
Wanita itu mendorong dada Arkan pelan, rona wajahnya memerah sendu. Ia tak mampu menahan buaian Arkan tapi tak mau juga terkesan liar.
"Kenapa?" tanya Arkan seraya memeluk tubuh itu. Tubuh yang pernah terasa berbeda dari wanita lainnya. Tubuh yang membuat Arkan begitu merindukannya tapi Ia menyembunyikan di lubuk hatinya.
"Aku malu, dulu aku datang padamu saat mabuk. Sekarang aku datang padamu melalui teman ku," jawab Dara masih tersipu.
"Dara...." Tercetus nama itu dari bibir Arkan. Arkan menyukai kejujuran Dara. Dulu Ia mengira mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Wanita itu menoleh dan saling bertatapan dengan Arkan.
"Dari mana kamu tahu nama ku, Kumbang?" tanya nya tersenyum kecil namun sangat menyejukkan hati Arkan.
Arkan menyeringai mendengar panggilan itu. Ia tidak suka dengan panggilan itu. Karena panggilan itu terlalu buruk untuknya. Yang artinya menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
"Hais, Apa kau keberatan memanggil nama ku?" balasnya. Arkan kembali melabuhkan ciuman di antara dua gundukan asmara dari wanita cantik itu.
Dara merinding merasakannya.
"Aku tahu nama mu dari cincin yang kau tinggalkan," terangnya kemudian.
Dara menggeliat, sentuhan Arkan mengumpulkan gelora di dalam tubuhnya. Gelora yang hilang saat Ia di jadikan tumbal oleh Ayahnya.
Sejak saat itu Ia memilih melepaskan keperawanannya pada orang yang di ingini nya dan Arkan nya pemuda yang terpilih itu. Dara tidak memungkiri kalau Ia merasa kecanduan oleh belaian dari Arkan Arjun.
Rencana di jodohkan pada lelaki yang tak pernah Ia cintanya membuat hidupnya hancur. Setiap hari Dara selalu di perlakukan seperti hewan oleh Ayahnya akibat penolakan darinya.
Yang pasti Dara tahu kalau lelaki itu bukan lah lelaki baik, dia kasar dan tak segan bermain tangan pada dirinya.
"Arkan...." desisnya. Dara terpejam-pejam merasakan sesuatu yang basah mengecup benda menyembul miliknya. Pemuda itu ahli memuja dalam teknik apa pun.
"Katakan sesuatu, sebelum aku membuatmu kesulitan bernafas."
__ADS_1
Suara lolongan kucing betina cantik justru terlepas.
Dara tak mampu mengatakan apa pun lagi ketika tangan kekar pemuda tampan itu lebih dulu melakukan formulasi gerakan dasar di bagian bawah pusar nya.
Arkan merasa tidak puas menikmati peri cantik di dalam ambigu nya di lucuti nya kain tipis di tubuh Dara.
Masih sama seperti dulu, tubuh indah milik wanita itu memperdaya pandangannya. Arkan memeluk tubuh Dara lalu mengangkatnya untuk berdiri.
Dara takut jatuh, Ia menjimpit kan kedua kakinya di kaki Arkan. Arkan mengecup bibir milik Dara. Ia begitu menyukai itu. Ia kemudian melakukan nya semakin dalam dan semakin berhasrat. Dara sama Ia membalas kecupan Arkan dengan gaya yang unik yang membuatnya serasa di sayangi Arkan.
Lama beradu bibir, Arkan mendudukkan Dara di atas meja. Ia menatap bola mata Dara sangat lekat. Ia tidak munafik Dara begitu mempesona. Dara tersipu dan menundukkan kepalanya. Arkan tidak membiarkannya dan mengangkat dagu Dara agar tetap memandangi dirinya.
Arkan kemudian mengecup leher Dara dan melakukan eksperimen pada kedua gunung Dara. Memijatnya lagi perlahan, tak ingin Dara kesakitan jika Ia melakukannya kasar.
Dara menikmati itu Ia ingin lagi dan lagi hingga menahan kepala Arkan agar lebih lama di sana. Arkan tahu maksud Dara Ia melakukan keinginan Dara membuat tanda merah di banyak bagian tubuh itu.
