
Pukul setengah sepuluh malam, bumi masih di guyur hujan cukup lama. Dua bodyguard Mami Deby rupanya mengikuti dan menunggu Arkan di depan rumah Rachel dalam sebuah mobil hitam.
"Jam berapa sekarang? kenapa dia belum muncul kawan?" tanya Ricko pada temannya.
"Aduh, telpon deh, Rick. Bahaya ni kalau dia asal main ma cewek polos itu. Jangan sampai dia jatuh cinta," tukas Aldo.
"Iya, lo bener. Bisa di marahin Mami Deby kita," timpal Ricko.
Richo meraih ponselnya dan menghubungi Arkan. Arkan tersentak mendengar ponselnya berdering dari saku. Sekalipun Arkan tidak pernah meninggalkan barang penting itu walaupun Ia jarang menyentuhnya.
Arkan menatap layar itu dan langsung menggeser tombol penyambung antara Ia dan Ricko.
"Halo, Rick."
"Astaga, Bos. Ngapain kelamaan di dalam cepetan keluar? lo lupa, ada kerjaan besar menunggu," ucap Ricko mengingatkan Ia setiap waktu, sudah seperti jam weker untuk Arkan.
Barulah Arkan ingat, misi besarnya malam ini. Ia tidak akan bisa menginap dirumah Rachel. Ia harus menemui wanita yang sudah membooking nya dengan menjanjikan uang yang banyak. Arkan tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan langka itu bila Ia sampai mengecewakan pelanggannya.
"Oke, Oke, aku keluar sekarang."
Arkan pergi kekamar Rachel untuk berpamitan tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar Rachel, mungkin Rachel sudah tertidur pulas.
"Kakak pamit, Hel," gumam Arkan seorang diri. Sebagai seorang pekerja malam dirinya harus bisa melupakan tentang namanya jatuh cinta dan menjadi orang bebas. Apalagi berniat mengikat hati pada wanita mana pun yang baru bertemu dengannya.
Arkan secepatnya memainkan jari jemarinya mengetik sebuah pesan yang Ia kirim lewat chat WA namun langsung menunjukkan centang dua berwarna biru itu artinya Rachel telah membacanya.
Tak lama setelahnya, Arkan mendengar Rachel membuka pintu untuk Arkan dan mengamati wajah pemuda itu dengan wajah murung.
"Kakak mau pergi sekarang?" tanyanya sedikit serak.
__ADS_1
"Iya, Hel. Maaf, Kakak harus melakukan sebuah pekerjaan yang tidak bisa sesaat saja Kakak tinggalkan. Jaga diri mu baik-baik ya!" Arkan mengusap pucuk kepala Rachel dan pergi dengan tergesa-gesa.
Rachel mengintip dari jendela kamarnya, Ia melihat Arkan masuk kesebuah mobil mewah sedangkan motor gedenya di bawa seseorang yang tidak bisa Rachel kenali karena wajahnya tertutup oleh jas hujan.
Sampai di Club', Mami Deby sudah menunggu Ia di depan teras. "Mami, Maaf. Saya hampir lupa," tukas Arkan sambil mengebas-ngebas rambutnya sedikit basah antara jarak mobil dan tempatnya menghampiri Mami Deby membuat air hujan mau tidak mau mengguyur tubuhnya.
"Ya ampun, Sayang. Sampek kucel begini rupa kamu," tutur Mami Deby membingkai wajah pemuda kesayangannya.
"Iya, Mi. Apa orang itu masih menunggu?"
"Ya, dia menunggu mu tepat jam dua belas malam. Ayo dandan yang ganteng dan jangan mengecewakan pelanggan Mami untuk pertama kalinya."
"Oke, Mi."
Ricko mengantar Arkan bersiap. Arkan mengmake over wajahnya sedemikian rupa. Ia memakai kaos polos lembut dan setelan celana jeans berwarna merah tua dibalut sempurna oleh jaket hampir senada dengan celananya. Tentunya barang itu di beli mami Deby dari designer ternama khusus untuknya. Satu hal yang tidak bisa dilupakannya juga adalah memakai jam mahal berkelas salah satu hadiah dari Mami Deby untuk menunjang penampilannya.
"Bos, pasti wanita itu akan membuat diri mu ketagihan Bos," ujar Ricko sembari melipat tangan dan menyender di dinding.
"Anugerah, Ricko. Jika aku tidak tampan mana ada cewek yang mau membayar ku dengan harga mahal," jawab Arkan pada Ricko. Arkan mengakhiri kesibukannya setelah menyemprotkan beberapa wewangian di bagian titik tubuhnya tanpa menghiraukan Club' itu terus berdendang mengalunkan musik Disco.
