
Flash back
"Dona?"
Dona menoleh. Matanya langsung terbelalak melihat siapa lelaki yang ada di depannya. Tangannya dengan cepat menarik tubuh Ekel dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Mom, what's wrong?" tanya Ekel dengan nada protes karena coklat yang dipegangnya jatuh.
"Bad boy." bisik Dona membuat Ekel langsung menyembunyikan wajahnya di balik kaki Dona.
"I'm not a bad guy. I'm your mom's friend. Do you want chocolate again?" tanya Eldar dengan jantung yang berdetak sangat keras saat menyadari ada sesuatu yang sama di punggung tangan anak itu. Sebuah tanda lahir berwarna putih yang nampak samar, seperti yang ada di tangan kanan Eldar juga. Sebuah pertanyaan langsung muncul di kepala Eldar. Apakah Neva memberikan anak mereka pada Dona?
"Yes. Aku suka coklat."
Dona terkejut mendengar jawaban Ekel. Bukankah anak itu sangat sulit akrab dengan orang yang baru? Mengapa sekarang dia terlihat langsung akrab? Apakah ini yang dinamakan kalau darah lebih kental dari air?
"Wah, kamu bisa juga bahasa Indonesia?" Eldar terkejut mendengar anak itu bisa bahasa Indonesia.
"Karena sebenarnya aku tinggal di Indonesia." Jawab Ekel dengan wajah senang. Entah mengapa ia merasa kalau Eldar bukankah orang jahat seperti yang mama Dona katakan.
"Oh, ya?"
Dona kembali menarik tangan Ekel. "Sayang, kita pulang yuk!" ajak Dona.
"Uncle ini mau belikan coklat, mommy."
Dona bersikeras akan pergi namun Eldar menahan tangannya dan membisikan sesuatu ke telinga Dona. " I know that this is my son."
"Bu...bukan. ini adalah anakku." Dona berusaha menyangkal.
"Kalau begitu, mari kita buktikan dengan tes DNA sekarang juga. Jika terbukti kalau ini adalah anakku, maka aku akan langsung membawanya pergi."
"Eldar.....!" Dona panik. "Kamu lelaki jahat yang sudah meninggalkan Neva. Ia hampir mati saat melahirkan anak ini sendiri. Bagaimana mungkin kamu akan mengambil anak ini?" Dona berusaha berbicara pelan agar Ekel tak mendengar percakapan mereka.
"Aku kecelakaan, Dona. Dan saat aku kembali, Neva sudah menikah dengan seorang lelaki dari Filipina katanya."
"Kamu percaya?"
Eldar merasa ada yang tak beres. Saat Rangga mendekat, ia langsung mengajak mereka pergi ke toko untuk membeli coklat bagi Ekel, lalu Eldar pun bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Mendengar semua kisah hidup Neva dan Ekel, Eldar menjadi marah dengan dirinya sendiri. Ia kini tahu mengapa Neva sangat membencinya dan tak ingin memberitahukan tentang anaknya.
"Eldar, aku mohon padamu, biarkan Neva yang menceritakan sendiri tentang keberadaan Ekel. Aku nggak mau mau kalau Neva memarahiku." mohon Dona.
"Baiklah. Asalkan kamu jangan melarang aku jika ingin ketemu dengan Ekel." .
"Baiklah."
__ADS_1
Itulah awal mereka ketemu. Mereka bahkan pulang ke Jakarta bersama-sama. Eldar mulai menunjukan perhatian dan kasih sayangnya untuk Ekel. Dan anehnya, Ekel pun sangat menyukai Eldar. Saat Eldar mengatakan kalau Ekel tak boleh mengatakan keberadaannya pada Neva, bocah itu setuju saja. Walaupun sempat beberapa kali ia hampir menyebutkan tentang Eldar pada Neva.
Sejak tahu tentang keberadaan Ekel dan semua penderitaan yang dialami oleh Neva, Eldar bertekad akan menjerat Neva pada sebuah pernikahan agar status Ekel akan menjadi jelas. Dan tanpa Neva ketahui, Eldar sudah mengurus semua surat-surat tengah status Ekel yang sudah berganti nama Daksiano di belakangnya.
***********
Neva menatap Dona dengan wajah sedikit kesal karena sahabat baiknya itu menyembunyikan tentang hubungan Ekel dan Eldar selama ini.
"Aku terpaksa, Nev. Soalnya Eldar juga ingin kamu sendiri yang jujur masalah Ekel ke dia." Dona menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tuh sudah nggak tidur sejak semalam karena membayangkan bagaimana reaksi Ekel saat ketemu Eldar. Nggak tahunya mereka berdua saling merindukan. Bahkan Ekel juga sudah akrab dengan Rangga."
Neva menatap ke arah halaman. Nampak Eldar, Ekel dan Rangga sedang bermain bola. Keluarga tuan Carlos memang sudah berangkat tadi pagi ke Amerika untuk pengobatan tuan Carlos sekaligus juga liburan keluarga.
Tawa Ekel terdengar begitu riuh saat ia berhasil memasukan bola ke gawang yang ada. Neva tahu kalau Eldar sengaja mengalah untuk anaknya. Itulah sebabnya ia merasa bahagia.
