
Arkan merebahkan tubuhnya di ranjang. Setiap malam Ia begadang untuk melakukan pekerjaan membuat nya harus beristirahat terlebih dulu.
Arkan menatap langit-langit, Ia teringat lagi wajah Dara menarik dalam benaknya. Di amati nya Cincin yang masih melingkar manis di jari kelingkingnya. Cincin itu milik Dara yang Dara tinggalkan untuk membayar dirinya.
Perasaan Arkan sangat bahagia, ada perbedaan lain di sana. Seakan-akan tubuhnya mendapat asupan gizi yang membuatnya sangat bersemangat.
"Hey, apa yang kau lamun kan, Sobat? apa wanita semalam membuat mu terbuai?" tegur Raka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Raka mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Benar, Raka. Dia sangat cantik. Kau ingat wanita yang memberikan cincin ini padaku?" Arkan menujukan cincin itu.
"A..apa? Jadi yang semalam adalah gadis itu?" tanya Raka penasaran.
Arkan mengangguk.
"Pantas kau terlihat berbunga-bunga. Rupanya gadis itu telah mencuri hatimu," ucap Raka menggoda. Raka memakai baju dan ikut melompat keatas ranjang untuk beristirahat.
"Entahlah, Raka. Aku menyukai semua yang ada pada diri gadis itu. Wajahnya, senyumnya, rambutnya, wanginya dan bahkan lekuk tubuh indahnya," ucap Arkan pias.
"Dasar, kau. Awas saja kau kehilangan akal nanti," kata Raka merutuki. Raka memeluk guling dan memejamkan mata sedangkan Arkan memilih meraih handuk dan mandi
Beberapa waktu bergelut di kamar mandi, Arkan mengambil satu setel baju dari dalam lemari.
Pluk!
Sebuah benda jatuh kelantai. Benda itu adalah kalung liontin peninggalan Ayahnya.
Arkan mengambil kalung itu, diamati nya cukup lama. Arkan lupa, bahwa Ayahnya meminta Ia membuka bandul liontin itu. Ayahnya bilang bandul kalung itu ada poto wanita yang sudah melahirkannya.
Arkan rupanya enggan dan memilih menggantungkan kalung itu ke lehernya. Belum juga selesai memakai pakaian ponselnya berdering.
"Rachel?" ucapnya seorang diri setelah melihat siapa yang menelpon.
"Kenapa, Hel?" tanya Arkan tanpa basa-basi.
"Kak Arkan, tolong aku. Ayah dan Bunda meminta aku menyusul kakakku di bandara. Kakak pulang hari ini tapi aku butuh teman, Oliv tidak bisa menemaniku karena sedang kencan," jawab Rachel dari seberang.
__ADS_1
"Sekarang?"
"Iya, kau bisa bawa mobil kan? sopirku sedang sakit, tidak mungkin aku mengajak dia," tutur Rachel.
"Oke, aku kesana sekarang."
Arkan mempercepat gerakannya memilih pakaian terbaiknya dan segera menemui Rachel.
"Hai, Hel. Sejak tadi?" sapa Arkan melihat Rachel menunggu di ambang pagar.
"Lumayan, yang penting kamu datang' kan?" balasnya.
Arkan tersenyum.
Rachel memberikan kunci mobilnya pada Arkan. Arkan mulai mengemudi.
"Makasih ya, Kak. Udah mau bantuin Rachel," ucap Rachel polos.
"Tidak masalah, selama aku bisa, Hel," jawab Arkan.
Rachel nyengir dan menarik tangannya lagi.
"Kak, Kakak udah punya pacar?" tanya Rachel iseng.
"Emangnya kenapa?" tanya Arkan menggaruk pelipisnya.
Rachel menggeleng.
"Kakak tidak punya rasa ya, sama Rachel?" tanya Rachel blak-blakkan.
Arkan mengernyit.
"Maksud, Rachel?"
"Ya, bagaimana perasaan Kakak pada Rachel?" ucap Rachel mengulangi kalimatnya.
__ADS_1
Arkan tertegun dan bingung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada gadis polos itu.
"Kok diam?" Rachel cukup kuat memberanikan diri mengatakan isi hatinya pada Arkan untuk kesekian kalinya.
Arkan melirik Rachel lalu mengalihkan tatapannya pokus kedepan.
Arkan tidak mungkin mengaku kalau Ia bukanlah pria yang pantas untuk Rachel. Ia takut Rachel tersinggung dan sakit hati. Menurut Arkan, Rachel terlalu sempurna untuk mencintai dirinya.
"Rachel, Kakak tidak tahu harus bilang apa. Tapi yang pasti Kakak tidak mau Rachel berharap banyak," tukas Arkan terpaksa nya.
Rachel tersenyum kelu, Ia menekuk-nekutk tali tas slempang di pangkuannya. Hatinya terasa lesu mendengar pernyataan Arkan.
"Aku tahu, Kakak Pasti sudah punya kekasih ya?" tanya Rachel lagi setengah menunduk.
"Tidak, Hel. Kakak hanya ingin Rachel pokus kuliah dulu. Terlalu dini mengatakan soal perasaan diusia Rachel sekarang," ucap Arkan sedikit menenangkan.
"Tapi Rachel sudah dewasa, Kak," jawab Rachel menolak dikatakan masih remaja. Usianya memang sudah cukup tapi sikap Rachel lah yang membuatnya masih terlihat kekanak-kanakkan.
Arkan tersenyum.
"Rachel, sangat cantik. Mudah bagi Rachel menemukan pasangan hidup. Kakak ini cuma pekerja rendahan, Hel," kata Arkan memberi tahu.
"Aku tidak peduli, yang penting Kakak bekerja halal kan?"
"Tidak, Hel. Karena itu aku tidak mau menyakiti hatimu."
"Kakak ngomong aja kalau udah punya pacar, pakek berbelit-belit segala," sewot Rachel mengalihkan wajahnya.
Arkan memilih diam. Jika Ia ladeni, Ia takut semakin menyakiti Rachel.
Tak terasa mereka sudah sampai ketempat tujuan.
Rachel dan Arkan menunggu di ruang tunggu. Baru saja memilih tempat seorang pria berpenampilan rapi menghampiri.
"Rachel..!" Pemuda itu memeluk Rachel.
__ADS_1
"Bang Radit," balasnya menyambut perlakuan sang Kakak.