"Oya bagaimana dengan Raka, apa dia sedang melayani seorang putri?" tanya Arkan kemudian sembari melangkah lebih dulu di ikuti Ricko.
"Anak itu juga beruntung, Bos. Dia dapet cewek bening barusan kata si Bondan,' jawab Ricko. Ricko adalah kaki tangan Mami Deby. Ia sangat bermanfaat di club' itu terutama mengendalikan seorang Arkan Arjun.
Arkan keluar melewati para wanita di lantai Disco sambil melambaikan tangan berharap Arkan mendatanginya. Arkan hanya tersenyum dan balas dengan hal sama. Ia ada tugas di luar yang lebih menjanjikan dari wanita di club' itu.
Arkan dan Ricko melewati waktu dalam perjalanan cukup lama hingga mereka sampai di rumah besar di Daerah Elit. Musik disco beda genre terdengar sama bisingnya keluar dari rumah itu.
"Kau yakin ini tempatnya, Ricko? kenapa ini bukan seperti rumah tapi tidak ada bedanya dengan Bar?" Tanya Arkan setelah keluar dari mobil.
__ADS_1
Ricko melebarkan tawa mulutnya. Ia sudah tahu alasan itu sebelum Ia memberi tahukan Arkan.
"Rumah ini memang rumah bebas, Bos. Itu sebabnya meski di kawasan elit. Rumah ini cukup berjarak dari rumah lainnya."
Arkan sedikit mengernyit.
"Sudahlah, Bos. Yang pasti di dalam bukanlah cewek baik-baik. Mereka sama seperti kita, nakal," desis Ricko di telinga Arkan. Ricko mengulurkan sebuah foto di tangan Arkan. "Dia adalah wanita yang menunggu dirimu," imbuh Ricko. Ricko pun kembali ke mobil menunggu Arkan disana.
Pintu itu terbuka lebar mungkin sengaja dilakukan untuk menyambut kedatangan dirinya. Arkan masuk sendiri kerumah itu dan melihat banyak perempuan dengan baju minim sedang berpesta miras. Bahkan lantai berserakan bekas bungkus makanan ringan dan botol-botol minuman kemasan. Arkan menaikan kedua alisnya saat matanya tertuju pada beberapa botol yang di dalamnya ada sedotan cukup banyak kira-kira sebanyak para wanita itu. Arkan paham betul kegunaan botol itu.
Mereka menghentikan kegiatan mereka dan membenahi pakaian mereka yang sudah berantakan kala melihat dirinya berdiri di antara mereka. Arkan melirik foto dalam genggamannya dan mengamati mereka satu persatu untuk mengenali perempuan mana yang Ia cari.
Para wanita itu terbilang masih muda semua usia mereka sudah dipastikan di bawah tiga puluhan.
Mereka memantik Arkan dan mengerling manja sesekali diantaranya terlihat meraih bir dan meneguknya tanpa mengalihkan tatapan mereka. Arkan yakin mereka sudah dalam keadaan setengah mabuk.
"Hai, ganteng!" sapa seseorang di antaranya. Gundukan kenyalnya begitu terlihat dia tidak mengenakan bra sama sekali.
Arkan menelan liurnya dengan kasar, adik kecilnya langsung bergerilya memandang keindahan para perempuan itu. Mereka memiliki daya tarik masing-masing di dalam rona matanya.
"Ehemz...." Deheman seorang perempuan muncul dari belakang mengagetkan Arkan.
Wanita itu sangat lah cantik dia mengelilingi Arkan sambil mengusapkan tangannya di dada Arkan membuat darah Arkan tersengat.
"Kami penasaran dengan mu, aku tidak percaya kau setampan ini," ucap wanita itu berhenti di depan Arkan dengan menempelkan tubuhnya ke tubuh Arkan.
Wanita itu elok, bibirnya merah merekah. Bola matanya juga bening. Memakai gaun panjang berwarna biru hingga mata kaki tapi pinggirannya terbelah hampir ke pangkal paha menampakkan kulitnya yang putih dan mulus. Arkan tentu merasa semakin tergiur.
"Aku merasa spesial atas undangan mu, Nona," jawab Arkan. Ia mengembangkan senyum memikatnya pada wanita muda itu. Ia tidak tahu mungkinkah para wanita itu masih virgin atau sudah tidak tersegel.
__ADS_1