
Kintan mulai menguasai dirinya. Ia memang saat ini tak berani membuka sosial media karena sangat yakin apa yang terjadi tadi di masjid akan menjadi sangat viral.
Setelah mandi dan ganti pakaian, Kintan terkejut melihat mamanya ada di kamarnya dan sementara membersihkan kamarnya yang memang tadi sangat berantakan. Seprei juga sudah diganti karena tertumpah bedak dan berbagai skin care Kintan yang dibantingnya begitu saja.
"Ki...., kamu ingin makan?" tanya ibunya.
"Nggak selera, ma."
"Tapi kamu sedang hamil, nak. Jangan egois dan membiarkan anakmu kelaparan."
"Aku tak menginginkan anak ini. Aku berencana untuk menguburkannya."
"Astaghfirullah, nak. Sadar kamu! Minta ampun sama Allah."
"Anak ini adalah salah satu penghalang aku mendapatkan Eldar."
"Lupakan Eldar, nak. Dia tak mencintaimu. Mengapa kamu tak menghubungi lelaki yang sudah menghamili mu dan menikah saja dengannya?"
"Aku tak mencintainya."
"Tak mencintai? Lalu mengapa kamu tidur dengannya? Mengapa pergaulanmu sudah sebebas ini?"
"Sudahlah, ma. Aku tak akan bunuh diri hanya karena kejadian ini. Besok, aku akan mengurus visa ku agar bisa pergi ke Amerika. Aku rindu kakak dan ingin tinggal di sana selama beberapa waktu sampai kejadian ini akan mereka lupakan."
"Dan anak ini?"
"Sudah ku katakan kalau aku akan menggugurkannya."
"Nak, jangan seperti. Anak ini nggak berdosa. Kalau kamu memang tak mau merawatnya, biarkan mama yang merawatnya."
"Nggak!" tegas Kintan. "Eldar akan mendapatkan akibatnya karena sudah berani membuang ku. Neva pasti yang memutar video itu."Kintan tersenyum sinis. "Sayangnya, dia tak akan pernah menemukan kebahagiaan nya dengan Eldar. Dan Eldar akan menderita karena kehilangan dia."
"Kintan, apa maksudmu?"
Kintan tertawa sangat keras. Namun tak lama kemudian ia menangis sambil memeluk dirinya sendiri. "Aku mencintai Eldar, ma. Mama kan tahu dari kecil hanya Eldar yang aku inginkan."
"Anakku." Mama Kintan memeluk putrinya. Seburuk apapun seorang anak di mata orang lain, bagi seorang ibu, anak tetaplah anak.
**********
Eldar sudah mengganti pakaian pengantinnya dengan celana jeans dan kaos lengan panjang. Hari sudah malam dan keberadaan Neva belum ditemukan.
__ADS_1
"Tuan, apakah tidak sebaiknya anda makan dulu?" tanya Rangga karena ia tahu kalau sejak pagi Eldar belum makan.
"Aku tak bisa makan, Rangga."
"Tuan tenanglah dulu. Polisi sekarang sudah mencari keberadaan mobil itu dan sedang mencari keterangan dari beberapa orang. Sekalipun wajah penjahat itu tak nampak namun mereka bisa dikenali dari pakaian yang dipakai."
"Aku harus mencarinya, Rangga."
Eldar tiba-tiba mengingat sesuatu. "Astaga, Rangga. Bukankah kalung yang di pakai Neva aku desain khusus sehingga keberadaan kalung itu bisa dilacak?"
"Memangnya tadi nyonya memakai kalung itu?"
"Iya."
"Mana ponsel tuan. Bukankah aplikasinya di simpan di ponsel tuan?"
Eldar menyerahkan ponselnya pada Rangga.
Butuh waktu satu jam lebih sampai akhirnya Rangga bisa menemukan titik lokasi kalung itu berada. Rangga pun langsung menghubungi polisi. Eldar sendiri langsung mengajaknya untuk pergi ke tempat itu.
Tempat itu berjarak satu jam lebih dari tempat pelaksanaan akad. Sebuah jalan baru yang sementara di bangun dan belum di buka untuk umum. Namun karena polisi yang datang bersama mereka memiliki surat perintah, penjaga proyek jalan itu pun mengijinkan mereka masuk.
Setelah mencari selama hampir 2 jam, mereka pun menemukan kalung itu yang jatuhnya di pinggiran sungai kecil.
