Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_40 Niat baik


__ADS_3

Sekitar seminggu Arkan mulai lihai menggaet penumpang, Ia sangat bahagia bisa membiayai Dara dengan hasil uang yang halal.


"Makasih, Mang."


Setiap malam Ia pulang jam delapan malam. Beberapa hari itu gajinya cukup memuaskan. Hidup mereka bisa terpenuhi di tempat itu.


Hiks.. hiks...


Baru saja sampai depan pintu. Arkan di kaget kan oleh suara tangisan dari dalam kontrakan.


"Dara...!" Arkan memeriksa ruangan namun tidak ada. Suara itu semakin keras saat Ia mendekati kamar mandi. Gegas Arkan menyingkap gorden dan melihat Dara duduk di lantai dengan wajah pucat.


"Dara, kamu kenapa, Ha? kamu habis jatuh?" Arkan memeriksa tubuh Dara tapi tidak terlihat ada memar sedikit pun.


"Dara, ada apa dengan mu? kau mendapat masalah tadi, ha? ayo katakan!" Arkan menjimpit wajah Dara yang basah oleh sisa air mata.


"Arkan, aku takut. Aku tadi lihat kecoa disitu." Dara menunjuk dinding di samping bak mandi.


Arkan melirik kearah yang Dara maksud tapi hewan yang Dara katakan tidak ada disana.

__ADS_1


Arkan kemudian terkekeh. Dara benar-benar konyol.


"Kau takut sama kecoa, hm?" Arkan memeluk hangat tubuh Dara.


Dara mengangguk kecil.


Maaf Arkan, sebenarnya bukan itu. Tapi ada masalah lain yang aku sembunyikan dari **ka**mu. Maafkan aku, Arkan. Aku takut kehilangan kamu...


Dara mengusap air mata yang jatuh terakhir dan menerima uluran tangan Arkan yang bangkit lebih dulu.


"Ayo ke depan, aku bawa sate sama nasi bungkus tadi!" Arkan begitu tulus, Ia menuntun Dara dan mendudukkannya di kursi dipan.


"Ayo makan, aku suapi ya!" Arkan membuka bungkus nasi itu dan menjumput nasi dengan tanganya kearah mulut Dara. Tangannya sudah Ia cuci sembari mengambil air minum ke dapur tadi.


Dara tak menolah dan menerima suapan itu. Suapan ter nikmat yang pertama kalinya Ia dapatkan dari seorang pria.


"Makasih, Kan. Makasih sudah menjaga dan menyayangi aku, aku pasti menyulitkan mu ya?" Dara tersenyum kelu.


"Hey, kamu bilang apa? Aku tidak merasa kesulitan sedikitpun, Dara. Aku justru senang hidup bersama mu seperti saat ini meski dalam kesederhanaan."

__ADS_1


Dara memainkan jari jemarinya. Ada hal lain yang sebenarnya Ia takutkan. Ia tidak ingin Arkan menderita seperti dirinya. Tapi cintanya telah membutakan pemikirannya.


Dara sangat mencintai Arkan dan tak ingin berpisah dalam keadaan apa pun. Dara sudah terlanjur mengikat hatinya pada pemuda yang sudah menjeratnya dengan seribu cinta dan ketulusan.


"Arkan, maafkan aku ya. Kau tidak mengerti, aku sangat ketakutan sekarang." Gadis itu menatap lekat manik Arkan yang memandang nya tanpa henti.


Arkan berpindah duduk di samping Dara dan memeluk lagi gadisnya. "Jangan takutkan apapun, Dara. Aku akan selalu menjaga mu dalam setiap nafas ku."


"Aku beruntung bisa mengenalmu, Arkan. Semua beban ku seakan sirna saat aku bersama mu." Dara merintih pilu membuat Arkan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku mendapat cukup uang hari ini dan sisa uang yang kemaren. Besok kita pergi ke KUA dan menikah ya? aku tidak mau kita melakukan hubungan terlarang terus menerus. Tubuhmu sudah membuat aku tak bisa mengendalikan diri, Dara."


Arkan menatap yakin, Ia sudah memilih jalanya setelah merasai kebersamaan selama itu dengan Dara.


"Kau bersungguh-sungguh?"


Arkan membalasnya jawaban Dara dengan senyuman.


"Eum, pasti banyak penumpang cewek ya?" Dara terlihat manyun.

__ADS_1


"La, kok gitu sih pertanyaannya?"


__ADS_2