Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_15 Ketahuan


__ADS_3

"Abang kangen sama kamu, Rachel baik,-baik saja kan?" tanya Radit.


"Iya, liat aja sendiri," jawab Rachel memutar tubuhnya di hadapan sang Kakak.


"Syukurlah Kakak kangen sama kamu."


Radit menoleh kearah Arkan, di tatapnya dalam asa wajah itu.


"Siapa dia, dek?" tanya Radit.


Rachel memandangi keduanya secara bergantian.


"Oh iya, Rachel lupa. Dia teman Rachel, Bang," jawabnya.


Keduanya bersalaman.


"Arkan, Bang," kata Arkan memperkenalkan diri.


"Saya Radit, sejak kapan kalian berteman. Seingat ku Rachel tidak punya teman pria?" tanya Radit pada Rachel.


"Lumayan lama, Kak. Hampir sebulan," jawab Rachel nyengir.


Usai mengobrol mereka kembali kerumah Rachel rupanya kedua orang tua Rachel juga sudah pulang dari Lampung.


Mereka menyambut kedatangan putra-putri mereka.


"Radit, Rachel bagaimana kabar kalian, Sayang?"


Radit dan Rachel menyalami keduanya penuh hormat.


Bunda Irma memeluk gadis kesayanganya.


"Baik, Bun. Syukur Ayah dan Bunda sudah pulang jadi Rachel gak kesepian lagi," ucap Rachel manja.


"Iya, Bunda mu gak sabar ketemu kamu dan Radit," timpal Ayah Restu.


Arkan masih menunduk, Ia belum berani menyapa keluarga bahagia itu. Ia iri melihat kedekatan mereka, bahkan bersama Papa nya pun hanya sejenak.


Arkan tersenyum getir, hidupnya nelangsa tidak memiliki keluarga utuh.


Ayah Restu melirik kearah Arkan. Ia penasaran pada pemuda itu.


"Nak, sini," sapa Ayah Restu.


Arkan pun turut menyalami keduanya.


"Halo Om, Tante," ucap Arkan menyapa.

__ADS_1


"Kamu teman Radit apa Rachel?" tanya Ayah Restu.


"Dia teman Rachel, Yah namanya Kak Arkan," jawab Rachel buru-buru.


"O ya? kalau begitu ayo masuk, nak. Kita makan dulu!" ajak Bunda Irma.


Arkan mengatupkan tangan.


"Maaf, Tante. Arkan ada perlu lain kali saja ya," pamitnya.


"Oh, ya sudah. Hati-hati ya di jalan," tukas Pak Restu.


Wajah Rachel manyun, Ia kesal mendapat penolakan Arkan atas ajakan orang tuanya padahal dengan begitu. Ia bisa lebih dekat lagi dengan pemuda itu.


"Iya, Om, Tante, Dit," ucapnya seraya menunduk lalu menatap Rachel.


"Sampai ketemu lagi, Hel."


Terpaksa nya Rachel mengangguk meski kecewa.


Arkan meninggalkan mereka yang masih menatap punggungnya semakin menjauh.


Beberapa hari telah berlalu, Seperti biasa setiap malam Arkan kembali datang ke Bar. Rencana nya tidak ada tidur untuk wanita malam itu. Hanya akan ada pesta senang-senang berbaur dari satu dengan yang lainnya.


Pukul tujuh tepatnya, musik Disco mulai berdendang ria, lampu bola warna-warni berputar di atas kepala mereka menemani alunan musik.


Arkan memilih duduk di temani beberapa wanita menikmati sebotol wine.


"Mas Arkan, kapan kau akan tidur dengan ku? Mengapa kau jadi sibuk sekali sekarang?" ucap salah seorang wanita menyandar erat di dada Arkan memasang wajah cemberut.


Arkan tersenyum dan mengecup bibir wanita itu.


"Sabar, Sayang. Pasti ada waktunya nanti," jawabnya lembut.


Yang di samping kirinya ikut gentayangan menggoda dirinya. Ia juga meminta hal serupa membuat Arkan harus meladeni.


Di samping menjadi partner ranjang Arkan bisa menjadi teman mengobrol semalam suntuk dan sudah di pastikan Ia tetap akan mendapat tips dari pelanggannya.


Wanita itu menyuguhkan segelas air beralkohol itu pada Arkan dan di teguk nya hingga lena.


"Mas Arkan. Kau tau tidak, mengapa wanita menyukai mu?" tanya wanita di depannya.


"Apa itu, Sayang?" tanyanya terkekeh sedikit kurang menangkap.


"Senyummu mengalihkan dunia ku," jawab wanita itu membuat yang lain tertawa.


"Lebay, kamu. Yang pasti Mas Arkan ini arrrrgg... ganas di ranjang," ucap wanita yang mendapat ciuman pertama tadi.

__ADS_1


"Kau ketagihan, Sayang," goda Arkan membelai dagu wanita itu di barengi kekehan kecilnya.


"Tentu saja, bohong kalau tidak," jawabnya jujur dan malu-malu.


"Kalian semua itu sangat cantik. Bagaimana bisa aku abaikan," puji Arkan meraih gelas wine itu dan meneguknya lagi.


Di tempat lain...


Teman-teman Radit berencana mengajak Radit berpesta menyambut kepulangan nya dari luar negeri. Mereka memaksa Radit untuk ikut mereka pergi dengan cara menculik Radit.


"Kalian mau bawa aku kemana, Bro?" teriak Radit.


"Ada deh, kamu ikut aja."


Radit tak percaya teman-temanya membawa Ia ke Bar terkenal dengan dunia malam itu.


"Aku gak mau lah, aku mau pulang," tolaknya hendak pergi tapi ketiga temanya menahan tubuhnya.


"Ayo ikut, sekali-kali kita pesta kenapa sih?" kata Salah seorang temennya.


"Tapi, Bro. Kalian tahu tempat ini kan?" ucap Radit memandangi mereka.


"Iya, kami tahu. Kita cuci mata sebentar saja kok. Ayo masuk!" Mereka kekeh menggeret Radit.


Baru saja masuk, Radit merasa tidak menyukai tempat itu.


Diedarkannya bola matanya hanya di penuh pria tak bermoral dan wanita dengan pakaian minim.


Kebanyak dari wanita itu memakai rok pendek sejengkal saja dari pinggang dan juga tentunya menonjolkan belahan dada yang bisa menyebabkan hasrat para pria terbangun.


"Ya ampun, Bro. Tempat apa ini, kok pakaian mereka terbuka sih?" sungut Radit dongkol.


Radit adalah keluarga baik-baik. Ia tidak pernah bebas dalam pergaulan itulah sebabnya kini Ia meraih gelar Doktor terbaik di tempatnya mengenyam pendidikan.


"Santai saja, Dit. Kami tau kau alim, tapi kau kesulitan mendapat jodohkan? dengan itu kami mengenalkan tempat ini untuk memahami karakter cewek," jawab temanya tersenyum miring.


Radit menjangkau kan bola matanya jauh kedepan, Ia mengernyitkan dahi menangkap sosok pria diantara kerumunan para wanita yang sepertinya Ia kenal. Pria itu sudah setengah mabuk.


Bukankah itu pria_. Apa jadi dia_?


Teman Radit ikut heran dengan tatapan Radit lalu ikut melihat kemana tujuannya.


"Kenapa, Bro? apa ada wanita yang memikat mu disana?" tanya seorang teman Radit.


"Pria itu_." tunjuknya pada Arkan.


"Oh.. itu. Dia itu adalah pria bayaran, Bro."

__ADS_1


"Maksud mu?" tanya Radit kaget.


__ADS_2