
Semua yang berpapasan dengan Kintan langsung tersenyum sambil membungkukkan badannya. Mereka tahu kalau itu adalah calon istrinya bos.
Kintan menuju ke lift untuk naik ke lantai paling atas tempat tunangannya berada.
Ia mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk. Nampak Eldar dan Rangga sedang berdiskusi sesuatu. Keduanya duduk di sofa sambil berhadapan.
"Sayang, apakah aku menganggu?" tanya Kintan dengan wajah sok polosnya.
"Kami sudah selesai." ujar Eldar. Kintan langsung melangkah duduk di samping Eldar. Rangga pun pamit untuk keluar dari sana.
"Ada apa?"
"Mas, pernikahan Gina kan sudah selesai, bagaimana jika kita segera mengatur pernikahan kita? Aku sudah mengundang Mba Neva ke sini."
"Kamu kok sudah mengundang Neva sih?" Eldar terlihat kesal. Namun ia hanya bisa menahan dirinya. Menunjukan rasa ketidaksukaan atas rencana pernikahannya dengan Kintan rasanya tak mungkin.
"Mas sibuk ya? Ya sudah aku batalkan saja." Kintan meraih ponselnya namun pintu ruangan Eldar kembali diketuk. Rangga masuk bersama Neva.
"Mba Neva, mari silakan duduk!" ajak Kintan. Rangga dapat melihat bagaimana Eldar dan Neva yang terlihat sama-sama tak enak. Makanya ia pun memilih untuk ikut duduk di sana.
"Rangga, ngapain kamu di sini?" tanya Kintan.
"Maaf nona Kintan, tuan pernah bilang kalau mau membicarakan detail pernikahan aku harus ada untuk menyesuaikan jadwal yang ada. Maklumlah, pekerjaan tuan sangat banyak akhir-akhir ini."
Kintan menatap Eldar dan pria itu segera mengangguk. Sebenarnya ia dan Rangga sudah pernah bicara untuk menunda selama mungkin pernikahannya dengan Kintan.
Walaupun agak kesal, Kintan duduk juga. Ia langsung melingkarkan tangannya di lengan Eldar. "Mba Neva, bagaimana dengan persiapan pernikahan kami?"
"Sebagian besar kan sudah mulai dikerjakan bersamaan dengan persiapan pernikahan Gina. Hanya saja saya belum tahu konsep seperti apa yang kalian inginkan untuk acara resepsinya nanti." kata Neva berusaha profesional dalam bekerja.
"Sayang, maunya konsep seperti apa?" tanya Kintan.
"Kamu saja yang mengaturnya." kata Eldar.
"Mba Neva, aku mau semuanya berwarna hijau lumut. Aku ingin para pengiring pengantinnya memakai gaun yang sama. Aku nggak ingin di ballroom hotel. Melainkan di gedung Kebangsaan yang bisa menampung lebih dari 5000 orang." kata Kintan sambil menyebutkan salah satu gedung pertemuan yang terbesar dan mewah itu.
__ADS_1
"Kenapa harus di gedung itu? Memangnya kita akan mengundang berapa banyak orang?" Eldar terkejut.
"Orang tuaku dan mama Elif sepakat, karena ini adalah pernikahan terakhir di keluarga kita masing-masing maka harus dilaksanakan secara besar-besaran, mas."
"Aku nggak suka pesta yang besar, Ki. Pernikahan Gina saja aku rasa itu sudah terlalu besar. Itu namanya pemborosan." tegas Eldar.
"Mas, kamu kok gitu. Aku mau pesta pernikahan ku istimewa dan lain dari yang lain. Kan papaku sudah bilang kalau ia akan menambah biaya pernikahan. Papa nggak keberatan. Ini menyangkut nama besar keluarga kita, mas."
"Maaf aku menyela. Untuk bisa dibuat di gedung Kebangsaan, memang tidak bisa dilakukan dalam dua bulan ke depan. Aku juga ada acara yang akan dibuat di gedung itu. Setahu ku sampai 2 bulan ke depan, gedungnya sudah penuh, kecuali pernikahannya akan dilaksanakan di luar dari hari Sabtu dan Minggu." ujar Neva.
"Lagi pula, untuk 2 bulan ke depan memang belum bisa. Tuan Eldar sangat padat jadwalnya." Kali ini Rangga yang bicara.
"3 bulan ke depan?" tanya Kintan.
"Masih agak padat juga." kata Rangga membuat Eldar tersenyum senang dengan kelihaian asistennya itu.
Kintan jadi cemberut. "Ya sudah, kita akad nikah aja dulu. Pestanya nanti belakangan. Yang penting kita sudah sah di mata agama dan hukum. Kasihan mami Elif kesepian setelah ditinggal nikah sama Gina."
"Akad juga kan butuh persiapan." Kata Rangga.
"Memang. Tapi ada juga kan yang nikahnya mendadak. Seminggu saja persiapannya sudah mantap." kata Kintan membuat Eldar dan Neva nampak tegang mengingat bagaimana kilatnya persiapan pernikahan mereka namun semuanya terasa hikmat.
