TERJERAT CINTA MASA LALU

TERJERAT CINTA MASA LALU
Usaha Genald


__ADS_3

"Ma, aku mohon, berikan aku kesempatan." Genald yang melihat mamanya baru saja memasuki rumah sakit langsung mengejar langkah mamanya.


Tirta mengeraskan hatinya. Ia tetap melangkah tanpa mau menoleh ke arah anaknya.


"Ma....., mama ....!" Genald berhasil memegang tangan mamanya. Tirta berhenti lalu menatap putranya.


"Kamu mau apa?" tanya Tirta dingin.


"Aku mau ketemu papa, ma. Aku ingin melihat papa."


"Dia sudah sehat. Jika melihatmu, dia akan sakit lagi. Karena itu pergilah. Kamu juga harus keluar dari apartemen Neva. Jangan tinggal di sana lagi."


"Ma, aku nggak mau bercerai dari Neva."


"Tidak ada kesempatan lagi, Genald. Kamu juga jangan berani kembali ke rumah. Kamu sudah kami buang."


"Ma, Genald kan anak mama."


Tirta menarik tangannya dengan kasar. "Kamu bukan anakku lagi."


Genald akan mendekati mamanya namun bodyguard yang berjaga langsung menyeret Genald kembali ke luar rumah sakit. Genald kesal dan langsung menuju ke kantor. Namun alangkah terkejutnya dia ketika sampai di kantor, ruangannya sudah di isi oleh orang lain.


"Apa-apaan ini?" teriak Genald marah.


"Ada apa?" tanya pria yang duduk di depan meja kerja Genald.


"Mengapa kamu duduk di meja kerja saya?"


"Karena hari ini saya adalah manager di sini."


"Apa?" Genald terkejut. "Aku adalah manager di sini."


"Siapa bilang? Kamu hari ini dipecat."


Genald berbalik saat mendengar cerita itu. "Kakak?"


"Aku bukan kakak mu. Kamu saya pecat atas petunjuk direktur utama perusahaan ini." kata Gerry dengan wajah marah.


"Kak....!" rengek Genald. Namun Gerry sepertinya tak memiliki pengampunan. Ia langsung memanggil satpam dan memaksa Genald keluar dari kantor. Pria itu terlihat sangat marah namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.


*********


Sudah makan?


Neva tersenyum melihat pesan yang dikirimkan oleh Eldar.


Neva :


Belum, baru saja selesai ketemu klien. Ini baru mau otw ke apartemen


Eldar :


ini sudah jam 8 malam. Nanti kamu sakit.


Neva :


Aku sekarang jadi lebih kuat.


Tak ada balasan lagi dari Eldar. Namun, saat Neva sudah keluar dari lift untuk menuju ke apartemennya, ia terkejut melihat Eldar yang sudah berdiri di depan pintu unit miliknya.


"Ngapain kamu disitu?" tanya Neva.


"Nungguin kamu."


"Untuk apa?"


"Memberikan makan malam." kata Eldar sambil menyerahkan sebuah rantang bersusun tiga ke tangan Neva.


"Kamu masak lagi?"


Eldar mengangguk.


"Terima kasih, ya?" Neva segera memasukan password untuk membuka pintunya.

__ADS_1


"Ev.....!" panggil Eldar.


"Ya?"


"Ganti password nya. Nanti Genald bisa masuk."


"Terima kasih sudah mengingatkan." ujar Neva lalu membuka pintunya. Namun sebelum ia masuk, ia kembali menghadap Eldar. "El, bukan kamu kan yang mengirim foto-foto ini padaku dan mertuaku?"


"Itu memang aku."


Nev terkejut. "Kamu hampir saja membunuh papa Arya, El." Neva menunjukan kekesalannya pada cowok itu.


"Maaf. Itu aku sesali karena nggak tahu kalau om Arya punya riwayat sakit jantung." kata Eldar dengan wajah penuh penyesalan.


"Mengapa kamu lakukan ini, El?"


"Agar kamu tak semakin bodoh menyakiti dirimu sendiri. Aku ingin kamu bahagia, Ev. Karena aku terlalu membuat kamu terluka di masa lalu."