Polisi pun berpencar untuk mencari keberadaan Neva. Sampai akhirnya mereka melihat ada sebuah gudang tua yang letaknya tak jauh dari sana. Setelah gudang itu di masuki, mereka melihat ada sebuah kursi kayu yang di atasnya ada tali yang lumayan panjang. Sekitar satu meter dari kursi itu, mereka melihat ada ceceran darah.
Jantung Eldar seakan berhenti berdetak karena di dekat ceceran darah itu, ia melihat ada sepasang sepatu yang merupakan milik Neva karena sepatu itu merupakan hadiah dari Eldar untuk Neva.
"Ini sepatu istri saya!" ujar Eldar sambil memegang sepatu itu.
"Ambil sampel darah ini untuk diperiksa." kata Letnan Brandon.
Anak buahnya langsung melakukan apa yang diperintahkan.
"Tuan, tenang. Kuasai dirimu. Siapa tahu itu bukan darah nyonya." Rangga menepuk pelan pundak Eldar yang nampak terisak.
Eldar menghapus air matanya. "Mengapa kami tak pernah diijinkan bahagia sejak dulu? Mengapa harus ada orang yang memisahkan kami? Dan orang-orang itu justru mereka yang dekat dengan kami."
"Kita tunggu saja hasil pemeriksaannya."
3 jam kemudian......
__ADS_1
"Darah yang ditemukan itu golongannya B+" kata petugas forensik.
Eldar merasakan kepalanya benar-benar pusing.
"Apakah anda tahu apa golongan darah istri anda?" tanya petugas forensik itu.
"B+." Jawab Eldar sambil menekan rasa sakit di dadanya. Mereka kini sudah berada di rumah sakit setelah polisi menyatakan bahwa di sekitar gudang tak ada tanda-tanda keberadaan Neva. Mereka hanya menemukan jejak ban mobil yang jenisnya sama dengan mobil yang kedapatan membawa Neva.
"Kita harus memastikan bahwa DNA ini memang milik istri anda. Apakah ada saudara istri anda yang bisa diperiksa untuk memasukkan bahwa DNA ini memang milik istri anda."
"Sepupunya." Eldar menatap Rangga. "Suruh sepupu Neva datang ke sini! Kalau perlu naik jet pribadi kita agar perjalannya cepat."
"Baik, tuan!"
Eldar menyandarkan punggungnya di kursi ruang tunggu yang ada di rumah sakit Bhayangkari itu.
"Jangan tinggalkan aku, sayang. Aku akan sangat marah jika kamu pergi tanpa pamit seperti ini. Kembali padaku, sayang." guman Eldar tanpa bisa menahan air matanya. "Ya Allah, jangan tentukan takdir Mu yang akan memisahkan kami saat ini. Ijinkan keluarga kecil kami bahagia. Aku mohon padamu, ya Allah."
************
Pagi sudah menjelang namun Eldar sama sekali tak bisa memejamkan matanya. 2 jam yang lalu, ia akhirnya memaksa dirinya untuk makan supaya ia tahu menjadi lemah. Belum ada kabar apapun dari polisi yang sementara mencari Neva.
Adzan subuh terdengar. Eldar pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh.
Dalam doanya, Eldar kembali memohon sambil menangis agar Tuhan mengembalikan istrinya.
Selesai sholat, Eldar membuka pintu kamarnya saat Rangga mengetuk di sana.
"Tuan, Po....po....lisi menemukan beberapa potongan tubuh di jalan tol yang tak jauh dari gudang tua itu. Mereka meminta kita ke rumah sakit untuk mengidentifikasi, siapa tahu saja tuan bisa mengenalinya."
"Tidak mungkin kalau itu Neva."
"Potongan tubuh itu ditutup dengan sebuah gaun berwarna hijau lumut. Sama seperti gaun yang kemarin digunakan oleh nyonya."
Eldar menggeleng. "Nggak. Aku nggak mau ke sana. Itu bukan Neva. Neva belum mati. Ia tak akan mati dengan cara seperti itu karena dia orang baik. Tidak......!" Eldar berteriak histeris.
"Tuan, sebaiknya kita ke rumah sakit untuk memastikannya. Lagi pula, keluarga nyonya sebentar lagi akan tiba. Dan aku sudah memerintahkan sopir untuk menjemput mereka dan membawanya ke rumah sakit."
Eldar terduduk dengan lesu di depan pintu kamarnya. Tiba-tiba saja ia merasa sangat pusing. Tak sampai semenit, Eldar langsung pingsan.
***********
__ADS_1
Apa yang terjadi?
Komen yang banyak ya guys