Arkan mengangkat lagi tubuh Dara dengan gerakan sama. Ciuman semakin panas dan membara keduanya seakan terbakar oleh api Cinta walaupun bukan pasangan kekasih. Arkan menjatuhkan lagi tubuh Dara di ranjang dan memisahkan kedua jenjang kaki Dara.
Arkan merambah pada benda lunak di sana, Ia menciumi nya lembut lalu di mainkan nya lidah di bagian benda itu.
Arkan belum puas Ia sesapi dan sesapi sampai Dara terkulai. Jujur Arkan tidak pernah berani melakukan itu pada partner ranjangnya yang lain kecuali Dara. Baginya Dara sangatlah sempurna dan spesial baginya.
Apapun itu namanya Arkan menghujani wanitanya dengan buaian lembut dan berhasrat ingin sekali memiliki tubuh itu.
Arkan tidak jijik bahkan milik gadis itu sudah seperti secawan madu baginya. Gadis itu membuat jantungnya berdegup cepat. Ia ingin gadis itu merasakan ketulusan permainan mereka agar Dara tidak bisa melupakan hubungan dari penyatuan tubuh mereka sepanjang masa.
Dengan begitu Arkan berharap Dara akan terus datang lagi dan lagi untuknya. Entah apa itu, Arkan menyukai Dara. Tubuh Dara sangat menggiurkan. Benda tegang miliknya bahkan tak pandai berbohong.
Luas mencecapi kepemilikan Dara, Arkan mendorong tubuh Dara keatas Kasur. Lidahnya kembali bergerilya menyapu seluruh permukaan wajah Dara. Dara mengigit bibirnya Ia menikmati itu berkali-kali suara nikmat tidak bisa tertahan keluar dari mulutnya.
Kedua bibir mereka menyatu kembali kian lama. Arkan menciumi tangan Dara, perut Dara bahkan ketiak wangi milik Dara. Tak ada satu titik pun yang membuat Arkan merasa enggan menyentuhnya semua kepemilikan Dara sangatlah sempurna menurutnya.
__ADS_1
"Dara... aku menyukai setiap tubuh yang kau punya," ucap Arkan lirih di telinga Dara membuat Dara membuka matanya yang sedari tadi terpejam-pejam.
"Aku juga..," jawan Dara seraya tersenyum.
Arkan menindih tubuh Dara masuk kedalam tubuh rupawan miliknya hingga tertutup sempurna.
"Arkan memasukan sesuatu kedalam milik Dara. Agak sulit juga mungkin itu baru yang kedua kalinya bagi Dara bermain dengan seorang pria.
"Terima kasih.. Kau masih menjaga milikmu hanya untukku," desis Arkan merasa di spesial kan oleh Dara.
Dara hanya tersenyum pada Arkan. Benar adanya Ia memang tidak pernah melakukan itu pada siapa pun.
Arkan meletakan miliknya ke bibir inti Dara dan memasukannya perlahan hingga Dara mengeeerang.
"Uhk.."
Arkan hati-hati memainkannya sembari menanyai Dara.
"Apa itu menyakiti mu?" tanyanya.
Dara menggeleng.
"Ini lebih nikmat dari apapun juga," jawabnya.
Sebagai lelaki Arkan puas mendapat pujian itu. Arkan memainkan miliknya terasa mengganjal di bagian inti Dara. Tapi sentuhan itu begitu hangat dan nikmat.
Arkan memijat buah dada Dara sambil menghentak-hentakan miliknya disana. Di pegangin dua paha Dara membuat Dara merasa di aniaya gairah.
Arkan semakin menggelora melihat bibir seksi Dara menganga. Itu artinya Dara sangat menikmati gerakan yang Ia mainkan.
Arkan meminta Dara berbalik. Arkan ingin memacu kuda cantik dengan belalai nya dari belakang. Di pegang nya pinggul padat berisi itu lalu Ia hentakan lagi awalnya pelan namun semakin lama semakin ganas. Bahkan ritmenya sangat cepat membuat Arkan dan Dara ngos-ngosan.
__ADS_1
Gerah menguasai mereka. Arkan mengumpulkan rambut Dara yang terurai kedalam genggamannya persis dengan memacu kuda sungguhan tapi nikmat rasanya.
Hingga akhirnya mereka melepaskan erangan bersama-sama dan terkapar di atas ranjang untuk menyetabilkan nafas mereka yang berlarian naik turun.