
"Selamat pagi, sayang." Eldar memeluk Neva dari belakang membuat istrinya yang sedang menyiapkan meja makan terkejut.
"Mas, kamu mengagetkan aku saja."
Eldar mengecup bahu Neva.
"Kamu harum." kata Eldar dekat di telinga Neva.
"Aku kan sudah mandi. Mas sudah mandi?"
"Iya."
"Kalau begitu ayo kita sarapan."
"Sarapan apa? Aku sudah sangat lapar."
"Ada roti, nasi goreng dan sup. Nasi putih, sama telur mata sapi. Susu dan kopi. Itu aja yang ku pesan. Mas mau minum apa? Di dapur sini juga tersedia beberapa jenis minuman hangat."
Eldar memutar tubuh istrinya sehingga kini berhadapan dengannya. "Aku susu saja."
"Baiklah akan ku siapkan."
Neva akan membalikan tubuhnya untuk menyiapkan susu namun Eldar dengan cepat menahan bahunya.
"Ada apa mas?"
"Aku mau susu segar. Langsung dari pabriknya." .
Neva mengerutkan dahinya. "Aku nggak tahu apakah dari pihak villa ini menyiapkan susu segar. Apakah aku telepon dulu?"
"Nggak perlu. Susunya ada di sini." kata Eldar lalu dengan cepat langsung menaikan kaos Neva.
"Mas......!" hanya itu yang bisa Neva katakan Karena Eldar sudah membuka pengait penutup gunung kembarnya dan menikmati apa yang baru dikatakannya tadi.
"Enak....!" kata Eldar sambil menurun kan kembali kaos Neva.
"Dasar mesum!" Wajah Neva menjadi merah. Ia mencubit tangan Eldar.
"Aow ...., sakit sayang....!"
"Tolong kaitkan kembali!" Neva membelakangi Eldar dan meminta suaminya itu mengaitkan kembali penutup gunung kembarnya namun Eldar justru mendaratkan kedua tangannya di sana.
"Aku mau sayang...." katanya dengan suara parau dan akhirnya, Neva tak bisa menolak saat Eldar mengajak nya bercinta di ruang makan dalam keadaan berdiri.
**********
Selesai makan, Neva menghubungi OB untuk membersihkan ruang makan.
Eldar memeriksa ponselnya yang sejak tadi malam sengaja dimatikannya. Alangkah terkejutnya ia mendapati ada banyak panggilan dan pesan dari maminya dan juga Kintan.
Sebelum berangkat ke Malang, Eldar memang mengatakan pada mamanya kalau ia dan Rangga ada proyek di Surabaya. Pertama, Eldar pun menghubungi maminya.
"El, kamu kemana aja kemarin? Seharian mami hubungi kamu namun kamu nggak ada." langsung terdengar suara melengking maminya membuat Eldar harus menjauhkan ponselnya.
"El kerja, mi. Kemarin sibuk sekali sampai lupa kalau ponselnya habis baterai. Ada apa sih?"
"Ada teman mami di Surabaya ingin menitipkan sesuatu buat mami. Katakan saja hotelmu di mana supaya dia bisa mengantarnya ke sana."
Eldar kaget. "Eh ...El nggak ada di Surabaya sekarang, mi."
"Katanya kalian seminggu di sana."
Eldar menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "El sekarang ada di Ba.....Bandung."
"Kok bisa ke sana?"
"Dapat bisnis baru."
__ADS_1
"Ya sudah. Sekarang telepon Kintan. Dia dari kemarin kesal karena kamu nggak bisa dihubungi."
"Iya, mi. Aku akan telepon Kintan." kata Eldar lalu mengahiri panggilannya. Ia meletakan ponselnya di atas meja.
"Kok nggak telepon Kintan, mas?" tanya Neva membuat Eldar menoleh ke arahnya.
"Nanti sajalah."
"Mas, kita kan baru saja sembuh dari sakit. Pasti dia butuh perhatian."
Eldar berdecit kesal namun ia mengambil juga ponselnya dan menghubungi nomor Kintan. "Hallo, Ki..., apa kabar?"
Neva segera meninggalkan Eldar yang sedang menelepon Kintan. Ia memilih untuk nonton TV di ruang tamu.
Tak lama kemudian, Eldar masuk ke dalam dan ikut duduk di samping Neva. Ia melingkarkan tangannya ke bahu Neva dan menarik istrinya itu untuk duduk semakin menempel padanya.
"Ev, saat kita berdua, bisa nggak sih kamu jangan sebut nama Kintan? Itu membuat mood ku jadi bete."
Neva memandang Eldar. "Mas, kita harus membiasakan diri untuk selalu melibatkan Kintan. Sekarang memang hanya ada aku dan kamu. Namun beberapa bulan ke depan akan ada aku, kamu dan Kintan. Bukankah sebelum menikah kita sudah sepakat kalau kamu ingin membagi waktu yang adil antara aku dan Kintan?"
"Tapi kan sekarang istri aku hanya kamu."
"Bukan hanya aku, Mas. Tapi baru Ku. Selanjutkan akan ada Kintan. Sudah ku katakan, aku tak mau mendirikan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain."
Eldar memiringkan posisi duduknya agar menghadap Neva. "Tapi kan ini bukan madu kita, sayang. Aku hanya ingin kita berdua."
Neva tersenyum. Tangannya terangkat dan membelai wajah Eldar. "Baiklah, tampan. Sekarang kita ke pantai yuk! Katanya kita mau berenang di sana."
