
Cahaya pagi mulai merambah menapaki alam semesta. Dara sudah di persiapkan di depan meja rias untuk di dandani dan hanya lelehan air mata yang mengiringi deritanya.
aku tidak mau menikah.. aku harus pergi dari sini...
Dara melirik kearah Kinara yang baru di ajak masuk oleh dua orang pengawal Herlambang.
Bocah tujuh belas tahun itu harus terima menikah dengan Raymond tanpa perlawanan. Ia di dudukkan di sebelah Dara untuk dirias juga bersama Dara.
Dara dan Kinara saling bertatapan. Terselubung rasa geram dan ingin memaki nasib mereka tapi keduanya tak berdaya.
Melihat perias itu keluar, Dara menggenggam tangan Kinara.
"Kinara, maaf jika aku mengatakan ini padamu, tapi Mbak mohon bantuan mu. Mbak mencintai orang lain Kinara," ucap Dara lirih.
"Apa itu, Mbak?" tanya Kinara belum sepenuhnya mengerti ucapan Dara.
"Mbak akan pergi dari sini," jawab Dara jujur.
"Apa Mbak?" sentak Kinara kaget.
"Ya, dan kamu lah wanita yang akan dinikahin Raymond. Kita tidak mungkin berbagi suami Kinara. Aku memiliki cinta lain," ujar Dara lagi menjelaskan.
Gadis polos itu terdiam sejenak. Mungkin benar akan lebih baik jika salah satu dari mereka melarikan diri.
"Baiklah, Mbak. Kina akan support Mbak karena Mbak juga banyak jasa sama Kina," ucap Kinara mengalah.
__ADS_1
"Teruma kasih, Kina. Kau sudah mau berkorban untuk Mbak."
Kina mengangguk kecil. Ia tahu betul bagaimana Dara di perlakukan dengan tidak adil di rumah itu.
"Bagaimana cara, Mbak bisa lolos, Mbak?" tanya Kina khawatir.
Tak lama munculah Sheila dari pintu. "Aku yang akan menggantikan Dara, Kin," sahut Sheila tanpa takut sedikit pun.
"Bagaimana mungkin, apa yang akan terjadi kalau Mas Raymond tahu?" tanya Kinara gusar.
"Yang penting Mbak mu berhasil lolos dulu, aku rela ikut berkorban demi kebahagian Mbak mu, Kina. Ini juga Mbak lakukan karena cinta Mbak pada Raymond," terang Sheila.
Kekasih simpanan yang tidak pernah diakui Raymond membuatnya nekat berbuat sejauh itu.
Dara memeluk Sheila.
"Sudah, jangan lama melo nya. Kita harus segera melakukan sesuatu, Dara."
Hari itu Sheila menggantikan posisi Dara dengan menggunakan penutup kain putih di wajahnya sedangkan Dara keluar perlahan menggunakan masker mengingat penjagaan di rumah itu amat ketat.
Cukup sulit langkahnya karena para penjaga itu terus mengamati gerak-geriknya. Sesekali Dara tak sengaja menabrak tamu karena kelalaiannya.
"Maaf, Bu," kata Dara membesarkan volumenya agar tidak di kenali.
Sesampainya di parkiran Dara yang menyamar dengan berpakaian laki-laki langsung masuk kedalam taksi.
__ADS_1
Lain halnya dengan Arkan, Ia masih terpaku pada kertas yang Ia letakkan di atas meja. Ia ragu akan apa yang harus Ia lakukan.
Belum lagi, Ia masih di terpa penasaran pada pengirim surat itu.
"Apa yang harus ku lakukan? harus kah aku pergi menemui pengirim surat itu?"
Arkan mondar-mandir di kamarnya mencari jawaban di dalam hatinya.
Sesekali Arkan mengigit jarinya. Ia harus siap melakukan apapun sebagai konsekwensinya.
Dua puluh menit berlalu, Arkan akhirnya menyambar tas kecilnya dan memasukkan beberapa jumlah uang di dalamnya.
Arkan bergegas keluar membawa serta motor gedenya. Tiba di tepi rel kereta api. Arkan mengedarkan pandanganya pada tempat yang lengang itu.
Tak lama dari belakang punggungnya Ia mendengarkan hentakan kaki bertalu lari kearahnya.
"Arkan... !" teriak Dara memeluk erat tubuh pemuda itu. Ia menangis sesenggukan menumpahkan sesuatu yang menyesakkan batinnya.
Arkan menoleh dan tak percaya pada orang asing yang memakai topi itu. Ia membuka topi Dara dan terkejut jika Dara lah yang Ia lihat.
"Dara, benarkah ini diri mu?" tanya Arkan terkesima menatap dalam bola mata teduh dan sembab itu.
Dara mengangguk berulang-ulang dan menyembunyikan lagi wajahnya di dada bidan Arkan.
"Aku butuh kamu, Arkan. Ayo kita pergi dari sini. Kita bisa hidup bersama-sama dan meninggalkan semuanya. Aku lelah dengan hidup yang ku jalani."
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Dara?" Arkan mengusap cairan bening di pipi wanita itu dan baru sadar jika wajah Dara penuh memar.
"Bawa aku pergi, Arkan. Bawa aku pergi!" ucapnya memohon berkali-kali.