TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Curiga


__ADS_3

Elif dengan cepat menahan tangan Neva dan memperhatikan cincin itu. Neva kini menyadari apa yang menjadi pusat perhatian Elif pada dirinya.


"Ada apa nyonya Elif?" tanya Neva berusaha terlihat tenang pada hal sebenarnya ia sangat tegang.


"Cincin ini?"


"Oh, ini cincin pemberian bos ku di hari ulang tahunku tahun yang lalu. Kenapa? Nampak seperti cincin pernikahan ya? Ya, memang ini seperti cincin pernikahan. Banyak kok dijual di toko perhiasan."


"Aku ..."


"Nyonya, ada tamu yang mencari." salah satu pelayan yang ada di rumah Elif datang mencarinya sehingga membuat Elif melepaskan tangan Neva yang dipegangnya.


"Tamu? Siapa?"


"Tuan Erdogan."


Wajah Elif langsung sumringah namun ia berusaha menutupinya. Ia pun segera pamit pada Neva dan mengikuti pelayanannya itu.


Neva menarik napas lega. Ia bergegas menuju ke kamarnya untuk ganti pakaian. Setelah melihat teman sekamarnya tertidur, Neva pun segera menuju ke kamar Eldar.


"Sayang!" Eldar langsung menarik Neva ke dalam pelukannya dan mencium istrinya itu dengan penuh gairah. 4 hari sudah mereka tak bersama karena sibuknya persiapan pernikahan Gina.


Neva juga membalas pelukan dan ciuman suaminya dengan gairah yang sama.


Selama 1 jam lebih, pasangan suami istri memadu kasih dan menuntaskan gairah yang ada.


"Aku sangat merindukan kamu, sayang." kata Eldar sambil memeluk tubuh polos istrinya yang sedang berbaring di lengannya.


"Aku juga, mas."


"Malam ini tidur di sini ya?" kata Eldar. Neva mengangguk.


"Mas, tadi ibumu menanyakan masalah cincin pernikahan kita. Apakah dia pernah melihat cincin mas?"


"Mami memang pernah bertanya, aku bilang saja kalau aku membelinya karena suka dengan modelnya."


"Aku takut kalau mami Elif akan tahu, mas."


"Biar saja."


"Mas, aku nggak mau di cap sebagai pelakor oleh keluargamu."


"Siapa yang berani mengatakan kalau kamu pelakor? Dia akan berhadapan dengan aku. Aku sudah nggak tahan jika harus sembunyi-sembunyi, Ev. Aku ingin menggandeng tanganmu di depan umum dan dengan bangga mengatakan kalau kamu adalah istriku. Wanita yang selama ini aku cintai."


Neva terharu mendengar pengakuan Eldar. Ia membalikan badannya dan menatap Eldar dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bagaimana jika Eldar tahu kebohongannya.

__ADS_1


"Kok menangis sih, sayang?" Eldar menghapus air mata Neva. "Apa yang aku katakan tadi adalah sebuah kejujuran. Kamu adalah wanita yang sangat istimewa di hidupku. Kita memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Aku ingin memperbaiki semuanya itu dengan hidup bersamamu. Aku ingin menjadi imammu dan mendidik anak-anak kita menjadi anak yang Soleh dan Soleha. Aku ingin menjadikan kamu satu-satunya wanita dalam hidupku."


Neva langsung membaringkan kepalanya di dada Eldar. "Mas ...."


"Sayang, aku sebenarnya nggak mau menduakan kamu dengan wanita siapapun."


"Tapi aku juga nggak mau kalau kamu sampai menyakiti Kintan, mas. Kamu sudah merenggut kesuciannya. Masa kan kamu akan membiarkan ia begitu saja."


"Sebenarnya....., ah sudahlah." Eldar sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu namun ia menahannya. Ia perlahan mendorong tubuh Neva sehingga kini istrinya itu berada di bawa kunkungan nya. "Ronde kedua?" bisik nya menggoda. Neva langsung mengangguk sambil tertawa kecil karena Eldar mulai mencium lehernya. Ada sensasi geli karena sentuhan janggut Eldar pada kulit lehernya itu.


**********


Elif tak bisa menolak sentuhan Erdogan malam ini. Pria itu sangat pintar merayunya dan membuatnya terbang ke langit yang ketujuh.


"Kau selalu membuat aku tergila-gila, sayang." puji Erdogan sambil mengangkat tubuhnya dari atas Elif lalu berbaring di samping perempuan itu. Erdogan jujur saat mengatakan kalau ia tergila-gila pada tubuh perempuan yang usianya jauh di atas dia. Kulit Elif masih begitu mulus. Sepasang gunung kembarnya masih kencang. Goyangannya juga tak kalah dengan gadis-gadis muda.


"Kok kamu baru datang sih, sayang? Aku menunggu kamu dari kemarin."


Erdogan tidur miring dan menatap wajah Elif. "Ada kasus yang aku selidiki."


"Terus, bagaimana dengan anakku. Apakah kau sudah menyelidikinya? Apakah dia punya seseorang di luar sana selain Kintan?"


"Nggak, sayang. Anakmu seperti tak punya hubungan dengan orang lain."


