
Eldar berdiri di balkon kamarnya yang ada di lantai dua. Ia sudah menggunakan setelan baju pengantin khas Jawa. Tinggal 30 menit lagi, ia akan menuju ke masjid tempat pelaksanaan akad nikah.
Semalam ia hampir tak bisa tidur. Ia menelepon Neva terus dan istrinya itu akhirnya menyarankan dia untuk sholat agar menemukan ketenangan hati. Dan benar saja, selesai Eldar sholat, ia pun bisa tidur walaupun hanya 3 jam saja.
Setelah ganti pakaian dan menikmati secangkir kopi pahit tanpa gula, Eldar pun menelepon Neva lagi.
"Sayang, kamu ada di mana?" tanya Eldar.
"Sudah ada di masjid mas. Kami sudah bersiap di sini."
"Kamu kok kedengarannya senang kalau aku akhirnya menikah dengan Kintan. Kamu akan punya madu, lho."
"Aku tahu kalau akan tetap akan menjadi satu-satunya di hatimu, mas. Kamu tenang saja. Madu yang ini tak akan pernah membuat aku cemburu karena aku yakin kalau dia nggak akan pernah menduduki hatimu."
"I love, baby. Love you more....more....and more...." Kata Eldar dengan seluruh rasa cinta yang ia miliki untuk gadis itu.
"I love you too my husband." kata Neva tak kalah mesranya dari seberang sana. "Mas, aku kerja dulu ya? Pokoknya mas jangan tegang. Santai saja. Serahkan semuanya padaku. Aku akan selalu ada untukmu. Bye..."
"Bye sayang......!"
"Kak.....!"
Eldar menoleh dengan kaget. Gina sudah berdiri di belakangnya. Ia terlihat cantik dengan dress putih panjang sampai ke mata kaki. Aura kecantikan ibu hamil yang membuat adiknya itu tambah cantik.
"Ada apa Gin?"
"Sudah berterus terang sama kak Kintan?"
"Belum. Aku nggak tahu harus ngomong gimana. Neva juga melarang aku."
Gina mendekat. "Kak, jujurlah sebelum akad. Kak Kintan berhak tahu tentang status kakak sebagai lelaki yang sudah beristri karena Kintan akan menjadi yang kedua bukan yang pertama."
Eldar menatap adiknya. "Sebenarnya aku tak ingin memiliki dua istri. Aku sangat mencintai Neva. Dia adalah wanita dalam hidupku. Situasi ini yang membuat aku tak bisa lepas dari janjiku sendiri. Aku juga nggak mau mami sampai kecewa."
Gina menarik napas panjang. Ada sesuatu yang sebenarnya ingin ia ceritakan pada kakaknya. Namun, apakah ini waktu yang tepat?
"Kakak, sebenarnya mami....mami sudah lama tahu hubungan kakak dengan mba Neva. Semenjak kalian masih ada di Sidney. Hanya saja......"
__ADS_1
"Eldar......!"
Panggilan itu menghentikan kalimat Gina. Kedua kakak beradik itu sama-sama menoleh ke dalam kamar. Ternyata itu adalah paman Jess, adik mami Elif yang menikah dengan orang Spanyol dan kini menetap di Bali karena bisnis mereka.
"Uncle Jess." Gina senang melihat kedatangan pamannya itu. Waktu dia menikah beberapa bulan yang lalu, paman mereka tak bisa hadir karena istrinya masuk rumah sakit karena terkena demam berdarah.
"Ayo turun ke bawah! Ada sedikit adat Turki sebelum kita berangkat ke masjid." Jess langsung menarik tangan Eldar dan tak memberikan kesempatan mereka untuk bicara. Eldar sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang adiknya katakan tadi. Namun begitu tiba di ruangan tamu, mereka langsung di sambut dengan alat musik khas Turki dan acara adat pun di mulai.
*************
Perasaan Neva mengatakan kalau sejak tadi ada yang mengawasinya. Namun Neva berusaha tenang dan berusaha agar tak curiga. Ia tak ingin apa yang sudah dipersiapkannya menjadi gagal total. Neva berusaha agar ia tak sendiri.
"Laura, tolong tetap di dekat mba ya? Soalnya kepala mba agak pusing."
"Baik, mba." ujar Laura.
Para keluarga pengantin mulai datang. Neva sedikit sok melihat banyaknya tamu yang hadir. Bukankah katanya hanya keluarga inti saja? Apakah keluarga Kintan dan mas Eldar sebanyak ini?
Neva melihat kedatangan Eldar dan Gina. Keduanya langsung mendekati Neva.
"Mba.....!" Gina langsung memeluk Neva. Ia tahu bagaimana perasaan wanita yang suaminya kini akan menikah dengan perempuan lain.
Gina melepaskan pelukannya. "Kak Kintan sudah datang?"
"Tuh!" Neva menunjuk sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman masjid.
Eldar menarik napas panjang. Ia menatap istrinya. "Kintan harus tahu sebelum akad nikah."