"Ayo, istirahat dulu. Kasihan Daddy dan uncle Rangga baru sampai sudah di ajak Ekel mIn bola. Mereka pasti capek." Neva mengajak ketiga lelaki itu untuk istirahat. Walaupun Ekel nampak masih ingin bermain, namun ia juga akhirnya setuju setelah Rangga menawarinya untuk pergi membeli es cream.
Bersama dengan Rangga dan Dona, Ekel pun naik mobil untuk membeli es cream.
"Mas, mau ku buatkan kopi?" tawar Neva saat keduanya sudah duduk di ruang tamu.
"Nggak, sayang. Aku nggak butuh kopi. Aku butuh susu." jawab Eldar dengan kerlingan mata nakalnya.
"Ih, mas, ingat ini dimana?"
"Nggak ada pelayanan di rumah utama ini. Aku tinggal menunggu kamu mengajak aku ke kamarmu. Bereskan."
"Aku hanya mengikuti saja permainan mu, sayang. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita membawa anak kita pulang ke rumah baru kita. Aku yakin Ekel akan sangat senang."
Neva mencium Eldar dengan satu kecupan lembut di bibirnya. "Aku mencintaimu."
"Aku juga sayang."
Lalu Eldar pun mencium istrinya dengan lebih intens. "Mana kamarnya?" bisik Eldar yang sudah menahan hasratnya selama 10 hari.
"Di...di sana!" Neva menunjukan sebuah kamar yang letaknya paling ujung. Eldar segera membopong tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar.
************
Selesai makan malam, Neva menidurkan Ekel. Anak itu ingin tidur bersama papa dan mamanya. Eldar pun bernapas lega karena tadi sudah sempat mengambil jatahnya setelah 10 hari puasa. Untungnya, dua ronde berhasil mereka lewati sebelum Ekel datang bersama Rangga dan Dona setelah makan es cream.
"Lihat anak kita, mas. Dia terlihat senang karena bisa tidur dengan kita berdua." ujar Neva sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh Ekel.
"Kalau sudah di Jakarta, nggak boleh keseringan tidur bertiga. Kan Ekel sudah aku siapkan kamar untuknya."
"Kamar yang mana?"
__ADS_1
"Kamar yang bersebelahan dengan kamar kita?"
"Tapi kan kamar itu masih kosong, mas."
"Sekarang sementara di sulap untuk menjadi kamar anak cowok."
"Ekel nggak pernah bobo sendiri, mas. Selalu ada yang menemani."
"Ekel pasti suka dengan kamarnya. Kalau Ekel bobo terus sama kita, kapan Ekel bisa punya adik?"
Neva menepuk pundak suaminya. "Itu aja yang dipikirkan."
"Habis, di dekatmu aku selalu tergoda."
"Jangan terlalu keras suaranya. Ekel bisa bangun."
Eldar yang tidur di batasi oleh Ekel, kini turun dari ranjang dan berpindah ke sisi bagian tempat Neva tidur.
"Sayang, satu ronde lagi, yuk!" ajak Eldar dengan tatapan menggoda.
"Mas, ada Ekel di sini."
"Tuh.....!" Dengan dagunya Eldar menunjukan pintu kamar mandi. "Kita kan sudah lama nggak main di bathtub."
"Besok aja, mas." tolak Neva pelan. Takut suaminya tersinggung.
"Besok kita akan meninjau proyek pembangunan hotel. Lusa kita akan segera pulang ke Jakarta. Kamu kan ada proyek besar Sabtu ini."
"Tadi kan sudah, mas."
"Belum cukup sayang. 10 hari lho aku dibiarkan." Wajah Eldar terlihat cemberut. Ia bagaikan anak kecil yang begitu berharap kan sesuatu. Neva sungguh gemas melihat suaminya. Ia menarik hidung mancung sang suami. "Ok"
Mata Eldar langsung berbinar. "Wah....wah....., terima kasih istriku, sayang." Lalu dengan tidak tahu malunya, Eldar membuka bajunya dan langsung masuk ke kamar mandi sambil memberikan kerlingan nakal ke arah istrinya. Neva rasanya ingin tertawa keras namun ia takut membangunkan Ekel.
************
Pukul 1 tengah malam, Eldar sudah terlelap di samping Ekel. Neva keluar dari kamar karena ia merasa sangat haus.
Saat melewati kamar Dona, langkah Neva terhenti saat mendengar ada suara-suara tak asing yang membuat bola matanya membulat. Ada siapa di kamar Dona? Apakah dia memiliki pacar. Tapi siapa?
Neva sebenarnya bersyukur kalau Dona sudah move on dari masa lalunya namun ia penasaran, siapa pria yang sudah berhasil menyentuh hatinya bahkan yang saat ini sedang bercinta dengannya.
Neva pun memutuskan untuk tak mencampuri urusan pribadi sahabat dekatnya itu. Ia bermaksud akan ke dapur untuk mengambil air putih, namun langkahnya kembali terhenti saat mendengarkan suara kenikmatan Dona.
"Ah...Rangga...kau memang hebat."
Mata Neva melotot. Ia menatap ke arah pintu kamar Dona yang memang tak tertutup rapat sehingga suara mereka terdengar sampai keluar. Rangga? Rangga asistennya Eldar?
__ADS_1
************
Neva sungguh di buat terkejut dua kali hari ini 😂😂😂