"Kalau menunggu waktumu, kapan mas? Aku kok merasa kalau kita semakin jauh bukannya semakin dekat. Apakah ada yang lain, mas?" tanya Kintan dengan mata berkaca-kaca.
"Ki, di sini ada Rangga dan Neva." Eldar menyentuh tangan Kintan.
"Biar aja, mas. Aku sudah menganggap kalau mba Neva seperti saudaraku sendiri. Mas juga kan sudah sangat dekat dengan Rangga. Apa sih rahasia mas yang nggak Rangga ketahui?" Kintan seperti menyindir Rangga. Namun pria yang tak banyak bicara itu terlihat biasa saja.
"Begini saja, konsep yang nona Kintan katakan tadi akan segera saya kerjakan, sedangkan masalah apakah mau akad dulu ataupun langsung dengan resepsinya, aku mohon segera dibicarakan dengan keluarga." Neva berdiri. "Karena masih ada tugas di tempat lain, saya permisi dulu ya?" pamit Neva.
"Ok. Nanti saya hubungi lagi ya mba." ucap Kintan dengan wajah sedih. Gagal sudah harapannya untuk segera menentukan tanggal pernikahan mereka. Namun Kintan akan membujuk orang tuanya untuk setuju dengan akad nikah dulu karena sebenarnya Kintan sedang kalut. Saat pernikahan Gina, ia lupa dengan pil anti hamilnya. Dia dan Erdogan sempat bercinta di sana. Kintan takut jika ia hamil.
"Ki, aku dan Rangga hendak ketemu klien di luar. Kamu pulang sendiri ya?" ujar Eldar.
"Iya. Aku juga bawa mobil sendiri." Kintan pun segera pergi. Ia butuh Erdogan saat ini. Sesampai di dalam mobil, Kintan segera menelepon Erdogan. Cowok itu mengatakan kalau ia sedang ada di sebuah cafe. Kintan pun segera menuju ke sana.
__ADS_1
**********
Eldar menelepon Neva namun istrinya itu tak mengangkat teleponnya. Eldar tahu kalau Neva saat ini sedang ada pekerjaan. Tapi dia ingin meminta Neva untuk mengulur waktu pernikahannya dengan Kintan karena sebenarnya Eldar sedang mencari cara yang tepat untuk lepas dari Kinta. Eldar tak mau berpoligami karena baginya, Neva adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya.
Saat ini, Neva baru saja tiba di sebuah cafe. Ia hendak bertemu dengan pemilik cafe untuk mengatur acara ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke-50. Neva pun diajak ke kantor sang pemilik cafe yang ada di lantai dua. Setelah mendapatkan kesepakatan untuk acara dan konsepnya seperti apa, Neva pun segera pergi. Saat ia turun ke lantai dasar, Neva secara tak sengaja melihat Kintan yang baru masuk. Neva diam di tempatnya dan mengikuti arah langkah Kintan. Ia terkejut melihat Kintan menuju ke sebuah meja yang ada di sudut ruangan. Ada seorang pria yang ada di sana dan Neva mengenalnya sebagai Erdogan, kekasihnya mami Elif.
Mata Neva langsung melotot saat ia melihat Kintan dan Erdogan saling berpelukan. Bukan pelukan antar teman, melainkan pelukan mesra yang berakhir dengan kecupan bibir. Lalu keduanya duduk bersama dan ngobrol sambil berpegangan tangan.
Sial, ponselku habis baterei lagi. Bagaimana caranya aku mengatakan ini pada Eldar? Aku harus punya bukti agar mereka percaya.
Neva mengamati mereka sampai akhirnya keduanya pergi. Tanpa mereka sadari, Neva mengikuti mereka. Mobil Kintan memasuki kompleks apartemen mewah. Neva tahu ia tak mungkin masuk ke dalam. Makanya ia langsung kembali ke kantor sambil mengisi kembali daya hp nya.
1 jam kemudian.....
Neva menelpon Eldar.
"Sayang, tadi aku telepon tapi nggak diangkat. Sibuk ya?" tanya Eldar dari seberang.
"Iya, mas. Oh ya, lagi di mana?"
"Ada di luar. Baru saja ketemu dengan klien. Rencanannya mau langsung pulang ke rumah. Mau mengantar mami mau ziarah ke kubur papi. Kintan juga mau ikut."
"Mas, kangen.....!" rengek Neva. Ia sengaja. Tak ingin Eldar bersama Kintan.
"Aku juga kangen. Namun mau gimana lagi? Mami minta ditemani."
"Mas....., kamu sudah dua hari ada di rumah mami. Terus aku gimana?"
"Sayang, kan kamu yang ijinkan aku di rumah mami."
"Tiba-tiba aja ingin dipeluk. Aku sudah otw pulang apartemen. Ketemu sekarang ya. Mas alasan aja deh mau apa gitu. Mami pergi sama sopir saja. Ya, mas? Aku janji nanti akan service mas dengan baik sore ini."
"Sayang, kamu kok nakal ya sekarang. Baiklah. Aku otw apartemen juga."
Neva tersenyum puas. Rasakan kau Kintan! Aku jadi malas untuk mengurus pernikahan kalian.
__ADS_1
*********
Neva jadi jahat nih?