Kita sebenarnya sama-sama terluka, El. Karena kita tak mengetahui kebenaran yang terjadi. Sebenarnya ingin sekali Neva mengatakan itu namun semuanya hanya ia bisikan ke hatinya sendiri. Neva pun segera masuk ke dalam apartemennya. Ia langsung mengganti password nya dan berjalan ke ruang makan.


Setelah mencuci tangannya, Neva menikmati makanan yang diberikan Eldar padanya. Perempuan itu menikmatinya sampai ia merasa sangat kenyang. Setelah itu, Neva pun ke kamar untuk mandi dan beristirahat. Namun, baru saja ia akan tidur, ia mendengar bunyi bel pintu apartemennya. Dari cara orang itu membunyikan bel pintu, Neva tahu siapa dia.


"Ada apa, mas?" tanya Neva dari balik pintu tanpa membuka pintunya.


"Apa yang kau lakukan, Neva? Mengapa kau mengganti password nya?" teriak Genald.


"Untuk apa lagi kamu datang ke sini, mas? Cepat pergi!" usir Neva.


"Kamu gila ya? Aku ini masih suamimu."


"Maaf, mas. Besok sidang pertama kita akan dimulai."


"Neva, siapa juga yang mau bercerai denganmu? Aku nggak mau."


"Pergilah, mas. Niatku sudah bulat untuk bercerai denganmu. Untuk apalagi pernikahan ini dipertahankan?"


"Neva, please, buka pintunya. Aku mohon!" suara Genald menjadi lembut.


"Nggak, mas. Aku nggak mau mas menyakiti aku lagi."


"Nggak, mas. Nanti kita ketemu di pengadilan. Selamat malam!' kata Neva lalu segera meninggalkan pintu masuk dan menaiki lantai dua apartemennya.


"Neva....buka.....! Brengsek kamu, Neva!" Genald akhirnya pergi setelah suaranya sedikit serak karena meneriaki Neva terus. Ia juga takut kalau penghuni apartemen yang lain akan merasa terganggu dengan teriakannya. Ia pun memilih pergi.


Ponsel Neva berbunyi. Ia yang baru saja membaringkan tubuhnya segera menggeser tombol hijau itu.


"Hallo....!" Sapa Neva sambil tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Memangnya aku kenapa?"


"Aku dengar tadi suamimu berteriak di depan pintu apartemen mu."


"Biarkan saja. Aku nggak peduli. Aku sama sekali tak memperdulikan dia lagi."


"Besok lapor ke management apartemen. Sehingga Genald tak diijinkan masuk lagi. Singkirkan semua barang-barang nya."


"Aku nggak tahu harus mengirim barang-barangnya kemana, El."


"Bawa besok ke pengadilan. Dan pindahkan ke mobilnya."


"Baiklah."


"Nah, gitu dong. Semangat untuk bercerai."


"Jadi janda itu nggak mengenakan, El."


"Masih banyak pria yang suka sama janda. Sekarangkan banyak janda yang semakin di depan."


Neva tertawa mendengar perkataan Eldar. "Kamu bisa aja, El."


"Ev, aku ke sana ya?"

__ADS_1


"Jangan, El. Nggak baik dalam pandangan orang. Sekarang kan aku masih dalam proses perceraian."


"Jadi, kalau perceraiannya sudah selesai, kamu mau aku dekati?"


"Nggak boleh. Kamu sudah bertunangan. Kemarin mami mu menghubungi untuk pergi ke butik. Tim WO kami akan dipesankan seragam juga."


"Aku ingin membatalkan pertunangan kami, Ev. Aku nggak mencintai Kintan."


"El, kamu jangan gitu. Kamu akan membuat dia patah hati."


"Aku akan menikah dengan Kintan, setelah aku menikah dengan kamu."


"Maksudnya?"


"Kamu jadi istri pertamaku, dan Kintan istri kedua."


"El, jangan ngelantur bicaranya. Aku nggak mau menjadi orang ketiga diantara hubungan kalian. Bye...." Neva langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Neva memang masih mencintai Eldar. Tapi dia tak mau menyakiti Kintan.


