
Saat ia masuk ke unit apartemennya, Neva merasa sangat lega. Ia segera ke dapur dan meminum air putih sampai dua gelas. Setelah itu ia membuka sepatu dan jam tangannya, Neva hendak menyiapkan makan malam. Tadi Eldar mengatakan kalau ia ingin makan malam di apartemen.
Sementara ia menyiapkan segala sesuatunya, Perempuan itu terus memikirkan siapa yang sebenarnya mengikuti dia. Sampai Neva tak menyadari kalau Eldar sudah pulang dan melihat bagaimana istrinya itu melamun.
"Sayang, ada apa?" tanya Eldar setelah meletakan tas dan jas nya di atas meja makan.
"Eh, mas, sudah pulang? Tunggu sedikit lagi. Tinggal sayur yang belum aku buat. Aku cuma mau buat tumis kangkung. Nggak lama, kok. Mas mandi aja dulu."
Eldar mendekat lalu memeluk istrinya dari belakang. Neva yang sementara mencuci sayur langsung tersenyum merasakan kecupan lembut di lehernya.
"Mas, aku kan sedang mencuci sayuran."
"Cuci aja terus. Aku hanya ingin menciummu."
"Mas, aku masih haid di hari ketiga, lho." Neva mengingatkan.
"Iya. Aku tahu." Suara Eldar terdengar sedikit berat. Ia memang sudah merindukan istrinya itu namun Neva sedang datang bulan makannya ia harus bersabar. "Aku bantu masak ya?"
"Kan tinggal sayur aja, mas."
"Ya bantu saja." Eldar menggulung kemeja lengan panjangnya lalu segera mengambil bawang putih dan mengupasnya. Keduanya bekerja sama dan sayur pun selesai. Setelah itu, mereka memutuskan untuk makan sebelum akhirnya mandi.
"8 hari lagi aku akan menikah dengan Kintan, rasanya hidupku semakin tak berati." kata Eldar saat mereka sudah selesai makan namun masih duduk di ruang makan.
"Kok gitu sih mas?"
"Aku batalin saja ya? Aku tuh nggak cinta sama Kintan. Rasanya nggak sanggup harus berbagi waktu antara kamu dan Kintan. Bagaimana mungkin aku bisa adil?"
"Sayang......!" Neva meraih tangan Eldar. "Alasan apa yang akan kamu pakai untuk membatalkan pernikahan itu? Aku? Yang ada justru mereka akan menghina aku sebagai perebut suami orang. Pokoknya mas santai saja dalam melaksanakan semuanya. Aku yang akan membuat semuanya menjadi baik. Aku akan mempersembahkan yang terbaik karena ini hasil karyaku yang terakhir."
"Maksudnya?"
"Untuk resepsi pernikahan, mami Elif ingin dikerjakan oleh WO lain. Tadi mami Elif menemui aku di kantor."
"Alasannya apa?"
__ADS_1
"Nggak tahu, mas."
"Nanti aku bicarakan dengan mami."
"Jangan, mas. Biar saja semuanya seperti itu. Aku nggak mau kesannya aku mengadu. Toh perusahaan kami nggak rugi apa-apa karena tak bisa dikembalikan DP 50% uang yang sudah diberikan."
"Sebaiknya memang nggak ada resepsi." Eldar berdiri dan membereskan meja makan.
Neva tersenyum melihat suaminya. Ia tahu kalau Eldar sangat stres menjelang akad nikah ini. Tenang saja mas, tinggal 8 hari dan kamu akan terbebas dari semuanya.
************
"Kamu tak menemukan jejak di mana cucuku berada?" tanya Elif saat ia dan Erdogan berduaan saja di apartemen pria itu.
"Ekel di lindungi oleh salah satu keluarga berpengaruh di sana. Mantan duta besar Filipina yang pernah bertugas di Indonesia. Keluarga mereka juga keluarga yang sangat dihormati dan disegani di sana. Ternyata, Ekel dikenal sebagai cucu sang mantan diplomat itu. Mereka tinggal di sebuah peternakan yang jauh dari keramaian kota. Penjagaan di sana juga sangat ketat. Hal terbaik yang harus dilakukan adalah menunggu sampai anak itu kembali ke sini baru kita ambil. Melenyapkan Neva juga bukanlah perkara yang mudah. Dia terlihat sangat hati-hati sekarang. Jarang keluar kantor. Dan tadi, dia pulang bersama dengan Eldar. Sebaiknya kita melenyapkan Neva saat pernikahan Eldar. Ia pasti akan fokus pada pekerjaan dan menjadi kurang waspada."