"Tapi aku melihat ada yang aneh antara Eldar dan perancang pernikahan itu. Mereka memakai cincin yang sama modelnya. Eldar bahkan sekarang tinggal di apartemen yang sama dengan Neva."


"Ya. Nama perempuan itu adalah Neva. Namun yang aku tahu kalau dia sudah menikah."


"Di mana ya, aku pernah mendengar nama itu?"


"Nanti besok aku tunjukan padamu siapa gadis itu. Dia cantik sih. Aku sering melihat kalau Eldar kayaknya suka curi pandang ke arahnya."


Ponsel Erdogan berbunyi. Ia melihat ada pesan yang masuk. Perlahan Erdogan pun bangun dan mengenakan pakaiannya kembali.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Elif sambil ikutan bangun. Ia menahan selimut di dadanya. Tubuhnya memang masih polos.


"Temanku menunggu di lobby. Sebaiknya aku pesan kamar lain saja, sayang. Bagaimana kalau ada yang datang ke kamarmu ini? Nanti besok malam, kamu yang ke kamar aku ya?" kata Erdogan sambil mengeringkan sebelah matanya. Elif menarik laci nakas dan mengeluarkan ponselnya. Ia mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Erdogan.


Pria yang sudah selesai mengenakan pakaiannya lagi langsung tersenyum melihat angka 10 juta yang masuk ke rekeningnya. "Terima kasih ya, sayang."


Elif mengangguk. Erdogan mencium bibir wanita itu sebelum akhirnya keluar dari kamar itu. Ponselnya langsung berbunyi. "Iya, sayang. Sabar. Aku sudah otewe. Nggak sabaran banget sih?"


***********


"Kenapa sudah bangun?" tanya Eldar melihat Neva yang sudah mengenakan pakaiannya kembali.

__ADS_1


"Aku harus pergi sebelum penghuni yang lain terbangun begitu juga dengan teman sekamarku."


Eldar meraih jam tangannya dari atas nakas. "Ini baru setengah enam, sayang. Memangnya kamu nggak capek?"


"Siapa yang membuat aku capek?"


Eldar terkekeh. "Makanya, ke sini aku peluk."


"Mas, nggak lucu ah, jika ada yang melihat aku keluar dari kamarmu. Lantai 5 ini kan semuanya diisi oleh keluargamu dan keluarga mempelai laki-laki."


"Mereka pasti nggak akan keluar kamar sebelum jam 9 pagi, sayang. Jadwal sarapan kami kan pukul 9.30 pagi."


Neva menyisir rambutnya sebentar. Ia naik ke atas ranjang lalu memeluk suaminya sekali lagi. "I love you!"


"I love you too, baby."


.Setelah berciuman sesaat, Neva pun segera melangkah ke luar kamar. Ia membuka pintu perlahan. Melirik ke kanan dan ke kiri lalu segera keluar kamar setelah di rasa aman. Ia pun melangkah dengan cepat menuju ke lift.


Mungkin karena masih mengantuk dan juga capek, Neva tak memperhatikan angka yang ditekannya di lift. Bukannya menuju ke lantai satu, pintu lift justru terbuka di lantai dua. Neva akhirnya keluar dari lift dan ia berpikir untuk jalan kaki saja menggunakan tangga menuju ke lantai satu sekalian olahraga menghilangkan penat ditubuhnya atas percintaan dirinya dan Eldar semalam.


Namun, saat Neva akan menuju ke tangga, ia melihat seseorang keluar dari sebuah kamar di lantai dua itu. Neva bergegas bersembunyi saat ia melihat Kintan yang keluar dari kamar itu. Neva terkejut. Kenapa Kintan keluar dari kamar yang ada di lantai 2, bukankah kamarnya ada di lantai 5?


Neva melihat Kintan masuk ke dalam lift. Ia kemudian memperhatikan di mana lift itu akan berhenti. Ternyata lift itu berhenti di lantai nomor 5.


Perasaan Neva jadi tak enak. Ia kemudian menuju ke lobby dan senang saat melihat kalau yang bertugas di sana adalah Joe, kakaknya Alista.


"Eh, kak Neva, ada apa?"


"Aku ada perlu dengan salah satu kru aku. Dia menginap di lantai dua, namun aku lupa di nomor berapa. Coba tolong di cek, apakah kamar 209 adalah kamarnya? Namanya Monika."


"Baik, kak." tanpa curiga, Joe pun memeriksa kamar nomor 209. "Bukan, kak. Di sini penghuni kamar 209 adalah seorang laki-laki bernama Erdogan."


"Ya sudah. Kakak pergi dulu ya?"


"Kak, bukanya semua kru ada di lantai satu?"


Neva pura-pura terkejut. "Oh ya? Jangan-jangan Monika salah menyebutkan nama kamarnya. Terima kasih ya atas bantuannya. Semangat berkerja."


"Sama-sama kak!"


Siapa Erdogan? Apakah itu saudaranya Kintan? Lalu ada urusan apa dia kesana pagi-pagi sekali? Kintan juga nampak mengendap-endap saat keluar dari sana. Apakah Kintan takut kepergok? Apakah Kintan punya selingkuhan?


*********


Selamat sore semuanya

__ADS_1


semangat terus puasanya


Jangan lupa dukung emak terus ya guys


__ADS_2