
Berkat kebaikan Mang Tomang, Dia bersedia mengantar Arkan sampai di sebuah warung makanan menggunakan Motor butut Mang Tomang. Tenaganya tidak kalah dengan motor baru gedean.
Meski di atas jam sembilan malam, warung itu masih ramai. Semuanya menatap heran melihat Arkan dan Mang Tomang.
Tak jarang mereka senggol-senggolan ingin tau siapakah pemuda tampan bersama Mang Tomang itu. Pemuda tampan di kampung itu sangatlah langka. Apa lagi setampan dan seputih tubuh Arkan.
"Saha nyak etak, mendi kasep pisan ey (Siapa itu ya kok cakep bener)," celoteh seorang perempuan cukup minim pakaiannya bisa saja Ia juga seorang pekerja hiburan malam.
"Halo, Mang. Ges peting masih pada kararumpul didiyek (sudah malam masih pada ngumpul disini)?" Mang Tomang menepuk seorang lelaki bertubuh Gemuk diatas nya.
"Tumben kau main, Mang. Biasanya juga keluar kalau pas ronda?" tanya orang itu balik.
"Jiga tek nyahok wae, nyere kabeh awak Aby, Mang. Sepoekkan ngenek. Duit mah kekeh wae beak, hahaha... (Seperti tidak tahu saja, sakit semua badan ku seharian ngenek. Duit mah tetap saja habis."
Mang Tomang mempersilahkan Arkan duduk di sampingnya.
"Kenalan helak, iyek ponakan Aby, Mang (Kenalkan dulu, ini keponakan saya, Mang)."
Orang itu menyalami Arkan.
"Bondan, panggil saja Mang Bondan, kamu siapa?" tanya orang itu mendongakkan wajahnya.
"Arjun, Mang," jawab Arkan tersenyum. Membuat semua yang melihat senyumnya terhipnotis.
__ADS_1
"Astaga, Pangeran ti mana etak, nyak!" seru seorang Ibu-Ibu takjub.
Arkan menundukkan kepala pada mereka yang tak henti-hentinya memandang dirinya.
Sebagai orang baru, mendapat sambutan baik adalah suatu anugerah.
"Jun, Buru pesan makanan nanti istri mu lapar," bisik Mang Tomang.
"Baik, Mang."
Arkan melangkah mendekat ke tukang warung itu. Ia bingung mau memilih yang mana. Banyaknya menu membuat Ia ragu. Apa lagi Ia tidak tahu sama sekali kesukaan Dara.
"Pilih yang mana, Mas?" tanya mbak tukang warung.
"Mang Tomang mau makan apa, pesan saja," tawar Arkan.
"Teng kudu, Jun. Aduh.. tidak usah Amang sudah makan tadi dirumah," timbal Mang Tomang masih sibuk mengobrol.
"Ya udah itu saja, Bu," kata Arkan.
"Mas Namanya siapa?" tanya Mbak penjual. Putri dari pemilik Warung.
"Saya Arjun, Mbak," jawab Arjun seperti biasa Ia sangat murah senyum.
__ADS_1
"Orang kota ya, Mas. Kok mau tinggal di kampung sih?" Mbak penjual cekatan membungkus pesanan Arkan.
"Sama saja, Mbak. Justru di kampung suasana lebih tentram.
Drrrrr!
Ponsel Arkan berdering riang. Tak salah lagi itu datang nya dari Mami Deby.
Arkan mematikan ponselnya dan menekan tombol Off.
M**aaf , Mi. Aku ingin hidup lebih baik mulai sekarang. Aku sudah mengambil keputusan untuk hidup sederhana dengan Dara...
Mami Deby uring-uringan. Ia tidak menyangka Arkan seberani itu mematikan panggilan darinya.
"Richo..!" teriak Mami Deby.
"Iya, Mi. Ada apa?" Richo tergopoh-gopoh mendekat.
"Aku tidak mau tahu, kalian harus cari Arkan dan bawa kemari. Aku tidak mau tambang uang ku pergi dari sini!" geram mami Deby.
"Oke, Mi. Siap."
Raka mengusap dada, reaksi Mami tidaklah biasa. Pasti Arkan akan terkena masalah setelah ini.
__ADS_1
Kamu dimana, Kan? Mami Deby pasti marah besar pada mu...