TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Akhirnya Menikah


__ADS_3

Langkah Neva terhenti di depan sebuah rumah sederhana yang banyak ditumbuhi oleh pohon buah-buahan. Dulu, waktu Neva kecil, setiap libur, Neva pasti datang ke sini. Pamannya adalah kakak satu-satunya dari ayah Neva.


"Assalamualaikum!" sapa Neva begitu ia berdiri di depan pintu yang memang terbuka.


"Waalaikumsalam!" terdengar sapaan balasan dari dalam. Seorang lelaki tua menggunakan tongkat keluar. Rambutnya sudah putih semua. Lelaki tua itu menatap Neva.


"Neva?"


Neva tersenyum. Ia langsung mendekat dan mencium punggung tangan kanan pamannya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Sudah lama sekali paman tak pernah melihat mu. Maaf ya, saat ibumu meninggal, paman tak bisa datang. Paman sudah tak tahan naik kendaraan dalam jarak yang jauh. Apalagi harus naik pesawat."


Neva menuntun pamannya dan keduanya duduk di sofa. "Mengapa rumah sepi?" tanya Neva.


"Elis kan sudah ikut suaminya tinggal di kota Malang. Mereka mengajak paman ke sana namun paman nggak mau meninggalkan rumah ini."


Neva mengerti. Rumah ini adalah rumah kakek dan nenek Neva. Rumah ini juga menjadi tempat paman dan bibinya tinggal selama bertahun-tahun. Elis anak tunggal mereka juga lahir dan dibesarkan di sini.


"Paman, aku ke sini karena aku ingin meminta paman menjadi wali dalam pernikahanku. Rencananya aku akan menikah di Malang. Paman mau kan?"


"Tentu saja, nak. Siapa lagi yang akan menikah kan kamu selain paman? Lalu mana calon suamimu?"


"Dia ada di luar. Sebentar aku panggilkan." Neva keluar dan memanggil Eldar yang sedang menunggunya di mobil. Eldar pun langsung masuk dan mencium tangan paman Neva.


"Orang tua Eldar tak menyetujui hubungan kami. Namun kami sudah saling mencintai. Takutnya kami berbuat zinah, makanya kami ingin menikah saja, paman." kata Neva. Begitulah cerita yang dikarangnya agar pamannya tak banyak bertanya tentang orang tua Eldar yang tak ada.


Paman Neva pun tak banyak bertanya. Ia hanya mengatakan bahwa menikah itu ibadah dan apa yang dilakukan oleh Neva dan Eldar sudah benar untuk menghindari perbuatan yang tercela. Namun ia juga berharap agar Neva dan Eldar dapat meminta restu pada orang tua Eldar karena restu orang tua akan menjadi berkat dalam rumah tangga mereka.


Sore itu juga, Eldar dan Neva membawa paman Neva ke kota. Mereka pun menuju ke rumah sepupu Neva. Elis sangat senang melihat Neva yang datang bersama calon suaminya. Elis sudah menikah dan memiliki 2 orang anak yang berusia 5 dan 3 tahun. Suami Elis adalah seorang PNS yang bekerja di dinas pendidikan. Elis sendiri adalah seorang guru SD. Neva bangga melihat kehidupan Elis yang sederhana namun nampak bahagia.


Saat melihat anak-anak Elis, hati Neva bergetar. Ia teringat sesuatu.


"Ada apa sayang?" tanya Eldar melihat mata Neva yang berkaca-kaca.


"Nggak." Neva menarik napas panjang. "Kita ziarah ke makam bapak ya? Bapak di kuburkan di Malang."


"Baik sayang."


Selesai ziarah ke makam bapaknya, Neva dan Eldar kembali ke hotel. Rangga yang mengurus semua surat-surat mereka termasuk ijin melakukan akad di kota ini.


Gaun pengantin Neva sudah Eldar siapkan dari Jakarta. Neva ingin menikah dengan kebaya putih. Cincin pernikahan mereka pun sudah ada. Dipesan secara ekspres. Semuanya hanya 1 minggu.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Eldar sambil memeluk Neva dari belakang. Neva berdiri di depan kaca besar yang ada di kamar itu sambil memandang indahnya malam Kota Malang.


