TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Ketahuan


__ADS_3

Langkah Neva terhenti di depan kamarnya. Erdogan? Dimana ya aku pernah mendengar nama itu? Ah, semalam. Saat pelayanan itu mengatakan pada Elif kalau ada tamu yang mencari nya. Ada hubungan apa Elif dengan Erdogan? Juga ada hubungan apa Kintan dengan tamu di kamar 209 yang juga bernama Erdogan?


Neva membuka pintu kamarnya perlahan. Ia melihat kalau Carla masih tidur. Neva pun bergegas naik ke ranjangnya dan pura-pura menutup tubuhnya dengan selimut. Ia tidur membelakangi Carla. Namun ia belum memejamkan matanya. Rasa kantuknya hilang walaupun tubuhnya masih lelah. Entah mengapa Neva terus memikirkan lelaki bernama Erdogan itu. Aku harus menyelidikinya. Jika memang Kintan bermain di belakang mas Eldar, aku tak akan pernah setuju jika dia dinikahi suamiku!


**********


Jam 11 siang, Neva akhirnya terbangun. Carla sudah tak ada di kamarnya. Ia pun bergegas mandi dan bersiap untuk mengisi perutnya dulu karena ia memang sudah merasa lapar.


Jam makan pagi yang merupakan jatah dari hotel sudah selesai dan Neva ingin menikmati jajanan luar. Sebelum mandi ia sudah memesan lewat gofood, nasi ayam Padang dan es jeruk.


Celana jeans dan kaos putih Neva kenakan selesai mandi. Neva menatap tubuhnya ke cermin. Ia merasa bahwa berat badannya bertambah. Apakah karena aku sekarang merasa bahagia dengan mas Erdan?


Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkannya tergerai. Neva memang tak suka menggunakan hairdryer kecuali waktunya sudah mendesak. Ia meraih ponselnya yang berbunyi, menandakan bahwa pesannya sudah datang. Ia meraih tas punggungnya dan segera keluar kamar.


Langkah Neva terasa ringan menuju ke lobby hotel. Ia melihat abang ojol yang datang mengantarkan pesannya. "Makasi pak." ujar Neva dan kembali masuk ke dalam hotel. Ia ingin menuju ke bagian belakang hotel untuk melihat persiapan pesta taman sebentar malam.


Tamu malam ini dikhususkan teman-teman sekerja Gina dan suaminya. Walaupun ini pesta taman namun sistem keamanannya sangat terjaga. Makanya tak sembarang orang bisa masuk.


Setelah memeriksa persiapan sebentar, Neva pun mencari tempat duduk di salah satu gazebo dan menikmati sarapan pagi sekaligus makan siangnya.


"Boleh di bagi ayamnya?"


Neva menoleh dengan kaget. "Firat?"


Firat ikut masuk ke dalam gazebo dan duduk di depan Neva. "Makan pagi atau makan siang?"


"Sekalian saja karena ini sudah jam 11."


Firat terkekeh. "Neva, kamu sudah menikah?"


"Dari mana kamu tahu?" tanya Neva sambil menyeruput es jeruknya.


"Dari caramu bersikap padaku."


"Maksudnya? Aku pikir karena cincin ini."


Firat menatap Neva dengan intens. " Selama 2 hari ini aku mencoba mendekatimu. Aku pikir kamu tahu itu. Dan aku sangat senang bisa berbincang dengan kamu. Sekuat apapun aku mencoba menarik simpatimu, kamu terlihat biasa saja. Pada hal kamu bilang suka dengan cowok Turki. Kamu sangat menjaga wibawa mu sebagai wanita yang sudah terikat. Sungguh, aku suka caramu menempatkan dirimu saat bersama dengan lelaki lain. Ada nggak sih wanita di sini yang seperti kamu?"


Wajah Neva jadi tersipu mendapatkan pujian dari Firat. "Kamu jangan memuji aku setinggi langit."


"Aku nggak memuji. Hanya mengatakan kebenarannya saja. Aku yakin kalau Suami seseorang yang nggak pencemburu karena membiarkan kamu bekerja seperti ini. Ketemu dengan banyak orang sementara kamu orangnya sangat menarik."


"Dia sangat pencemburu. Bahkan bisa dikatakan kalau dia sangat posesif. Namun untungnya, dia sangat percaya padaku."

__ADS_1


Neva memang tahu kalau Firat tertarik padanya. Namun Neva bukan perempuan gampangan yang mudah tergoda dengan sembarang lelaki.


Dari atas balkon kamarnya yang tepat menghadap tempat pelaksanaan pesta, Eldar memperhatikan interaksi Neva dan Firat. Dadanya kembali bergemuruh melihat bagaimana akrabnya mereka tertawa bersama. Eldar percaya pada istrinya namun ia tetap saja tak mau istrinya di ganggu oleh lelaki lain.


"Mas.....!" Kintan menyusul Eldar ke balkon. Kintan memang sejak tadi ada di kamar Eldar. Dia mengantarkan sarapan Eldar ke kamar.


Kintan dengan manjanya memeluk Eldar dari belakang. Kebetulan secara tak sengaja Neva melihat ke arah balkon. Firat pun ikut melihat juga. "Itu Eldar kan? Kintan itu tunangannya ya? Tapi kok semalam aku lihat dia berciuman dengan seseorang di lantai dua."


Neva terkejut. "Benarkah?"


"Aku yakin kalau aku nggak salah lihat. Aku nggak tahu apakah lelaki itu Eldar atau bukan karena wajahnya tertutup dengan tubuh Kintan. Ah, sudahlah. Bukan urusan aku juga." Firat mengibas kan tangannya. Neva semakin penasaran. Ia kembali menatap ke arah balkon. Ternyata Eldar dan Kintan sudah tak ada.


