
Perlahan Neva membuka matanya. Ia mencium harum parfum yang sangat khas di hidungnya. Ada tangan yang melingkarkan dengan posesifnya di perutnya. Neva pun tersenyum. Perlahan ia membalikan tubuhnya dan langsung berhadapan dengan wajah tampan yang ditumbuhi oleh janggut tipis khas pria-pria Turki. Tangan Neva perlahan mengusap wajah pria yang sangat dicintainya itu. Ingatan Neva kemudian melayang pada apa yang mereka lakukan semalam sampai akhirnya Neva harus tidur di kamar apartemen Eldar.
Tadi malam ...
Saat ciuman manis itu berubah menjadi ciuman panas yang membakar raga, Neva dan Eldar untuk sesaat lupa pada apa yang ada di sekeliling mereka. Kedekatan raga yang dulu pernah mereka rasakan, kini bagaikan api yang disiram bensin.
"El.....!" Neva melenguh saat Eldar sudah melepaskan kaos yang ia pakai. Neva yang awalnya duduk di atas pangkuan Eldar, kini sudah dibaringkan ke atas sofa yang mereka duduki tadi. Ciuman Eldar kembali ke bibir perempuan itu, sementara tangan Eldar menyusup masuk ke punggung Neva dan melepaskan kain kecil penutup aset berharga di dadanya. Mata Eldar langsung berbinar saat mengingat bagaimana dua gunung kembar itu selalu membuatnya tergila-gila. Tangannya tentu saja langsung berada di sana dan membuat Neva semakin tak terkontrol lagi.
Bunyi ponsel Neva yamg diletakannya di atas meja, sejenak membuat kesadaran Neva mulai kembali. "Tu...nggu, El....!" Neva perlahan bangun dan matanya langsung melotot melihat siapa yang menelepon nya. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan itu.
"Hallo, ma!" sapa Neva berusaha terlihat tenang. Ia meraih kaosnya yang ada di lantai untuk menutupi a dadanya yang sudah polos. Tirta, ibunya Genald menghubungi dia di jam yang tak biasa.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, ma."
"Neva, apakah kamu sudah tidur?" tanya Tirta dari seberang.
"Belum, ma? Ada apa?" tanya Neva.
"Apakah Genald masih menganggu kamu lagi?"
"Nggak, ma. Memangnya kenapa?"
"Jika Genald masih mengusik kamu lagi segera hubungi mama ya? Jangan mau percaya padanya. Mama dengar kalau dia sudah menjual mobilnya."
"Iya, ma."
"Kalau kamu nggak sibuk, sering-seringlah mengunjungi papa dan mama. Kami sudah kangen dengan mu."
"Baik, ma."
"Ya, sudah. Kamu istirahat saja. Selamat malam."
"Selamat malam." Neva meletakan kembali ponselnya di atas meja sedangkan tangannya yang satu masih menahan kaos di dadanya. Ia menatap Eldar yang terlihat salah tingkah. Wakah cowok itu memerah, sepertinya sedang menahan napsu yang ada.
"El, hadap sana." kata Neva.
"Kenapa?"
"Aku mau pakai bajuku lagi."
"Pakai saja. Aku kan sudah pernah lihat sebelumnya. Tadi juga sudah kembali melihat gunung kembar idolaku."
"Eldar!" Neva memukul lengan Eldar dengan kesal walaupun sebenarnya ia sedang malu. Neva dapat merasakan kalau wajahnya menjadi panas.
"Kenapa?"
"El, telepon mama Tirta menyelamatkan kita berdua dari perbuatan Zinah. Dulu, kita mengikuti perasaan cinta yang penuh napsu. Kita akhirnya berpisah akibat buah dari perzinahan itu. Aku nggak mau jatuh lagi di kesalahan yang sama."
"Aku menginginkanmu, Ev."
"Aku tahu. Tapi nggak boleh." Neva berdiri dan langsung membelakangi Eldar. Ia memakai kembali penutup dua asetnya lalu kaosnya. "Aku mau ke tempatku saja."