"Mengapa kamu ingin kita menikah di sini, sayang?" tanya Eldar tanpa melepaskan pelukannya.


"Pertama, karena paman ada di sini. Kedua, karena ini impianku sejak kecil. Aku ingin menikah di masjid dekat rumahku dulu. Sayangnya rumah itu sudah ibu jual sebelum ikut pindah ke Jakarta dengan keluarga Oma Arya. Untungnya masjid itu masih ada walaupun sudah mengalami perubahan bentuk. Dulu, waktu kecil, aku pernah melihat ada pasangan yang menikah di sana. Dan aku pun mengucapkan doa dalam hatiku, ya Allah aku juga ingin menikah di sini." Neva membalikan badannya. "Sebenarnya aku sedih karena tak bisa menikah disaksikan oleh ayah dan ibuku. Memang, sewaktu menikah dengan mas Genald, ibu masih ada. Namun ibuku tahu kalau aku terpaksa menikah dengannya."

__ADS_1


Eldar menghapus air mata Neva dengan punggung tangannya. "Jangan menangis lagi ya? Kita akan bahagia. Aku akan memberikan kamu keluarga yang utuh. Kita akan menikmati kebersamaan sampai kita tua nanti."


"Aku harap kamu juga akan mencintai Kintan, El."


"Iya." jawab Eldar terlihat tak bersemangat. Ia kesal karena menjelang hari bahagia mereka, Neva justru sering mengingatkannya dengan Kintan.


"Sekarang kita bobo, yuk! Sudah jam 10 malam." ajak Neva.


Eldar mengangguk. Ia mengambil bantal dan menuju ke sofa sedangkan Neva tidur di ranjang. Itulah yang mereka sepakati bersama. Eldar akan sabar menunggu sampai besok dan ia sudah sah menjadi suami Neva.


**********


"Saya terima nikah dan kawinnya Neva Viviani binti Abdul Qodir dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Sah?"


"Sah."


Air mata Neva mengalir dengan deras saat Eldar berhasil mengucapkan ijab Kabul dalam satu tarikan nafas. Eldar memberikan dia mas kawin berupa emas seberat 100 gram dan uang 1 M. Neva sendiri kaget dengan mahar yang diberikan oleh suaminya itu.


Selesai acara ijab kabul, Eldar mengajak petugas yang dari KUA bersama dengan pengurus masjid untuk makan siang bersama di restoran yang sudah dipersiapkan oleh mereka. Tak lupa juga Eldar memberikan sumbangan untuk perbaikan masjid yang ada.


Jika waktunya sudah tepat, aku akan membuat resepsi pernikahan yang mewah untuk kamu, sayang. Aku akan memperkenalkan Neva sebagai istriku yang paling aku cintai. Batin Eldar.


Selesai acara makan siang bersama yang tak lebih dari 20 orang, Neva pun berpamitan dengan paman dan sepupunya. Elis dan Neva berpelukan sambil menangis. Waktu kecil, mereka memang selalu bersama dan kini harus dipisahkan oleh jarak dan waktu.


"Elis, aku ingin memberikan sesuatu kepada keluargamu." kata Eldar sambil menunjukan sebuah mobil berwarna putih yang memang cocok untuk keluarga kecilnya yang memiliki dua orang anak.


"Terima kasih, El." kata Neva merasa sangat terharu atas perhatian Eldar padanya.


"Kemarin, saat di rumah Elis, aku nggak sengaja melihat ada brosur mobil di atas meja makan mereka. Sepertinya Elis dan suaminya sedang mempertimbangkan untuk membeli mobil. Kasihan juga jika mereka berempat harus kemana-mana dengan motor. Bagaimana jika hujan? Makanya aku meminta Rangga untuk mencoba mencari mobil yang cocok untuk keluarga mereka."


Neva memeluk Eldar.


"Kita ke hotel dan langsung beres-beres karena aku sudah tak sabar ingin menikmati malam pengantin kita." bisik Eldar membuat wajah Neva langsung memerah.


