Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_17 Di amuk


__ADS_3

Arkan menggeleng, Ia kemudian memeluk Rachel. Tak mau jika Ia nekat merenggut kesucian gadis itu. Cukup baginya menyayangi gadis itu sebagai teman biasa.


"Kakak, minta maaf, Hel. Kakak tidak bisa membalasnya." Arkan mengaku juga meski berat menyampaikan isi hatinya.


Rachel marah dan mendorong dada Arkan dengan kasar.


"Tapi kenapa Kak? Kakak tidak pernah menolak setiap kali Rachel butuh bantuan? kupikir Karena Kakak juga punya rasa sama Rachel dan Kakak belum siap mengatakannya."


Arkan menatap nanar wajah bercucur air mata itu karena dia. Tak pernah Ia merasa bersalah sekalipun pada wanita tapi di depan Rachel hatinya berbeda.


Arkan duduk dan gagu. Haruskan Ia mengatakan sekarang kalau Ia bukan pria yang bisa di banggakan.


"Kak, Rachel tidak pernah jatuh cinta pada pria mana pun membuat Rachel mengurung diri pada mereka. Tapi dengan Kakak, Rachel merasa nyaman, Kak," kata Rachel melanjutkan.


"Rachel, ada hal yang tidak kamu ketahui tentang hidup, Kakak," ucap Arkan lirih.


"Soal apa? aku tidak peduli Kakak tidak punya apa-apa," ucap Rachel yakin.


Arkan menggeleng kan lagi kepalanya.


"Kakak cuma yatim piatu, Hel. Kakak juga tidak punya pendidikan bagus," jelas Arkan.


"Aku gak peduli, Kak," timpal Rachel kekeh pada kemauannya.


"Tapi bukan itu saja, Hel," ujar Arkan sedikit meninggikan suaranya membuat Rachel langsung terdiam.


"Maaf, Hel," ucapnya bersalah.


"Kakak udah punya pacar?" tanya Rachel.


"Tidak."


"Istri?"


"Tidak."


"Terus apa alasannya, Kak? Kalau masalah nya cuma materi Rachel bisa terima kok?"


"Bukan."


"Lalu apa, Kak. Katakan pada Rachel?"


"A.. aku ha.. hanya_.,"

__ADS_1


"Hanya apa, Kak? Kasih tahu, Rachel?"


"Cukup, Hel. Kakak harap kamu maklum. Kakak tidak bisa memberi tahu kamu soal kehidupan kelam Kakak. Ayo kita pulang hari sudah semakin sore!"


"Gak mau," tolak Rachel melipatkan tangan di dada.


"Ini untuk kebaikan, Rachel. Kakak akan jelaskan nanti."


Arkan mengangkat tubuh Rachel dan memaksanya masuk ke dalam taksi yang masih menunggu.


"Jalan, Pak!" pinta Arkan membuat Rachel semakin kecewa.


Rachel berbalik dan tidak mau melihat wajah Arkan, Ia hanya bisa menangis di tolak oleh Arkan walaupun Ia sudah mempermalukan diri ingin memberikan harta berharganya.


Arkan membisu, Ia jadi semakin serba salah. Tapi biarlah, Ia yakin Rachel akan mengerti maksudnya.


Cukup lama di dalam perjalanan, Taksi itu berhenti di depan rumah Rachel.


Rachel membuka pintu mobil dan membantingnya.


"Maaf, Pak," kata Arkan tak enak.


Arkan turun dan mengikuti Rachel sampai ke halaman.


"Hel, tunggu. Kakak mohon jangan menangis. Kakak minta maaf," mohon Arkan berusaha membujuk memegangi lengan Rachel yang di tepis oleh Rachel.


"Pergi, Kak. Pergilah!" teriak Rachel kesal.


"Kakak akan berhenti jika Rachel tidak menangis lagi."


"Apa peduli mu, Kak. Lupakan saja."


"Kasih tahu Kakak. Apa yang harus Kakak lakukan agar Rachel tidak menangis."


Sejenak Rachel terdiam. Ia berbalik dan memeluk tubuh Arkan.


"Beri Rachel satu kecupan bibir maka Rachel tidak akan menangis," tawar Rachel entah apa maksudnya.


Arkan tidak punya pilihan selain menurut, toh itu hanya sekedar sebuah ciuman semata.


Arkan membingkai wajah Rachel dan mengusap air mata gadis itu.


Arkan akan mengabulkan keinginan gadis itu dan dengan begitu Ia bisa tenang.

__ADS_1


Perlahan namun pasti Arkan mendekatkan wajah dan bibirnya ke wajah gadis belia itu.


Sedikit lagi menyentuh bibi Rachel yang sudah tidak sabar namun sesuatu mengagetkan mereka.


Bug!


"Kakak!" teriak Rachel melihat Arkan terhuyung kebelakang hingga terjatuh oleh terjangan Radit.


"Dasar, mesum. Beraninya kau menyentuh adikku. Kau sudah gila, ha?" Radit menunjuk wajah Arkan dengan geram.


Arkan berdiri sembari meringis bagian tubuhnya yang terkena tendangan.


Radit mengitari tubuh Arkan di sertai tatapan sinis dan culas.


"Dasar lelaki kotor, sudah kau apakan adikku, Ha? Kau pikir dia murahan seperti diri mu itu," kecam Radit melotot.


Arkan masih diam, memang Ia yang salah mau memenuhi permintaan Rachel.


Bug!


Radit meninju wajah Arkan dari sisi kanan dan disusul pula dari sisi kiri membuat Arkan terjatuh lagi, Ia tidak ingin melawan karena itu memang layak Ia dapatkan.


"Abang berhenti, Abang melukai dia!"


Rachel tidak terima dan menarik lengan Radit.


"Diam, Rachel," sentak Radit. "Jawab dengan jujur, apa dia sudah mengajak mu tidur, atau bahkan sering melakukan non moral pada kamu, jawab!" paksa Radit tak kuasa menahan marah.


"Apa maksud mu, Bang. Kami tidak melakukan apa pun," elak Rachel.


"Heh, lalu kenapa kalian hendak berciuman tadi. Masih bisa mengelak kamu!" bentak Radit lagi.


Radit yang masih melihat Arkan terkapar menarik Arkan untuk bangun.


"Aku tanya sekali lagi, kau meniduri adikku atau tidak, ha? Dasar laki-laki laknat dan tidak punya malu," maki Radit lagi. Hatinya meradang setelah tahu pekerjaan Arkan.


Arkan tetap bungkam dan mendengarkan saja.


"Cukup, Bang. Kak Arkan tidak melakukan apa pun. Aku mencintai dia, bang," kata Rachel mengaku.


"Apa? aku tidak salah dengar, Hel?"


Rachel mengangguk.

__ADS_1


"Bangsat, kau harus tahu satu hal, Hel. Kalau dia ini hanya laki-laki hina dan pantasnya berada di tempat hina," bengis Radit jijik melihat wajah Arkan.


"Ada apa ini?" tanya Bunda Irma melihat perilaku Radit menghakimi Arkan.


__ADS_2