
"Mamang kecelakaan, Neng. Katanya keserempet motor," jawab Bi Lisa panik.
"Ya ampun, terus gimana keadaanya, Bi?" tanya Dara sedikit iba.
"Ga tau, Neng. Kata yang ngabarin tadi sih. Masih diurus ma yang nabrak," jelas Bi Lisa.
"Kamu dirumah saja ya. Biar saya susul Mang Tomang dulu!" pesan Arkan sambil menaiki motor bebek yang di bawa Bi Lisa tadi.
"Hati-hati, Jun!"
"Iya, jangan kemana-mana tanpa izin ku!"
"Oke, palingan kerumah Bi Lisa."
Cukup cepat Arkan mengendarai motornya, Ia tiba di Pasar. Arkan melihat banyak orang berkerumun di tepi jalan.
Arkan segera mengecek dan melihat Mang Tomang terkapar. Bahkan ada percekcokan antar warga menuntut tanggung jawab si supir motor.
"Saya gak mau tahu pokoknya kamu harus segera mengobati Pak Tomang, lihat kakinya terluka parah!" amuk Pak Dimun menunjuk Kaki Pak Tomang. Kemungkinan tulangnya patah.
__ADS_1
Pak Dimun salah satu penghuni kontrakan Pak Tomang. Karena kebaikan Pak Tomang seluruh penghuni kontrakan begitu segan.
"Iya, iya. Tapi saya masalahnya gak punya uang, Pak. Pasti biayanya cukup besar apa lagi anak saya tengah sekarat dirumah sakit," jawab orang itu memelas.
"Makannya maneh teh kalau bawa motor pelan-pelan. Bisa bahayaken nyawa batur mon keskitu mah (Makanya kalau kamu bawa motor pelan-pelan Bisa membahayakan nyawa orang lain kalau begitu caranya)." Oceh seorang lain nya.
Orang itu menangis pilu, Ia bersimpuh di kaki Mang Tomang. "Maafkan saya, Pak. Saya tadi terburu-buru mendengar anak saya kejang di rumah sakit. Saya mohon belas kasihan, Bapak. Saya sedang pening memikirkan biaya putri saya," ucap orang itu mengatupkan tangan.
Arkan teriris melihatnya, Ia tidak tega pada kesedihan bapak itu. Tapi Ia tidak mungkin juga membela sebab Bapak itu telah melukai Mang Tomang.
Mang Tomang masih meringis memegang kakinya. Kemungkinan kaki nya mengalami patah tulang karena sedikit bergeser dari tempatnya.
"Tidak perlu, bawa saja saya ke tukang urut. Kampung di sini masih percaya sama obat-obatan tradisional, Jun," jawab Mang Tomang menolak.
"Ya sudah, ayo kita berangkat. Bapak urus saja dulu putri Bapak. Setelah itu kita bicarakan baik-baik," ujar Arkan tak ingin masalah bertambah runyam.
"Ehk, tapi jangan kabur ya. Kamu tetap harus bertanggung jawab. Mana surat motor dan KTP mu sebagai jaminan?" pinta Pak Dimun nyalang sambil melotot tajam.
Orang itu mengambil apa yang diminta Pak Dimun dari bagasi motor nya. "Ini, Pak," ujar orang itu menyerahkan semuanya tanpa berpikir lagi.
__ADS_1
Pak Dimun mengangguk.
"Kau tinggal di kampung sebelah rupanya, Oke kau bawa saja KTP nya siapa tau penting tapi Surat motor nya akan kembali setelah urusan kita selesai," tegas Pak Dimun.
"Baik, Pak. Terimakasih."
Orang itu lekas meninggalkan mereka. Pikiran kalut membuatnya menambah beban masalah.
Sedang Mang Tomang di bawa Arkan dan Pak Dimun ke tukang pijit tradisional. Di sanalah Mang Tomang mendapat penanganan.
Kletek!
Suara tulang Mang Tomang terdengar nyaring di tarik keras oleh Si tukang urut.
"Aaaa...!" Mang Tomang menjerit. Pasti rasanya sangat sakit.
Arkan hanya mengatupkan gigi, ngeri melihat apa yang ada di depan matanya.
Apa itu tidak memperparah kondisi kaki Mang Tomang ya?...
__ADS_1