
Sebuah foto dikirimkan ke ponsel Kintan.
Kepala nya aku tanam sehingga tak ditemukan lagi. Ini bagian tubuhnya. Aku menunggu transferan terakhirku
Kintan melihat sebuah gaun berwarna hijau lumut yang ada di atas potongan tubuh itu. Gaun yang tadi Neva kenakan. Ia tersenyum senang kemudian tertawa senang. Kalau aku tak bisa memilikimu, maka Neva pun tak akan bisa. Tinggal sedikit lagi dan aku akan menghancurkan anakmu juga. Selamat tinggal Neva.
Sejumlah uang Kintan transfer ke rekening orang yang sudah mengerjakan pembunuhan itu. Setelah itu Kintan pun keluar kamar. Ia merasa lapar dan ingin merayakan kemenangannya dengan meminum beberapa minuman beralkohol yang ada di rumahnya itu.
************
"Nak...., sayang ...!" Elif menarik napas lega saat melihat Eldar yang membuka matanya. 4 jam lebih Eldar pingsan. Menurut dokter Eldar mengalami stres, tidak tidur dan tubuhnya kekurangan nutrisi karena tak makan.
Eldar yang perlahan membuka matanya, mulai menyadari di mana ia kini berada setelah mencium bau khas ini.
"Rangga ...., dimana Rangga?" tanya Eldar sambil berusaha bangun namun tubuhnya masih sangat lemah. Ia tak bisa karena kepalanya masih terasa berat.
"Rangga masih di rumah sakit yang lain. Katanya ia menjemput sepupunya Neva."
"Aku harus menemui Rangga."
"Nak, kamu masih sangat lemah." Elif menahan putranya namun Eldar menepiskan dengan wajah kesal. "Untuk apa mami peduli padaku. Bukankah sejak dulu mami memang tak ingin aku bahagia bersama Neva? Aku bersumpah mami, jika sesuatu yang buruk menimpa Neva, aku tak akan pernah memaafkan mu. Dan aku tak akan pernah menikah seumur hidupku." kata Eldar dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
"Nak....!"
"Pergi!"
"Eldar....!" Elif menangis mendapatkan penolakan dari anaknya.
"Pergi kataku....!"
Pintu kamar terbuka. Gina masuk dan langsung mendekati brangkar tempat Eldar di baringkan. "Mami pergilah! Biar aku yang menjaga kakak."
Walaupun berat, Elif pun meninggalkan kamar itu.
"Kak, beristirahatlah sebentar. Tekanan darah kakak sangat kurang." bujuk Gina melihat Eldar yang ingin bangun.
"Bagaimana hasil tes DNA?"
"Aku belum tahu, kak. Katanya butuh waktu untuk mencocokan DNA Neva dan sepupunya itu. Jadi kakak harus bersabar. Petunjuk yang polisi miliki hanya kalung dan gaun Neva yang dipakai untuk menutupi potongan tubuh itu."
Eldar menangis sambil menggenggam tangan adiknya. "Aku akan mati jika Neva mati, Gin. Apalah artinya aku hidup di dunia ini jika tidak ada Neva di dalamnya."
"Kak, jangan putus asa. Kakak sudah lupa dengan seseorang yang seharusnya kakak jaga dan rawat jika memang Neva benar-benar sudah tak ada?"
Tangis Eldar semakin dalam. Seperti ada bongkahan batu yang besar di dadanya sehingga bernapas pun rasanya sangat sesak.
__ADS_1
Pintu ruangan perawatan Eldar diketuk. Elis, sepupu Neva masuk bersama Rangga.
Melihat mata Elis yang sembab karena terlalu banyak menangis, Eldar semakin sedih.
"Elis sudah memberikan contoh DNA nya. Kata dokter membutuhkan waktu 2 hari untuk mencocokan nya. Elis belum akan pulang sebelum semuanya jelas. Jadi, saya akan membawa nyonya Elis ke hotel saja." lapor Rangga.
"Elis di rumah aku saja. Supaya nggak kesepian di hotel. Bagaimana?" tanya Gina.
"Aku nggak mau merepotkan."
"Nggak merepotkan. Aku Gina, adiknya Eldar. Jadi kita sudah menjadi satu keluarga sekarang ini."
Elis menatap Eldar. Lelaki itu mengangguk. Ia senang karena Gina peduli dengan keluarga Neva.
"Eldar, kau harus menguatkan dirimu sendiri. Jangan putus asa ya?" Kata Elis sebelum meninggalkan ruang perawatan Eldar.
"Terima kasih, Elis." Kata Eldar melihat bagaimana Elis rela meninggalkan keluarganya untuk datang ke Jakarta pada hal anaknya sedang sakit.