*********


Dari hotel, Eldar dan Neva langsung terbang menuju ke Bali untuk melaksanakan bulan madu selama 3 hari. Neva yang hanya diberikan ijin oleh ibu Lorry selama 1 minggu tentu tak bisa lama-lama berada di Bali.


Mereka tiba di Bali saat waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh makam. Keduanya langsung menuju ke privat villa yang ada di daerah Ubud.


Selesai mandi, keduanya langsung disuguhkan makan malam di dalam Villa.


"Capek?" tanya Eldar saat melihat Neva yang makan hanya sedikit.


"Lumayan."

__ADS_1


"Kenapa makannya hanya sedikit?"


"Aku masih kenyang, El."


Eldar meraih tangan Neva dan menggenggamnya erat. "Jangan panggil, El. Kamu harus panggil aku mas atau sayang. Waktu pacaran dulu kamu bahkan memanggil aku honey."


Neva tersenyum. "Baiklah, mas."


"Nah, gitu dong."


Selesai makan malam, keduanya memilih duduk di teras sambil menikmati udara malam dengan pemandangan pantai yang indah. Neva duduk sambil bersandar di dada Eldar.


"Kamu bahagia, sayang?" tanya Eldar sambil menautkan jarinya dengan jari Neva.


Neva mengangguk. Ia memang bahagia walaupun sebenarnya ada rasa ketakutan atas pernikahan yang mereka jalani ini. Masih ada satu rahasia yang belum Neva katakan pada Eldar. Sebenarnya ia takut untuk mengatakannya karena Neva tak ingin Eldar membatalkan pernikahannya dengan Kintan.


"Sebenarnya aku sementara membangun rumah sekarang ini. Mungkin 4 bulan lagi rumah itu akan siap ditempati. Aku ingin menghadiahkan itu untuk kamu, sayang. Untuk anak-anak kita nanti."


"Anak?" Neva menelan salivanya yang terasa pahit.


"Ya. Memangnya kamu nggak ingin kita punya anak?" tanya Eldar.


"Eh aku ....!" Neva bingung harus bicara apa.


"Aku mau kita punya anak yang banyak. Dan karena itu kita harus bekerja untuk membuatnya dari sekarang." kata Eldar lalu mulai mencium bahu Neva yang terbuka.


"Mas ...!" Neva memejamkan matanya. Sentuhan Eldar seperti ini sangat ia rindukan. Eldar langsung berdiri dan meraih tubuh Neva untuk masuk ke dalam kamar. Kali ini Eldar tak mau menahan dirinya lagi. Memang, ini bukanlah malam pertama mereka. Namun, malam ini tetap saja rasanya sangat istimewa karena kini Neva sudah menjadi istrinya.


Sesampai di kamar, Eldar mengajak Neva untuk sholat Sunnah sebanyak dua rakaat. Neva pun kembali menitihkan air mata karena Eldar kini menjadi imamnya.


Suara ombak terdengar dari kejauhan. Neva merapatkan tubuhnya dalam pelukan sang suami.


"Capek?" bisik Eldar sambil membelai punggung polos istrinya. Ia memejamkan matanya sambil menikmati sisa-sisa puncak percintaan mereka yang panas.


"Iya. Dua ronde lho, mas."


Eldar terkekeh. "Sebenarnya masih mau sekali lagi."


"Mas ...." Neva mencubit dada Eldar manja.


"Tidurlah. Mulai malam ini dan seterusnya, aku tak akan pernah membiarkan kamu tidur sendiri."


Neva memejamkan matanya. Ia sebenarnya ingin protes dengan perkataan Eldar. Bagaimana mungkin ia akan terus tidur bersama Eldar setiap malam. Bagaimana jika Eldar sudah menikah dengan Kintan? Memikirkan itu saja hati Neva langsung sakit. Siapakah ia dipoligami oleh Eldar?


***********


Hallo semua....

__ADS_1


selamat menikmati buka puasa.


Bagaiaman menurut kalian dengan pernikahan Eldar dan Neva?


__ADS_2