
Malam itu, Arkan dan Dara masuk ke kamar bersama. Sudah terbiasa menyentuh tanpa ikatan tak ada hal aneh. Namun kali ini keduanya mendadak canggung.
Arkan menggenggam tangan Dara perlahan lalu mengecupnya cukup lama. Kedua pasang bola mata itu bertemu. Hanya sunggingan senyum yang tersaji di kedua gambar mereka yang membayang seperti cermin.
"Dara, aku mencintai mu." kata-kata itu saja cukup membuat aliran darah Dara mengalir cepat. Ada sesuatu yang benar-benar berbeda malam itu.
Kini mereka syah dan bebas melakukan apa pun yang mereka mau tanpa uang rupiah.
"Arkan, aku juga mencintai mu. Aku mau kita bersama selamanya. Sampai kita menua." Dara mencium pipi Arkan dan meninggalkan bekas lipstik di sana.
Dara memegang kuat tengkuk Dara lalu mencuumbui bibir wanita yang kini menjadi haknya.
Hanya suara slerepan yang terdengar bersaing dengan suara jangkrik, burung dan hewan-hewan yang menemani malam mereka.
Jika malam hari kampung itu sangat sepi. Jadi hal biasa mendengar berbagai bunyi-bunyian hewan liar di sekitaran rumah, berbeda dengan kota yang hanya di penuhi kebisingan suara pabrik.
Arkan menarik sleting piyama Dara hingga luruh kelantai. Ia menikmati tubuh yang tak pernah bosan Ia sentuh itu dengan segala cinta dan kenikmatan.
__ADS_1
Malam kesekian penyatuan mereka, Arkan berharap Dara bisa mengandung anaknya. Menebar benih juga sudah berulang kali Ia semai tanpa keraguan sedikit pun namun belum menunjukkan adanya tanda-tanda harapan itu.
Sejak bersama Dara, Ia telah merusak komitmen nya sendiri. Tidak akan bertanggung jawab jika sampai wanita yang bermain denganya hamil.
Usai menuntaskan hasratnya, Arkan mengusap perut datar istrinya. "Aku ingin perut ini yang mengandung dan melahirkan anakku, kelak. Bersiaplah jadi seorang Ibu, Dara."
Dara mengangguk. Ia juga berharap sama, bisa membahagiakan pemuda itu karena kesempurnaan dirinya.
Dara memalingkan wajah dan menitikan air mata. Tak kuasa rasanya Ia menatap wajah Arkan.
Apa aku bisa menjadi seorang, Ibu. Aku tidak yakin hal itu, Arkan...
"Sayang, ada apa denganmu? apa kau sakit?"
Dara menggeleng dan mengusap air mata itu.
"Sayang, kamu meresahkan sesuatu katakan padaku?" Arkan memeluk erat tubuh polos itu dan kembali membanjiri Dara dengan kecupan.
__ADS_1
"Jika aku tak bisa melahirkan anak, apa kau akan meninggalkan aku, Kan?" tanya Dara lirih. Tersirat makna di balik kata-katanya.
"Hey, kenapa bilang begitu? Bukan kita yang menentukan pantas tidaknya di karuniai Anak, Sayang?"
"Kamu benar, tapi aku takut. Banyak orang yang kesulitan memiliki anak," jawabnya ngawur.
"Kita pasrahkan sama yang diatas, Sayang. Jika memang tidak, yang penting kan kita selalu bersama. Tidak akan mengurangi sedikit pun rasa cintaku."
"Iya, Kan. Aku hanya tak bisa membayangkan jika itu terjadi pada ku. Pasti itu adalah sesuatu yang menyakitkan, bukan?"
Arkan menggeleng dan memeluk lagi tubuh Dara.
"Jangan pikirkan apapun, ini sudah malam lebih baik kita tidur saja ya!" Arkan menarik selimut yang Ia tutup kan ketubuh keduanya.
Arkan sudah terlelap, tapi tidak dengan Dara. Setiap hari Ia takut jika bangun Ia tak bisa membuka mata lagi. Ia juga takut jika sewaktu-waktu Arkan akan pergi meninggalkan dirinya.
Dara paham betul baik Orang tuanya maupun Bos tempat Arkan bekerja tidak mungkin melepaskan mereka semudah itu.
__ADS_1
Dara menangis sesenggukan kan, Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengganggu tidur Arkan.