Eldar mengangguk. "Ayo. Jangan lupa ambil sunblock di kamar."
"Ok."
Eldar memandang punggung Neva yang menghilang di balik pintu kamar. Andai kami bisa lebih lama di sini.
**************
"Mas, sudah ya? Pesawatnya berangkat jam 8 malam, lho. Dan ini sudah jam 5. Kita kan masih harus mandi dan makan." kata Neva sambil mengangkat tangan tanda ia menyerah.
Eldar terkekeh. Ia merasa mereka berdua memang sangat hot di hari ini. Selesai sarapan tadi pagi, mereka langsung masuk kamar dan bercinta. Mereka hanya berhenti untuk makan siang dan selesai makan, Eldar kembali menarik Neva untuk bercinta di kamar.
"Masih boleh, kok sayang. Rangga pasti sudah di bandara untuk cek in."
"Tulang-tulang ku rasanya remuk semua, mas. Kamu memangnya nggak capek minta bercinta terus?"
"5 tahun lebih kita berpisah. Rasanya ditebus dengan bulan madu selama 3 hari nggak akan cukup, sayang." Eldar mengusap punggung Neva yang sedang tidur tengkurap. "Tubuhku langsung bereaksi setiap kali kulit kita bersentuhan."
"Apakah kamu termasuk lelaki yang maniak, mas?"
Eldar tertawa. "Mungkin. Namun hanya padamu. Karena pada gadis yang lain, sekalipun mereka sudah berpenampilan nyaris telan*ang, aku sama sekali tak tertarik."
"Masa sih?" Neva terdengar sanksi.
"Kamu nggak percaya? Aku sudah buktikan itu pada Kintan. Sewaktu aku bersamanya, seperti ada sesuatu yang membakar diriku. Namun saat selesai bercinta dan Kintan kembali menggodaku, aku justru kehilangan rasa."
Neva hanya terkekeh. "Mas, jika kita pulang nanti, kita akan tinggal di mana? Di unit apartemen masing-masing saja?"
"Nggak. Kamu saja yang pindah ke tempatku."
"Bagaimana kalau Kintan dan mami mu datang? Mas saja yang datang ke tempatku ya? Anggap saja kita punya dua rumah."
"Untuk sementara saja, sayang. Jika rumah kita sudah selesai, aku ingin kita tinggal di rumah baru kita."
"Baiklah, mas."
Eldar mengecup punggung Neva. "Rasanya nggak mau pulang." kata Eldar.
"Aku juga. Tapi pekerjaan ku sangat banyak di kantor. Tadi pagi ibu Lorry sudah ingatkan supaya besok harus segera masuk."
__ADS_1
"Kita mandi saja." Eldar bangun dan segera turun dari ranjang dengan tubuh polosnya.
"Mas mandi saja lebih dulu. Aku mau bereskan baju-baju kita sebentar."
Eldar mengangguk. Ia pun segera masuk ke kamar mandi.
***********
Jam 22.30, Eldar, Neva dan Rangga akhirnya tiba di Jakarta. Namun, saat akan keluar dari bandara, Neva segera bersembunyi.
"Ada apa, Ev?" tanya Eldar.
"Ada Kintan."
"Di mana?"
"Di depan. Kayaknya dia mau menjemput kamu, mas."
"Kok dia bisa tahu aku pulang malam ini." Eldar terlihat kesal. "Astaga, pasti mami yang bilang. Tadi pas mami telepon aku bilang sudah ada di bandara."
"Pergilah, Mas. Aku akan pesan taxi saja."
Eldar menggeleng. "Nggak, sayang. Mana bisa aku membiarkan kamu pulang sendiri. Apalagi sekarang sudah larut."
"Mas, aku akan baik-baik saja."
Eldar menatap Rangga. "Rangga kamu temani istriku. Aku akan keluar lebih dulu untuk menemui Kintan." Eldar memberi perintah dan Rangga mengangguk patuh.
Eldar pun dengan berat hati menemui Kintan yang sudah menunggu nya.
"Sayang ....!" Kintan langsung berlari dan memeluk Eldar. "Kamu pasti terkejut melihat aku di sini, kan?"
"Ya. Sangat terkejut"
"Mana Rangga?"
"Sedang bersama pacarnya. Nggak tahu kemana. Ayo kita pergi!" ajak Eldar.
Pukul 1 dini hari, Neva mendengar pintu kamarnya terbuka.
"Mas?" panggil Neva karena ruangan kamarnya agak gelap.
"Ya sayang ...!" Eldar naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping Neva. "Kintan baru saja pulang setelah aku mengatakan bahwa Rangga akan datang dengan pacarnya."
"Tidurlah, mas."
"Iya sayang. Selamat malam." Eldar mengecup bibir Neva lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
Neva pun tersenyum sambil menutup matanya.
***********
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Kintan pada seseorang di telepon.
"Tuan Eldar tidak dari Surabaya. Melainkan dari Bali. Tadi, hanya pesawat dari Manado, Medan, Makassar dan Bali yang turun sesuai dengan jam kedatangan tuan Eldar."
"Oh ya?"
"Saya juga mendapati kalau nona Neva ada di bandara tadi. Namun ia bersama dengan tuan Rangga."
Kintan mengepalkan tangannya. Neva? Apakah mereka bersama?
************
Apakah Kintan akan segera tahu pernikahan Eldar dan Neva?
Dukung emak terus ya guys
__ADS_1