pernah melakukan itu padamu." Rangga meraih tangan Dona. Namun dengan cepat Dona menarik tangannya. Ia duduk di tepi ranjang dengan wajah yang ditekuk sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Baiklah, kalau memang kamu nggak mau menerima pernikahan kita, besok aku akan langsung mengurus perceraiannya di pengadilan. Aku nggak mau punya hubungan tanpa status lagi. Aku akan mencari perempuan lain yang siap untuk menjadi pendampingku selamanya. Selamat tinggal." Rangga langsung melangkah meninggalkan kamar. Dona terkejut mendengar perkataan Rangga. Haruskah ia kehilangan pria baik yang sebenarnya sudah mencuri hatinya itu? Rangga baik, tampan dan juga sangat hangat di ranjang.


"Rangga.....!" panggil Dona menyusul Rangga yang sudah membuka pintu mobilnya.


"Ada apa?" tanya Rangga terlihat kurang bersemangat.


"Kamu mau ke mana?"


"Pulang ke kampung. Mau kasih tahu ayah dan ibu kalau kita akan bercerai."


"Kamu Setega itu mau meninggalkan aku?"


"Kamu kan nggak siap menerima aku sebagai suamimu. Mau bagaimana lagi?"


Dona langsung mendekat dan memeluk Rangga dengan erat. "Aku mencintai kamu, Rangga. Jangan tinggalkan aku. Ayo kita bangun hubungan rumah tangga ini dengan saling jujur.m dan setia. Buktikan padaku bahwa trauma ku tentang pernikahan itu akan berakhir dengan perceraian nggak akan pernah terjadi pada hubungan kita."


Rangga melepaskan pelukan Dona. Ia menghapus air mata di pipi mulus istrinya itu. "Aku akan buktikan padamu kalau cinta kita akan abadi sampai maut yang memisahkan kita." lalu ia menunduk dan mencium bibir tipis istrinya itu. Dona tersenyum bahagia. Keduanya langsung masuk ke kamar untuk memulai malam pengantin mereka yang indah.

__ADS_1


***********


Neva berdiri di depan rumah yang dulu pernah menjadi mertuanya. Ia akan berterus terang tentang semua yang terjadi termasuk juga pernikahannya dengan Eldar.


"Neva sayang......!" Tirta langsung memeluk Neva begitu melihat kedatangan mantan menantunya itu.


"Apa kabar, ma?" tanya Neva.


"Alhamdulillah."


"Bagaimana perjalanan liburan ke Turki?"


"Menyenangkan. Ekel apa kabarnya?"


"Baik, ma. Sekarang kamu sudah tinggal bersama. Ekel dan juga papanya."


"Lelaki yang meninggalkan kamu di Sidney?"


Neva menceritakan semuanya mulai dari kecelakaan yang dialami Eldar.


"Jadi Eldar Daksiano itu adalah ayah Ekel? Kenapa menikahnya nggak bilang-bilang ke mama?"


"Waktu itu, kamu belum tahu kebusukan Kintan, jadi kami sembunyi-sembunyi dulu."


"Allah itu Maha Adil. Ia akhirnya bisa mempersatukan kalian berdua karena pada dasarnya kalian saling mencintai. Berbahagialah, nak. Sesekaki ajak suami dan anakmu datang makan malam di sini. Mama sudah rindu dengan Ekel."


"Kami mau buat syukuran rumah baru, ma. Sekalian mau memperkenalkan pada semua orang tentang keluarga kami. Papa dan mama datang ya?"


Tirta mengangguk. "Akan mama sampaikan pada papa jika papa Arya pulang nanti."


Saat Neva akan pulang, ia ingat sesuatu. "Ma, aku ketemu dengan mas Genald."


"Jangan ceritakan apapun tentang anak itu."


"Mas Genald sudah jadi tukang jual martabak, ma."


"Apa?"


***********


Hallo semua....


menjelang episode akhir guys

__ADS_1


semoga kalian tetap suka ya ?


__ADS_2