
Tirta meminta sopirnya berhenti. Di seberang jalan, ia melihat ada sebuah gerobak martabak yang sedang ramai pengunjung. Air mata wanita itu langsung jatuh saat melihat Genald ada di sana. Ia nampak sibuk melayani para pelanggan dengan begitu lincahnya. Ada juga seorang pemuda yang nampak membantunya.
"Pak, tolong belikan Martabak di sana, ya? Beli semua rasa yang ada." ujar Tirta pada sopirnya. Ini memang sopir baru yang menggantikan sopir yang lama karena sudah tua. Dan dia tidak mengenal Genald.
"Baik nyonya."
Tirta memberikan 5 lembar uang berwarna merah. "Jika harganya nggak sampai 500 ribu, berikan saja sisanya sama penjual martabak itu."
"Baik." Sopir itu pun turun. Ia menyeberangi jalan dan menuju ke gerobak martabak itu. Ia memesan semua rasa yang ada. Tentu saja Genald sangat senang. Ada 5 rasa yang tersedia di gerobaknya ini.
Setelah menunggu selama 40 menit, akhirnya selesai juga pesanan Tirta.
"Berapa semuanya, bang?" tanya sang sopir.
"315 ribu, pak."
"Ini."
"Lho, kebanyakan. Ini kan 500 rb." kata Genald setelah menghitung uangnya.
"Buat Abang saja. Saya permisi."
"Tapi ...." Genald tak dapat mengejar sang sopir yang sudah pergi karena sudah ada pembeli yang datang. Matanya masih sempat melihat kemana pembeli itu pergi. Ternyata mobilnya berada di seberang jalan. Sebuah mobil jenis sedan berwarna putih. Seperti mobil yang biasa digunakan mama. Tapi, sopirnya beda. Mungkin itu bukan mama. Mana mungkin mama membeli martabak di pinggiran jalan seperti ini. Lagi pula, mama kan nggak suka martabak.
Saat Tirta tiba di rumah, Gerry dan keluarganya ada di sana. Arya nampak senang bermain dengan kedua anak Gerry.
"Wah, mama bawa martabak. Baunya harum." Gerry langsung membuka salah satu kotaknya dan langsung memasukannya ke dalam mulutnya. "Rasanya enak. Mama beli di mana?" tanya Gerry.
Arya pun mengambil sepotong dan memasukannya ke dalam mulutnya. "Wah, enak juga."
Istri dan anak-anak Gerry ikut juga memakannya. Semua memuji kelezatan martabak itu.
"Nikmatilah kalau memang enak. Nanti mama beli lagi jika kalian mau weekend di sini." Tirta berusaha menahan air matanya. Ia juga tak mengatakan tentang siapa penjual martabak itu. Ia ingin melihat, sejauh mana putra bungsunya itu bertahan.
***********
Di sebuah penjara wanita .....
Kintan bangun sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit. Kehamilannya yang memasuki bulan ke-5 membuat ia merasa kurang nyaman untuk tidur lama. Ia berdiri dan mengambil air minum.
Sudah 2 minggu Kintan kembali ke penjara setelah ia dirawat di rumah sakit akibat berkali-kali mencoba bunuh diri.
__ADS_1
Setelah di dampingi oleh seorang ustadzah, Kintan kini mulai menerima kenyataan dirinya yang hamil di luar nikah dan menjadi bahan cibiran orang lain.
"Nak, kamu kenapa?" tanya rekan satu selnya. Seorang ibu berusia hampir 50 tahun yang membunuh suaminya karena ketahuan selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Nama itu Jena.
"Aku merasa pinggangku sedikit sakit, Bu. Tidur jadi kurang nyaman."
Jena tersenyum. Ia ikut bangun dan memegang tangan Kintan yang berdiri di dekat meja. "Begitulah kalau hamil, nak. Badan kita akan sering mengalami hal-hal seperti ini. Tapi percayalah, saat kamu melihat anakmu lahir, itu adalah hari terindah dalam hidupmu."
Kintan mengusap perutnya. "Kasihan anak ini akan lahir di penjara."
"Memangnya vonis hakim berapa tahun?"
"3 tahun, Bu. Tapi, aku mau mengajukan banding. Siapa tahu bisa diringankan sedikit."
"Dan ayah dari anak ini?"