*********


Sidang pertama pun dimulai. Mediasi dilaksanakan untuk melihat apakah ada kemungkinan untuk rujuk atau tidak. Namun Neva menolak. Walaupun Genald memainkan rayuan gombalnya dengan mengatakan kalau ia mencintai Neva, ia bahkan sampai menitihkan air mata, namun Neva tak goyah. Apalagi mama Tirta yang mendampinginya selalu memberikan Neva kekuatan agar tetap bercerai dari Genald.


Selesai sidang, Neva pun mengeluarkan 3 koper yang berisi barang-barang Genald. Ia meminta sopir mama Tirta untuk memindahkan semuanya ke mobil Genald.


"Nev, kok barang-barang aku kamu keluarkan sih?" tanya Genald dengan wajah penuh permohonan.


"Maaf, mas. Aku nggak mau kamu menginjakkan kakimu lagi di sana. Lagi pula, apartemen itu milik aku sebelum kita menikah, jadi itu adalah hal ku sendiri." kata Neva tegas.


"Sombong kamu sekarang karena orang tua ku memihak padamu." Genald terlihat kesal. Neva hanya tersenyum. Ia segera berbalik dan menuju ke mobil mama Tirta.


"Genald bilang apa?" tanya mama Tirta.


"Nggak, ma. Dia sepertinya masih ingin tinggal di sana."


"Jangan pedulikan dia. Oh ya, kamu mau balik ke kantor?"


"Iya, ma. Ada banyak pekerjaan di bulan ini. Neva balik dulu ya? Nanti besok, Neva jenguk papa di rumah."


Tirta tersenyum. Ia memeluk Neva. "Kamu tetap anak mama."


"Terima kasih, ma." ujar Neva tanpa bisa menahan air matanya. Ia pun segera naik ke mobilnya dan pergi ke tempat kerjanya.


**********


Saat Neva pulang kerja, ia memarkir mobilnya di tempat biasa. Begitu ia keluar dari mobil, ia kaget melihat Genald ada di sana. Tadi mereka sudah selesai dengan sidang kedua, dan keputusan Neva tetap sama. Ia ingin bercerai.


"Nev, boleh kita bicara?" tanya Genald. Ia masih menggunakan pakaian tadi yang ia pakai ke pengadilan. Nampaknya ia sedikit mabuk karena tercium bau alkohol dari sana.


"Mau bicara apa lagi? Bukankah tadi di pengadilan aku sudah mengatakan semuanya? Aku mau bercerai."


"Neva, lihat aku. Hidupku sekarang tersiksa. Aku sudah jadi pengangguran, Silva meninggalkan aku dan kembali ke Kanada, aku bahkan harus tinggal di sebuah tempat kost untuk menghemat biaya pengeluaran ku."


"Silva meninggalkan kamu?" Neva rasanya ingin tertawa.


"Ya. Tadi Silva sudah pergi. Katanya ia tak mau punya pacar yang pengangguran. Bujuklah orang tuaku, Nev. Minta mereka untuk memperkerjakan aku lagi. Aku benar-benar butuh uang sekarang, Neva."


"Mas, jual saja mobilmu. Bukankah itu terlalu mewah untuk seorang pengangguran?"


Genald menatap mobil jaguar nya. "Apa katamu? Jual? Mana bisa? Lalu aku pakai apa?"


"Naik motor kan bisa? Belajarlah untuk hidup sederhana, mas."


"Belagu kamu! Dasar anak pembantu yang tak tahu diri." Genald mendorong tubuh Neva dengan sangat kuat. Neva terjatuh. Genald mendekat dan akan memukul Neva namun sebuah tangan yang kekar, menahan tangan Genald lalu kemudian mendorong tubuh Genald dengan sangat kuat sampai akhirnya Genald jatuh tersungkur.


"El....?" Neva terkejut melihat penolongnya itu adalah mantan kekasihnya.


***********


Hallo semua.....


Sehat selalu ya ...


Jangan lupa bahagia

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca bab ini


__ADS_2