Neva melangkah namun Eldar menghalangi dia. "Jangan pergi!"
"Kalau aku tak pergi, kita pasti akan lupa diri lagi, El."
"Tidurlah di sini denganku. Aku janji tak akan macam-macam. Sekalipun sebenarnya kepalaku agak sakit." jujur Eldar membuat Neva akhirnya terkekeh.
"Sungguh?"
__ADS_1
"Tak percaya padaku?" .
Neva pun mengangguk. Mereka akhirnya tidur di kamar yang sama setelah sebelumnya Eldar pamit ke kamar mandi untuk meneruskan hasrat nya yang tadi tak tersalur. Akhirnya, Neva pun tidur dalam dekapannya.
********
Eldar bangun dan tak menemukan Neva ada di sampingnya. Saat ia menelepon, Neva ternyata sudah pergi ke tempat kerjanya.
Lelaki itu pun segera mandi dan akhirnya sarapan setelah Rangga membawakan sarapan untuknya.
"Tuan, ini.....!" Rangga meletakan beberapa foto di hadapan Eldar.
"Ini kan mami?"
"Iya."
"Dan lelaki ini?"
"Dia orang Turki. Sepertinya dia orang dari masa lalu Nyonya Elif."
"Selidiki terus."
"Yang aku tahu kalau ia adalah seorang detektif. Dia yang membawa tuan dari Singapura ke Jakarta saat mengalami kecelakaan dulu."
"Siapa namanya?"
"Erdogan Fatah."
"Selidiki tentang dia, ya? Aku ingin tahu sedekat apa dia dengan mamiku. Aku nggak melarang mami untuk menikah lagi. Namun aku nggak mau jika lelaki itu hanya ingin uang mami. Dia kan terlihat masih muda."
"Usianya 42 tahun."
"Tuh, kan. Sangat beda dengan mami yang kini berusia 54 tahun."
Eldar mengangguk. Ia kemudian memakai jasnya. "Kita pergi sekarang?"
"Ya. Sepertinya ia sudah tak sabar menunggu kedatangan tuan."
"Aku juga demikian." Eldar tersenyum lalu melangkah dengan semangat di hari ini.
Tapi, baru saja mobilnya meninggalkan apartemen, ponsel Eldar berdering. Panggilan dari mamanya.
"Kamu di mana, El?"
"Di jalan menuju ke kantor, mi. Ada apa?"
"Ke rumah sakit dulu. Mami tunggu."
"Mami sakit?"
"Bukan. Kintan yang sakit. Kata mamanya, Kintan stres akhir-akhir ini. Makan nggak teratur, tidur nggak teratur dan semuanya karena kamu."
"Kok karena aku sih?"
"Apalagi kalau bukan kamu yang menunda pernikahan kalian? Pokoknya mami tunggu di rumah sakit keluarga Kintan. Mami sudah otw."
Eldar menatap Rangga yang sedang menyetir. "Kita ke rumah sakit dulu. Kintan katanya sakit. Dan mami nggak akan berhenti meneleponku sebelum aku menjenguk Kintan."
"Baik tuan."
Eldar pun mengirim pesan pada seseorang untuk mengabarkan tentang keterlambatannya.
__ADS_1
**********
Wajah Kintan pucat dan ia terlihat sangat lemah. Orang tua Kintan dan Elif langsung meninggalkan ruang perawatan Kintan saat Eldar datang.
"Ki, kamu nggak boleh kayak gini. Kamu tuh harus belajar menyayangi diri kamu sendiri. Kamu harus makan, harus tidur yang cukup."
Air mata Kintan melelah saat mendengar perkataan Eldar. Lelaki itu bahkan tak mau menggenggam tangannya saat mereka bicara. Kintan tahu kalau Eldar memang agak dingin orangnya namun lelaki itu juga cukup memberi perhatian padanya.
"Kamu yang membuat aku seperti ini, El. Untuk apa aku hidup jika tak bisa bersamamu?"
