
Neva menghentikan mobilnya di sebuah rumah sakit. Ia turun dengan sangat tergesa. Sejak menerima telepon semalam, pikirannya memang sudah tak tenang.
Di depan ruang perawatan nomor 12A, Neva berhenti. Ia mengetuk pintu lalu membukanya perlahan.
Ada seorang pria berusia sekitar 60an terbaring di sana. Nampaknya ia sedang tidur. Sedangkan di sampingnya ada seorang pria tampan yang sedang duduk menjaganya.
"Kak Neva!" pria itu langsung berdiri dan menyambut Neva dengan wajah senang.
"Bagaimana keadaan paman?"
"Sudah mulai stabil jantungnya."
Neva menarik napas lega. "Bibi dimana?"
"Mama pulang bersama kak Dona. Aku minta mama istirahat di rumah saja."
Neva memeluk pria tampan itu. Namanya Enrick. Anak dari pasangan Carlos dan Angelina. Pasangan suami istri yang sudah menyelamatkan hidupnya dulu. Ia dan Dona sudah dianggap sebagai anak dari keluarga ini. Enrick bahkan sangat menyayangi mereka berdua.
"Kenapa kalian bisa ada di Jakarta? Bukankah kalian ada di Amerika untuk menghadiri wisuda mu?"
"Kami rencananya mau liburan, kak. Tapi, papa mau mengajak Ekel untuk ikut. Makanya kami ke sini. Namun kejadiannya sungguh tak terduga. Papa kena serangan jantung. Kata dokter, papa kelelahan."
Neva menatap pria berusia 50an itu yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri. "Paman, cepat sembuh ya?" Neva menyentuh tangan Carlos dan menggenggamnya lembut. Air matanya mengalir mengingat bagaimana Carlos adalah salah satu orang yang membuatnya kuat saat menghadapi hal terberat dalam hidupnya. Bukan hanya materi yang ia berikan tapi juga kasih sayang.
Enrick tersenyum senang. Ia tahu, kedatangan Neva akan membuat papanya senang.
"Rik, sebaiknya kamu istirahat saja. Kakak akan menjaga paman di sini."
Enrick mengangguk. Ia juga sebenarnya sangat mengantuk. Neva membiarkan Enrick tidur di sofa yang memang tersedia di sana.
Ada rasa bahagia di hari Neva saat dekat dengan keluarga ini. Mereka memang berbeda keyakinan. Tapi, saat Neva ada di Filipina, mereka selalu mengingatkan Neva untuk rajin sholat.
3 jam berlalu, Neva membiarkan Enrick tidur tanpa diganggu olehnya. Terlihat kalau adiknya itu sangat lelah. Sampai akhirnya, ponsel Neva berbunyi. Eldar meneleponnya dengan panggilan Videocall. Neva buru-buru masuk toilet.
"Ada apa, mas?" tanya Neva.
"Kamu di mana sayang?"
"Di dalam toilet. Baru selesai buang air kecil."
"Memangnya ada di mana?"
"Masih di tempat kegiatan."
"Pulangnya kapan?"
"Mungkin di atas jam 10 malam, mas."
"Lama sekali. Aku kesepian nih!" Eldar memasang tampang wajah yang menyediakan.
"Mas kan bisa bersama Rangga."
"Kamu kan tahu kalau Rangga adalah manusia silent. Nggak akan bicara jika tak diajak bicara."
Neva tertawa mendengarnya. "Mas bisa aja. Sekarang aku akhiri panggilannya ya? Aku mau kembali kerja. Bye...." Neva langsung keluar dari kamar mandi. Nampak Carlos sudah membuka matanya.
"Paman ....!" Neva langsung mendekat. Enrick pun nampaknya sudah bangun.
"Anakku." Carlos tersenyum melihat Neva.
"Papa yang kuat ya?"
__ADS_1
Carlos mengangguk. Ia bersyukur pernah menabrak Neva saat itu. Ia yang dulu hanya memiliki satu anak, kini menjadi memiliki tiga anak.
