Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_48 Nekat


__ADS_3

Setelah menjalani serangkaian tes kesehatan Dokter itu berhasil menggambil sampel darah milik Bu Irma.


"Terima kasih, Dok. Tolong hubungi segera jika hasilnya sudah keluar."


"Pasti, Bu Irma. Mudah-mudah dugaan saya salah dan Arkan bisa secepatnya pulih," kata Dokter perempuan itu.


Sepulang dari rumah sakit Bu Irma terus merenung mengingat kesalahan-kesalahan yang Ia perbuat di masa lalu.


Hidup kekurangan telah membuatnya gelap mata dan meninggalkan Suami dan Anaknya Arkan yang masih kecil demi lelaki yang jauh lebih mapan.


Bahkan kepergiaannya menjadi tangisan Arkan dan mantan suaminya kala itu.


Maafin, Ibu Arkan, Mas. Semua ini baru Ibu sadari saat Ibu kembali melihat wajah mu, Nak. Sakit rasanya melihat mu dalam keadaan seperti ini...


Air mata Bu Irma bergulir luruh membuat sang suami yang baru datang memperhatikannya keheranan.


"Kenapa, Bunda?" tanya Pak Restu.


"Ha? apa Yah?" Bu Irma tersentak, cepat Ia menghapus air matanya.


"Bunda kok nangis sih? ada masalah apa?" tanya Ayah Restu, yang mendaratkan bokongnya di samping Bunda Irma.


"Tidak apa-apa, Ayah. Bunda hanya gak tega ngeliat anak jalanan tadi," jawab Bunda Irma berbohong. Belum siap rasanya Ia menceritakan kebenaran tentang Arkan sebelum Ia mengetahui hasil DNA itu di tambah keluarga suaminya tentu berat menerima Arkan karena pekerjaan nistanya.


"Oh, karena itu. Bunda jangan baper dong. Kalau ada ya di beri dan doa kan semoga anak itu bahagia nantinya," ujar Pak Restu bijak.


"Iya, Ayah. Bunda terlalu melo ya. Ayah mau teh?" Bunda Irma tak mau berlarut dalam kesedihan.


"Boleh, Bunda jangan banyak pikirannya ya."

__ADS_1


Bu Irma mengangguk haru, di balik perginya Ia dari Arkan dan mantan suaminya ia beruntung menjadi Istri dari Restu Prayoga yang memiliki jiwa yang baik dan sangat sabar.


Di Rumah Sakit...


Arkan masih tertidur pulas, Seorang perempuan yang entah tahu dari mana melangkah perlahan mengintip kondisi Arkan. Malam itu cukup sepi untuk dirinya datang kesana.


Yakin semua bodyguardnya Mami Deby tertidur di kursi tunggu, perempuan itu masuk dan menemui Arkan.


Di pandangnya pemuda itu dalam tangis lalu di kecup nya.


"Maafkan aku, Kan. Kamu pasti sakit karena tertular penyakit yang sudah lama menyiksaku. Aku menyesal sudah membuat diri mu tak berdaya. Pasti sudah banyak yang menjadi korban karena ulahku yang egois demi cinta."


Sayup-sayup Dara mengatakan itu seorang diri hingga air matanya menjatuhi pipi Arkan.


Arkan mengerjap-ngerjapkan bola matanya dan terbangun. Ia cukup kaget akan kehadiran wanita yang Ia rindukan.


"Dara, kau tahu aku disini?"


"Maafkan aku, Arkan. Maaf...."


"Untuk apa? justru aku yang meminta maaf tidak bisa di samping mu, Dara." Arkan mengusap air yang membasahi pipi istri nya.


"Tapi aku sudah egois, Arkan. Kau seperti ini karena aku," ucap Dara penuh penyesalan.


"Apa maksudmu, Sayang?"


"Ka_ kau pa_ pasti menderita sakit akibat tertular dari aku." Tangisan Dara pecah, tak mampu menahan gejolak lara di hatinya.


Arkan belum mengerti arah pembicaraan Dara.

__ADS_1


"Sayang, aku sakit bukan karena kamu. Emang dasarnya saja aku mau sakit," ujar Arkan menenangkan.


"Kau tidak mengerti, Arkan. Kau akan membenci aku setelah tahu apa yang kau alami."


Dara menggenggam erat tangan Arkan dan mencium nya berulang-ulang.


Hoek...


Mual terus menghantui Dara, sejak Ia tinggal sendiri.


"Kamu kenapa, Sayang?" ganti Arkan yang panik.


Dara menggeleng. Ia juga tidak tahu mengapa Ia sering mual.


"Kamu periksa saja sekalian ya?" Arkan merasa tidak tenang akan kondisi Dara.


"Tidak, aku tidak bisa lama-lama, Arkan . Bodyguard Mami Deby bisa menyulitkan kita. Kamu jaga diri baik-baik ya. Aku akan selalu ada di hati mu meski kita berjauhan."


Dara beranjak dari duduknya dan hendak pergi tapi Arkan menahan lengannya.


Ia keluarkan hadiah yang siang tadi Ia belikan untuk Dara dari saku celananya lalu Ia genggaman kan ditangan Dara.


"Pakai ini, maaf jika aku membelinya dengan uang haram," ujar Arkan kelu.


Dara tersenyum dan mengangguk.


"Aku pergi," pamitnya.


"Jaga diri mu baik-baik, Dara."

__ADS_1


"Pasti."


Dara kembali mengecup kening dan kedua pipi Arkan lalu keluar dari tempat itu secepat mungkin.


__ADS_2