Elif mengangguk. "Dasar perempuan murahan. Ingin sekali aku segera melenyapkannya. Namun aku harus bersabar karena tinggal 3 hari lagi Eldar akan menikah. Malam ini akan ada pengajian di rumah. Pengajian terakhir menjelang akad nikah. Kamu akan hadir kan?" tanya Elif sambil menyandarkan kepalanya di bahu Erdogan.
"Pasti dong sayang. Walaupun Eldar dan Gina selalu menatapku dengan tatapan tak suka, namun aku akan bertahan demi kamu."
Elif mengecup pipi Erdogan. "Kita nikah siri aja, yuk! Supaya kita nggak menambah dosa."
Elif langsung memeluk Erdogan dengan perasaan cinta yang begitu luar biasa.
*********
Neva memilih tak pergi ke acara pengajian malam ini. Kru nya yang mengatur acara pengajian itu karena memang ini yang keempat kalinya dilaksanakan di sana. Neva berasan bahwa ia sakit kepala dan memilih diam di rumah.
Sebenarnya Neva tak tahan melihat kebersamaan Kintan dan Eldar. Dulu, Neva belajar mengikhlaskan hatinya untuk di madu. Namun saat tahu belangnya Kintan, Neva justru tak rela melihat kebersamaan mereka. Namun Neva sedikit lega karena ia tahu dan percaya kalau Eldar tak akan menyentuh Kintan tanpa ijinnya.
Setelah makan malam, Neva memutuskan untuk Videocall dengan putranya. Kiel bertanya jalan ia harus kembali ke Jakarta karena ia rindu dengan teman-teman TK nya.
selama satu jam lebih Neva dan Ekel Videocall sampai akhirnya ia merasa lelah dan ingin tidur.
Menjekang tengah malam, Neva dikejutkan dengan pelukan hangat di perutnya. "Mas?" Neva terkejut melihat Eldar yang ternyata memeluknya.
__ADS_1
"Halo sayang...."
"Aku pikir mas tidur di rumah."
"Mana bisa aku tidur tanpa kamu, sayang."
"Nanti mami Elif marah, mas."
"Biar saja. Setelah ini aku akan menghabiskan beberapa malam dengan Kintan." Eldar memandang Neva dengan wajah memelas.
"Mas....." Elif memegang wajah suaminya. "Sudah ku katakan kalau mas jangan terbeban dengan pernikahan ini. Oh ya, aku punya berita baik untuk, mas."
"Apa itu?"
"Kata dokter Wina, rahim ku sudah sembuh dan aku bisa program untuk hamil. Dia juga memberikan obat untuk diminum oleh mas." Neva membuka laci nakas dan memberikan obat yang harus Eldar minum. Lelaki itu segera meminumnya dengan senang hati.
"Ayo kita bercinta, mas. Tanpa beban apapun. Aku ingin segera memberikan anak untukmu." kata Neva lalu segera mencium suaminya lebih dahulu. Perempuan itu begitu bergairah karena ia tak akan pernah memberikan tempat bagi Kintan untuk mendapatkan Eldar.
**********
Besok Eldar akan menikah dengan Kintan. Dengan alasan banyak pekerjaan, Eldar justru menghabiskan waktunya dari pagi sampai malam ini bersama Neva.
Terpaksa dengan alasan sakit kepala lagi, Neva memantau pekerjaan kru nya lewat Videocall. Untungnya hanya sebuah masjid kecil di dekat rumah Eldar yang harus mereka hias jadi Neva tak perlu khawatir. Ibu Lorry pun tak keberatan jika Neva tak datang karena sakit.
Asti pun sudah mengerjakan apa yang Neva perintahkan kepadanya. Ia agak heran juga kenapa harus ada LCD dan layarnya. Namun menurut Neva itu atas permintaan Eldar. Makanya mereka mengerjakannya tanpa banyak bertanya.
"Mas, pulanglah. Nanti mami telepon kamu lagi. Ini sudah jam 8 malam."
Eldar yang masih berbaring di atas ranjang nampak malas untuk pergi. Namun sejak pukul 4 sore tadi, mami Elif sudah puluhan kali meneleponnya dan mengingatkan dia untuk segera pulang karena ada acara khusus malam ini bersama keluarga.
Setelah mandi dan ganti pakaian, Eldar pun mendekati Neva yang sedang berdiri di dekat jendela kamar. Ia memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sayang, asal kamu tahu ya? Besok saat akad nikah, aku tak akan sungguh-sungguh mengucapkannya. Hatiku hanya untukmu. Tak bisa ku bagikan pada orang lain." kata Eldar sambil terus memeluk istrinya.
"Aku tahu, mas. Kamu hanya akan menjadi milikku satu-satunya. Percayalah." kata Neva sambil mengecup kedua tangan Eldar. Ia tak sabar menunggu besok hari.
__ADS_1
**********
Apa yang akan Neva lakukan ?