**********


"DJ nya sudah ada? Jam setengah tujuh musik harus sudah diputar walaupun acaranya belum dimulai." Neva memberikan instruksi kepada teamnya.


Tempat pengantin untuk duduk pun sudah dihiasi bunga melati yang indah seperti keinginan Gina yang memang sangat menyukai bunga melati.


Neva dan teamnya menggunakan kemeja biru dan celana hitam. Masing-masing sudah siap di tempatnya. Masih ada 2 jam lagi sebelum acaranya di mulai.


"Mba, MC nya sudah ada. Dia mau berbicara dengan mba Neva." kata salah satu kru.


Setelah berbincang dengan para kru, Neva akan ke lantai dua untuk menemui manager hotel. Saat keluar dari lift, Neva melihat ada pria yang keluar dari kamar yang tadi pagi ada Kintan keluar dari sana juga. Pria itu pun berhenti sejenak dan menatap Neva dengan intens.


Mengapa wajahnya mirip ya? Tak mungkin kalau dia adalah mantan pacar Eldar. Bukankah Perempuan itu sudah melarikan diri dengan seorang diplomat? Laki-laki itu yang tak lain adalah Erdogan bertanya dalam hatinya.


Keduanya saling berpandangan. Neva memberikan senyuman tipis lalu segera masuk ke ruangan Manager hotel.


Setelah membicarakan beberapa hal, Neva pun segera kembali ke tempat acara. Namun sekilas ia melihat Erdogan yang nampak berbicara dengan Elif. Neva memperhatikan kedua orang itu yang nampak berbicara di sudut taman yang agak gelap. Jantung Neva rasanya seperti berhenti berdetak saat melihat Erdogan yang memeluk Elif dan keduanya berciuman dengan sangat mesra. Elif nampak mendorong dada Erdogan perlahan lalu celingukan sambil berusaha meyakinkan dirinya bahwa tak ada yang melihat perbuatan mereka.


Apakah itu pacarnya mama Elif? Memangnya sih mama Elif masih kelihatan cantik dan memiliki body aduhai. Tapi lelaki itu kayaknya jauh lebih muda.


Neva masih ingin sebenarnya melihat apa yang akan orang itu lakukan namun panggilan telepon dari Carla membuat dia harus segera ke lokasi pelaksanaan pesta.


**********


Acara berlangsung dengan sangat meriah. Neva melihat beberapa artis juga datang. Bahkan ada penyanyi dan beberapa orang muda yang terjun di dunia politik juga hadir.


Para tamu hotel yang tidak memiliki undangan, tidak diijinkan ada di area pesta.


Neva yang sedang berdiri sambil memperhatikan para kaum muda yang asyik tenggelam dengan musik yang diputar oleh DJ, dikejutkan oleh sentuhan seseorang di pinggangnya. "Sayang ....!"


Neva menoleh dengan kaget. "Mas, ya ampun, nanti ada yang lihat." Neva kaget luar biasa namun Eldar sudah menarik tangannya untuk masuk ke sebuah ruangan yang merupakan istirahat sebelum menuju ke toilet.

__ADS_1


"Mas, mana Kintan? Aku takut Kintan melihat kita."


"Masa bodoh dengan Kintan. Aku nggak tahu dia kemana. Aku hanya memandang istriku karena aku takut Firat akan menculiknya." Eldar memeluk Neva dan mencium leher istrinya itu.


"Mas ....!" Neva merasakan sensasi geli atas kenakalan suaminya itu.


"Kita ke kamar saja, yuk!"


"Pekerjaan ku belum selesai, mas."


"Kan ada anak buahmu." Eldar menatap jam tangannya. "Sekarang baru jam 9. Masih ada 3 jam lagi sebelum acara berakhir di pukul 12 tengah malam. Aku hanya meminta 1 jam saja." Eldar memandang Neva dengan wajah penuh permohonan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Mas, nanti ada yang mencari aku."


Eldar kembali memeluk Neva.


"Aku mau ....!" Langkah Gina terhenti saat melihat adegan di depannya.


Eldar dan Neva yang sedang berciuman secara refleks melepaskan diri dan menatap ke arah pintu masuk.


"Gina, aku juga mau ke toilet." Terdengar suara Kintan yang mendekat.


Gina menatap Neva dan Eldar lalu ia membalikan badannya. "Di sini penuh. Kita cari toilet yang lain saja."


"Masa sih penuh." Kintan semakin mendekat namun Gina segera berjalan ke arah Kintan.


"Kak, ke kamar ku saja sekalian aku mau ganti gaun. Nggak bebas mau bergoyang dengan gaun seperti ini."


Neva menatap Eldar. "Mas, bagaimana ini?"


Eldar menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Mungkin sebaiknya mereka tahu, Ev."


"Aku nggak mau, mas. Tunggulah sampai kamu dan Kintan menikah. Aku nggak mau dicap sebagai pelakor."


"Kamu tunggu saja. Aku akan bicara dengan Gina."


Eldar keluar lebih dulu dari ruang tunggu itu.


Neva pun ikut keluar 2 menit kemudian. Namun ia kembali pucat saat melihat Elif yang berdiri di sana sambil menatap Neva dengan pandangan curiga.


"Kenapa kamu dan Eldar bisa keluar dari ruangan yang sama?"


***********

__ADS_1


Akankah hubungan Eldar dan Neva akhirnya diketahui?


Berikan dukungan ya guys


__ADS_2