Elis hanya mengangguk. Ia kemudian mengikuti langkah Gina untuk ke rumah wanita hamil itu sedangkan Rangga menjaga Eldar.
"Tuan, sebaiknya anda makan walaupun hanya sedikit."
Eldar mengangguk. Ia harus kuat untuk bisa menemukan istrinya. Makanya ia pun makan walaupun hanya beberapa sendok saja. Setelah itu, karena pengaruh obat yang diminumnya, Eldar akhirnya tertidur.
************
Para pelayan yang tadinya menemani Kintan, satu persatu mulai kembali ke kamar mereka karena tak kuat jika harus mabuk.
"Apa yang sedang Eldar lakukan sekarang ya? Pastilah dia sedang menangisi istrinya itu. Ha...ha...., selamat jalan Neva." Kintan tertawa sambil kembali meneguk minumannya.
Ia kemudian mendengar suara kucing yang berbunyi. Tawa Kintan terhenti. Ia merasa kalau di rumah mereka ini tak ada kucing. Kintan memang tak suka ada binatang peliharaan di rumahnya.
"Hus....kucing, pergi sana !" kata Kintan sambil berjalan di halaman belakang dan berusaha mencari kucing itu.
Suara kucing itu pun menghilang. Kintan bermaksud akan kembali ke teras, namun ia mendengar seperti ada suara langkah. Kintan pun berbalik dan ia terkejut melihat Neva yang berjalan mendekatinya. Leher wanita itu ada bekas Lukas, baju putihnya pun penuh dengan lumuran darah.
"Pembunuh......! Pembunuh........." teriak sambil melangkah mendekati Kintan.
"Jangan.....jangan....!" Kintan ketakutan.
"Aku akan membunuh mu juga!"
"Jangan....ah.....ah.....Neva kau sudah mati, aku sudah membunuhmu!"
"Kintan....., Kintan.....
__ADS_1
Kintan membuka matanya. "Mama?"
"Kenapa kamu tidur di teras? Ayo masuk, ini sudah jam 3 subuh dan kamu justru tidur di sini."
Kintan langsung bangun dan memeluk mamanya. Ia lega karena tadi cuma mimpi. "Ma, temani Kintan tidur ya?"
"Ayolah!"
Namun saat Kintan akan menutup pintu, ia justru melihat ada sebuah bayangan putih yang ada di halamannya. Tidak, aku harus tenang. Aku nggak boleh takut. Neva sudah mati.
**********
Keesokan paginya, Eldar pun keluar dari rumah sakit. Ia segera mencari data tentang keberadaan penemuan mayat yang dimutilasi.
Eldar masih dipenuhi dengan kecemasan.
Polisi menemukan ponselnya Neva. Namun tak ada petunjuk di sana.
2 hari menunggu, akhirnya hasil tes itu keluar. Polisi segera memanggil Eldar untuk menjelaskan apa yang terjadi.
**************
Kintan bangun kesiangan hari ini. Ia mendapati kalau rumahnya dalam keadaan kosong. Papa dan mamanya hari ini berangkat ke Semarang karena semalam mendapatkan telepon kalau adik papanya meninggal.
Saat Kintan ke ruangan makan, semua makanan sudah di atur di sana sedangkan para pelayan sepertinya sedang sibuk di ruangan mau laundry dan beberapa lainnya sedang libur kerja karena sekarang hari Minggu.
Kintan pun duduk di depan meja makan sambil membuka penutup makanan. Kintan jadi lapar.
Namun baru saja ia akan mengambil makanannya, ia merasa kalau ada orang yang berjalan di belakangnya. Kintan melihat dari pantulan lemari kaca seperti ada bayangan putih. Jantung Kintan seperti berhenti berdetak. Ia pun segera membalikan badannya dan melihat ada seseorang yang berdiri di sana.
"Ne.....va...?"
"Kintan ." Wajah pucat Neva tersenyum menunjukan bibir dan bagian dalam mulutnya yang berdarah. Baju putih Neva juga berdarah.
"Tolong, tolong....!" teriak Kintan panik saat Neva mendekatinya dengan sebilah pisau di tangannya.
"Kau juga harus mati seperti aku, Kintan. Aku akan memutilasi tubuhmu seperti kamu memerintahkan agar aku dimutilasi."
"Jangan.....! Jangan.....!, Maafkan aku. Aku akui menyuruh orang membunuhmu. Neva, kembalilah ke alammu!"
"Kau harus mati!"
Kintan berlari ke luar rumah. "Tolong.....! Tolong......!" teriaknya panik sampai akhirnya Kintan jatuh dan kepalanya terbentur pada sebuah batu dan berdarah.
***********
__ADS_1
Apakah arwah Neva gentayangan?