Eldar menarik napas panjang. Ia sudah berusaha membuka hati untuk Kintan namun saat ia mencoba, Neva justru datang kembali dan menyadarkan Eldar bahwa tak ada gadis lain yang mampu menggetarkan hatinya selain Neva.
"Ki, ikuti apa kata dokter. Makan yang teratur dan tidur yang cukup. Aku harus pergi karena ada pertemuan penting pagi ini." Eldar berdiri. Ia mengusap kepala Kintan.
"Kamu akan balik lagi kan, El?" tanya Kintan penuh harap.
"Ya. Mudah-mudahan sore nanti aku akan datang."
"Pokoknya kamu harus datang, El." rengek Kintan. Eldar hanya mengangguk dan segera pergi.
Tak lama setelah kepergian Eldar, Kintan pun menelpon Neva. Ia meminta Neva datang sore harinya.
***********
Sore hari, sepulang kantor, Neva datang mengunjungi Kintan. Ia sedih melihat gadis itu yang nampaknya sangat pucat dan lemah.
"Nev, tolong bujuk Eldar untuk segera menentukan tanggal pernikahan kami. Apa yang harus aku katakan pada orang-orang jika Eldar tak mau menikah dengan aku?" kata Kintan sambil memegang tangan Neva.
"Aku akan berusaha, Ki."
Kintan menangis. "Mungkin jika kamu yang bicara, Eldar akan mendengarkan. Maaf jika aku kesannya sangat memaksa. Namun aku sangat mencintai Eldar. Aku tak mau ada lelaki lain. Aku mau hanya Eldar."
Neva sungguh merasa kasihan melihat kepedihan di mata Kintan. Saat ia akan pergi, Eldar dan Rangga datang. Neva hanya tersenyum sekilas lalu segera pamit untuk pulang. Saat ia berada di luar rumah sakit, Neva pun mengirimkan pesan pada Eldar. Aku tunggu di apartemen malam ini. Aku ingin bicara.
Pukul 8 malam, Eldar mengetuk pintu apartemen Neva. Perempuan itu segera membukanya.
"Ada apa, Ev?" tanya Eldar setelah keduanya duduk bersisian di sofa.
"Jika aku mau menikah denganmu, apakah kau akan segera menentukan tanggal pernikahanmu dengan Kintan?" tanya Neva.
Eldar tersenyum dengan jantung yang berdetak sangat cepat. "Ya. Kita akan menikah dan aku akan menikah dengan Kintan 6 bulan setelah pernikahan kita."
"Itu terlalu lama, El."
"Aku masih ada proyek di Filipina, Ev. 2 bulan dari sekarang adalah hari tersibuk ku."
"Kalau begitu 4 bulan setelah kita menikah. Dengan catatan, Kintan tak boleh tahu tentang pernikahan kita. Aku hanya akan menjadi istri rahasia mu. Pernikahan kita hanya diketahui oleh aku, kamu, Rangga dan pamanku. Kita akan menikah di Malang. Kita menikah secara siri saja, El."
"Nggak. Aku ingin menikah denganmu secara sah baik dari agama maupun pemerintah."
"Asalkan kau janji akan memperhatikan Kintan. Aku nggak mau kalau kamu hanya berat sebelah. Aku justru ingin agar perhatianmu lebih besar ke Kintan jika kalian sudah menikah nanti."
"Aku akan adil. Itu saja yang akan ku katakan."
Neva mengangguk. Sebenarnya ia bukankah perempuan yang menerima poligami. Namun ia sungguh sedih saat melihat Kintan yang putus asa. Neva jadi ingat dirinya dulu yang patah hati saat ia berpikir kalau Eldar meninggalkan dia. Eldar sudah merebut kesucian Kintan karena itu Neva ingin agar Eldar mampu bertanggungjawab.
Ya Allah, mampukan aku untuk menjalani ini. Batin Neva saat Eldar memeluknya.
*********
Sungguh kah Eldar siap berpoligami?
__ADS_1
Mampukah Neva juga membagi cinta Eldar untuk Kintan ?