Angelina juga datang. Ia langsung memeluk Neva. "Sayang, kamu tambah cantik saja setelah menikah dengan mantan mu itu."
Neva tersipu. Ia memang tak ada rahasia dengan orang tua angkatnya ini. Mereka bahkan yang mendorong Neva untuk menerima Eldar kembali setelah mereka tahu bahwa Eldar sama sekali tak pernah mengabaikan Neva di masa lalunya.
"Eldar baik, bi."
"Dan kau memang sangat mencintainya. Apakah mama Tirta sudah tahu?"
Neva menggeleng. "Mama Tirta belum tahu. Aku memang sangat bingung bagaimana harus mengatakan padanya. Aku tahu, mama Tirta masih berharap agar aku dan mas Genald akan kembali rujuk."
"Sudahlah. Jangan kembali pada lelaki toxic itu. Sekarang pergilah ke rumah."
"Baik, bi. Nanti besok aku balik lagi ya?"
Neva pun meninggalkan rumah sakit. Menuju ke sebuah rumah di kompleks perumahan mewah. Untuk masuk saja, ada penjagaan ketat dari satpamnya.
Mobil Neva berhenti di sebuah rumah yang letaknya paling ujung dan agak berjauhan dengan rumah-rumah yang lain. Neva pun turun sambil tersenyum. Ia membuka pintu pagar dan masuk tanpa mengetuk pintu yang memang terbuka.
"Assalamualaikum!" sapa Neva
Seorang anak kecil berlari keluar dari sebuah ruangan. "Mommy.....!"
************
Jakarta hampir 6 tahun yang lalu ...
"Neva, tenang. ....!" Angelina memegang tangan Neva.
"Jangan ambil anakku ya Allah...! Jangan.....!" teriak Neva.
Angelina langsung memeluk bayi itu dari tangan perawat dan meminta sang perawat membantu dokter dan bidan.
Sementara para medis berjuang dalam menyelamatkan Neva, Angelina meletakan bayi itu di atas ranjang kecil khusus bayi. Ia menepuk-nepuk pipi bayi kecil itu sambil memberikan pijatan di dadanya. Sebagai seseorang yang bekerja di yayasan ibu dan anak, Angelina sudah memiliki banyak pengalaman dengan kelahiran bayi yang bermasalah.
"Carikan darah untuk transfusi!" teriak dokter panik.
Tiba-tiba.......
Sang bayi tersedak dan mengeluarkan suara kecil sampai akhirnya ia menangis sangat kencang.
Dokter dan bidan saling berpandangan. "Allah hu Akbar!" ujar sang dokter. "Ibu Neva, berjuanglah, anakku masih hidup."
Neva yang hampir kehilangan kesadarannya masih sempat mendengarkan perkataan dokter. Ya Allah, berikan aku kesempatan untuk hidup.
Selama 2 Minggu, Neva dan anaknya mengalami perawatan intensif di rumah sakit.
Carlos datang dan menamai anak itu Annavaran Miracle yang artinya Mujizat pemberian Tuhan. Dia diberi nama panggilan Ekel.
Saat Neva kembali tinggal bersama ibunya di rumah keluarga Arya, Neva pun selalu menemui putranya yang dijaga oleh Donna dan tuan Carlos bersama istrinya. Mereka menyayangi EKel. Begitu juga dengan Nyonya Tirta.
Sampai akhirnya Neva dijodohkan dengan Genald oleh tuan Arya. Neva sebenarnya mati-matian menolaknya. Namun nyonya Tirta sangat menginginkan Neva menjadi menantunya dengan harapan Neva dapat membawa perubahan pada sikap manja Genald. Karena ibu Neva yang sudah sakit parah, akhirnya Neva setuju menikah walaupun pada akhirnya sang ibu meninggal seminggu setelah pernikahannya.