"Jangan mas!" Mohon Neva. Tanpa sadar ia memegang tangan Eldar dan hak itu dilihat oleh Elif.
"Tapi sayang .....!"
"Biar aku yang bicara dengan Kintan." Kata Neva. Ia segera menuju ke arah mobil Alphard putih yang baru saja berhenti. Ia meminta ijin untuk bicara dengan Kintan di dalam mobil.
"Ada apa, mba Neva?" tanya Kintan.
"Batalkan pernikahannya."
__ADS_1
Kintan menatap Neva dengan wajah kurang suka. "Hei, kamu ini hanya pengatur acara pernikahan kami. Jangan sok mengatur kehidupan kami."
"Karena kamu hanya akan menjadi istri kedua. Sebab sebelumnya Eldar sudah menikah."
"Aku nggak peduli." Kintan menatap Neva tajam. "Aku tahu kalau kamu itu perempuan murahan yang siap membuka kakinya pada siapa saja. Aku tahu kalau kalian sudah menikah di Malang. Aku tahu kalau Eldar adalah mantan pacarmu! Namun pernikahan kalian selamanya akan menjadi pernikahan rahasia. Karena aku yang akan tampil di publik sebagai istri sah Eldar."
"Baguslah kalau kamu sudah tahu!" Walaupun agak terkejut dengan fakta yang baru saja Kintan ucapkan namun Neva terlihat tenang. "Mas Eldar mencintaiku. Ia sama sekali tak mencintaimu!"
"Aku tak peduli. Aku yakin kalau aku akan memberikan apa yang mas Eldar inginkan. Karena kamu perempuan mandul yang tak bisa memberikan mas Eldar keturunan. Memangnya aku nggak tahu apa penyebab Genald dulu meninggalkan mu?" Kintan tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah ku katakan, batalkan pernikahannya kalau kamu tak ingin malu."
Kintan menatap Neva sinis. "Persetan denganmu!" Kintan mendorong pintu mobil untuk membukanya setelah itu ia turun.
Neva sebenarnya tak ingin mempermalukan Kintan karena di sini banyak orang. Namun ia tak akan membiarkan Eldar menikahi Kintan yang sedang hamil.
Saat Perempuan itu turun dari mobil. Seseorang tiba-tiba saja membekap mulut Neva dan menutup hidungnya dengan sebuah saputangan. Neva langsung pingsan dan membuat orang itu dengan leluasa membawa tubuh Neva untuk pergi.
**********
Penghulu sudah duduk di tempatnya. Para saksi pun demikian. Eldar dihentar oleh paman Jess untuk mengambil tempat yang sudah disediakan. Lelaki itu masih celingukan mencari Neva namun tak menemukannya. Hati Eldar menjadi gelisah. Apakah Neva pergi karena tak ingin menyaksikan pernikahan mereka? Ah Neva sayang, aku juga ingin pergi dari sini.
Setelah Eldar duduk, Kintan pun di bawa sang ayah menuju ke tempat akad. Ia menggunakan kebaya putih dan ada penutup kepala warna yang sama juga. Saat keduanya sudah duduk bersisian, sang penghulu pun memulai dengan kata-kata pembukaan.
Doa sebelum ijab kabul pun dimulai. Semua nampak khusyuk kecuali Eldar. Hatinya memberontak karena ia tak menemukan istrinya. Ia tak ingin Neva merasa tersakiti sekalipun istrinya itu sudah berulang kali mengatakan kalau ia rela.
"Mari, nak silakan di mulai." Ayah Kintan meraih tangan kanan Eldar dan menggenggamnya erat. Kintan tersenyum puas. Sebentar lagi ia akan menjadi nyonya Daksiano. Ia percaya sekarang Neva mungkin sudah tak bernyawa lagi. Untungnya Erdogan membeberkan semuanya sebelum pernikahan ini terjadi. Neva ternyata mantan pacar Eldar di Sidney dan mereka sudah menikah beberapa bulan yang lalu di Malang. Dan ia sudah mengatur semuanya untuk menyingkirkan Neva selamanya. Eldar mungkin akan sedih. Namun kehamilan Kintan akan membuat Eldar cepat melupakan Neva. Kintan juga sudah bekerja sama dengan Erdogan untuk membunuh anak Neva dan Eldar. Anak Kintan akan menjadi satu-satunya penerus keluarga Daksiano.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Eldar Prastiano Daksiano bin Putra Daksiano dengan anak kandung saya yang bernama Kintan Wulandari bin Muhammad Ahmad dengan maskawinnya berupa perhiasan seberat 100 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Kata ayah Kintan dengan begitu lancar.
Eldar terdiam. Ia lupa dengan apa yang harus ia katakan. Bayangan wajah Neva yang menangis pun membuat mulutnya tertutup.
"Mas.....!" Kintan menyiku pinggang Eldar karena kesal melihat Eldar hanya diam.
Air mata Eldar jatuh tanpa bisa ditahannya. Maafkan aku, Neva. Eldar pun menarik napas panjang. "Saya terima........"
************.
__ADS_1
Bagaimana keadaan Neva setelah diculik?