"Erdogan di vonis 3 tahun juga. Hukuman kami jadi ringan karena memang terbukti kalau bukan kamu yang menyuruh mereka membunuh wanita malang itu. Aku nggak tahu apakah ia akan mengajukan banding atau tidak. Aku juga sudah tak mau berhubungan apa-apa dengannya. Papa dan mama ku juga sudah mengatakan, jika aku kembali berhubungan dengan dia, maka mereka akan membuang aku selamanya. Aku akan fokus menjaga kehamilanku sampai melahirkan nanti dan anakku akan diasuh oleh papa dan mama."
Jena mengangguk. "Tidurlah, lagi. Besok pagi kita ada pengajian."
Kintan mengangguk. Berat memang hidup di balik jeruji besi. Namun mau bagaimana lagi? Kintan harus menanggung semua akibat dari perbuatan buruknya di masa lalu. Menyesal pun tak ada gunanya. Semua teman-temannya meninggalkan dia. Kini Kintan tahu, betapa kejamnya dunia ini. Harta ternyata lebih diutamakan dalam segala hal.
************
"Baguslah."
"Mami nggak akan pergi?"
"Mami nggak diundang."
Gina duduk di samping maminya yang sedang menyulam. "Sampai kapan mami dan kak Eldar harus seperti ini? Aku sedih melihat keadaan kalian."
Elif tersenyum getir. "Eldar memang tak akan pernah memaafkan mami."
"Cobalah mendekati kakak lagi, mi. Aku tahu kalau kakak sangat kecewa sehingga ia tak mau menghubungi mami. Tapi, mba Neva orangnya sangat baik, mi. Apakah mami juga belum bisa menerimanya sebagai menantu?"
Elif menggeleng. "Mami juga malu padanya."
"Ekel anak yang tampan, mi. Sama persis dengan kak Eldar waktu kecil. Syukuran di rumah kakak sekaligus juga dengan ulang tahun Ekel yang ke enam. Ayo dong, mi hadir."
Elif menggeleng. "Biarlah mami seperti ini. Mami lebih suka di rumah dan merajut baju untuk anakmu nanti."
__ADS_1
Gina hanya bisa mengangkat bahunya sambil membuang nafas kasar. Sungguh, ia tak tahu bagaimana harus membuat mami dan kakaknya berbaikan.
**********
"Sayang, kamu sudah menghubungi panti asuhan yang akan kita undang Sabtu nanti?" tanya Eldar saat ia memasuki kamar dan melihat sang istri yang sementara melakukan rutinitas malamnya dengan semua skincare yang ada.
"Sudah, mas. Pokonya untuk Sabtu nanti acaranya beres. Ekel sudah tidur?"
"Iya. Setelah aku membacakan 8 halaman ceritanya. Mulutku rasanya sampai kering."
Neve berdiri dari tempat duduknya. Ia kemudian mendekati Eldar dan sedang menenguk air putih yang memang selalu tersedia di kamar ini.
"Begitulah dia, mas. Terlalu di manja sama Dona dan paman Carlos."
Eldar melingkarkan tangannya di bahu sang istri. "Kamu cantik sekali malam ini."
"Modus, bilang aja mau minta jatah."
"Iya. Sudah kepingin, nih."
Neva menarik tangan suaminya dan meminta agar keduanya duduk di sofa.
"Mas, sebelum kita bercinta dan akhirnya lupa waktu, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apa itu, sayang." tanya Eldar sambil menggenggam kedua tangan Neva.
"Apakah hari Sabtu nanti, kita tak akan mengundang mami Elif?"
Eldar langsung membuang muka. Ia melepaskan tangannya yang memegang tangan Neva. "Aku belum ingin ketemu, mami."
"Tapi pasti mami sedih jika mendengar kita mengadakan acara ini namun tak mengundangnya."
"Mami nggak menyukai kamu dan Ekel. Untuk apa mengundangnya? Aku nggak mau kalau sampai kedatangan mami justru membuat kamu dan Ekel tak bahagia."
"Tapi, mas."
"Nggak ada, tapi." Eldar langsung membungkam mulut Neva dengan ciumannya yang begitu menuntut. Neva tahu Eldar melakukan itu karena tak ingin membahas tentang Elif lagi. Ia pun tak mau menyakiti suaminya. Neva langsung menyambut ciuman itu dengan hangat dan menunaikan tugasnya sebagai istri yang harus melayani suaminya.
************
Akankah keadaan menjadi lebih baik?
__ADS_1