**********
"Ekel sayang, kemana mommy Donna?" Neva langsung memeluk anaknya. Mau dilihat dari sisi manapun, anaknya ini sangat mirip dengan Eldar. Neva memang ingin mengatakan pada Eldar mengenai anaknya ini, namun Neva masih takut dengan reaksi Eldar, juga dengan reaksi Ekel. Anaknya ini memang tidak mudah menerima orang lain yang asing baginya.
"Mommy Donna lagi mandi. Ekel senang mommy Eva ada di sini." Begitulah cara Ekel memanggilnya. Tak ada yang mengajarkan, tiba-tiba saja ketika Ekel sudah bicara bicara, ia memanggil Neva dengan sebutan Eva. Sama seperti cara Eldar memanggilnya.
Setiap hari, Neva selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama Ekel. Kecuali jika Ekel di bawa Donna ke Filipina karena memang tuan Carlos sudah tak menjadi duta besar Filipina untuk Indonesia.
__ADS_1
Rumah ini adalah pemberian tuan Carlos untuk Ekel. Dia mau cucunya itu (begitulah tuan Carlos menyebutnya) tidak tinggal di apartemen tapi di rumah yang halamannya luas agar Ekel bisa puas bermain.
Nyonya Angelina memang masih sering ke Jakarta karena yayasan yang dikelolanya. Nyonya Tirta juga rutin mengunjungi Ekel setiap seminggu sekali.
Jika Genald tak pulang, Neva memang senang menghabiskan waktunya di sini.
Neva pun menyempatkan diri menyuapi Ekel makan malam setelah itu ia pamit pulang setelah menidurkan Ekel.
"Nev, kamu kan sudah menikah dengan Eldar. Kenapa belum jujur masalah Ekel?" tanya Donna.
"Aku takut, Na. Aku belum berani Apalagi status pernikahan kami yang masih disembunyikan. Aku nggak tahu bagaimana reaksi keluarga Eldar saat tahu tentang aku, apalagi tentang Ekel. Aku nggak mau Ekel sampai nggak tenang kehidupannya. Anakku sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Ia berlimpah kasih sayang dari aku, kamu, mama Tirta, bahkan keluarga paman Carlos."
Donna hanya mengangkat bahunya. Sebenarnya ada sesuatu yang ia masih simpan. Namun ia juga takut mengutarakannya pada Neva.
***********
Jam 10 malam Neva tiba di apartemen miliknya. Eldar tak ada. Neva pun menelepon suaminya itu, ternyata Eldar ada di unit miliknya. Saat Neva sudah selesai mandi, Eldar pun sudah berada di kamar.
"Capek ya?" tanya Eldar lalu memeluk Neva yang sedang duduk di sofa.
"Nggak juga. Mas sudah makan?"
"Sudah. Tadi bersama Rangga. Kebetulan Rangga hari ini ulang tahun."
"Wah, aku nggak sempat memberikan ucapan selamat dong. Sekarang Rangga di mana?"
"Mungkin sudah tidur."
"Mas, Rangga itu sudah punya pacar nggak?"
"Kenapa memangnya?"
"Kalau belum, aku ingin menjodohkan Rangga dengan seseorang."
"Siapa? Donna?"
Deg! Neva terkejut karena Eldar menyebutkan nama Donna. Bukankah sudah lama berlalu?
"Mas kok tiba-tiba menyebut nama Donna?"
"Siapa lagi temanmu selain Donna?"
Neva menelan salivanya. "Bagaimana mas tahu kalau kami masih berteman?"
"Aku lihat kalau dia selalu menyukai apapun yang kau bagikan di akun medsos mu."
"Oh...." Neva buru-buru tersenyum. "Kita tidur yuk, mas."
Eldar menahan tangan Neva. "Sayang, aku kok merasa hari ini kamu sepertinya sedang berbohong padaku."
"Bohong?"
"Kamu nggak dari tempat kerja kan?"
"Ha?" Keringat dingin sudah membasahi wajah Neva. Apakah Eldar mengikutinya?
***********
Selamat sore semuanya
semangat terus yang masih puasa ya....
__ADS_1