Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_24 Ini lah Dara


__ADS_3

Seminggu telah berlalu....


Plak!


Suara tamparan terdengar begitu keras.


Di rumah mewah di tengah-tengah kota, seorang gadis jatuh tersungkur kelantai setelah mendapat tamparan dari Sang Ayahnya Herlambang keluarga kaya-raya keturunan ningrat.


Dia lah Dara Wilya yang terisak-isak memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan keras dari telapak yang masih kekar dan berotot milik Ayahnya.


"Berhenti membuat kekacauan, Dara. Jangan coba-coba untuk kabur dari pernikahan ini," amuk Herlambang melotot garang.


"Tetapi aku tidak mencintai Raymond, Ayah. Dia bukan pria baik-baik. Bahkan dia sudah menghancurkan hidup Dara," pekik Dara membalas ocehan sang Ayah.


Herlambang duduk berjongkok dan menjambak rambut Dara.


"Aw, Ayah. Sakit!" teriak Dara histeris.


Kehidupan telah meluluh lantahkan kebahagiannya. Dara adalah putri satu-satunya di keluarga Herlambang namun hidupnya terkekang.


Tak ada satu keluarga yang berani membela dirinya di hadapan Herlambang saat Herlambang tengah menghakimi dirinya kecuali sang Ibu tercinta.


Itu bermula dari Usianya menginjak tujuh belas tahun. Dara sendiri tidak mengerti mengapa Ayahnya yang kaya raya itu sangat terobsesi ingin menikahkannya.


Sudah empat pria yang di pilihkan Herlambang untuknya dan semua nya bukan dari kalangan bawah. Tapi empat kali juga Dara berhasil lolos dari perjodohan itu.


Kali ini Dara yakin, Ia tidak bisa menghindari lagi akan pesta pernikahannya dengan Raymond seorang pria arogan dan posesif yang akan di gelar dua hari lagi.

__ADS_1


"Ayah, sudah cukup mengampuni mu, Dara. Jika masih melawan maka kau akan menderita seumur hidup," ancam Herlambang di barengi nada yang keras.


"Ayah, apa aku ini bukan putri mu? Mengapa kau ingin sekali melihat aku menderita, Ayah?" tanya Dara pada pria paruh baya orang yang seharusnya mengayomi dirinya. Kenyataan Ia di perlakukan seperti binatang.


Plak!


Tamparan Herlambang mendarat lagi.


"Tutup mulutmu, Dara!"


"Cukup, Mas Herlambang. Mengapa kau terus menyiksa putri kita. Ma, Aku mohon, Ma. Suruh Mas Herlambang berhenti menyakiti Dara dia itu cucumu, Ma," melas Adisty pada sang Mama mertua seraya menggoyang-goyangkan tangan mengharap mendapat belas kasihan.


Perempuan tua itu hanya membalas dengan tatapan sinis. Tak ada secuil pun perkataan yang keluar dari mulutnya untuk menghentikan perlakuan Herlambang.


"Sudahlah, Mbak. Biarkan saja Dara mendapat hukuman karena sering kabur-kaburan," sahut Tika adik ipar Adisty.


Tika sama piciknya, Ia tidak pernah menarukh suka pada Adisty dan Dara.


status sosial selalu di jadi kan nomer satu di keluarga itu.


Adisty menggeleng tak terima mendengar ucapkan Tika yang tidak punya hati.


Dara sudah cukup menderita dirumah itu. Hampir setiap hari Herlambang memecuti nya dengan ikat pinggang hingga tak jarang menimbulkan memar di tubuh Dara.


"Aku mohon, Mas. Kasihan Dara, Mas. Apa kau belum puas menyiksa putri mu sendiri. Lebih baik kau bunuh saja aku, dari pada aku melihat Dara terus-terusan kau siksa," protes Adisty merintih menangis.


"Ayo, ikut. Ini hukuman yang akan kau terima setelah kau membuat ku murka, Dara!" Herlambang menarik paksa lengan Dara.

__ADS_1


"Tidak, Ayah Jangan hukum, Dara. Dara mohon, Ayah."


Penolakan Dara justru membuat Herlambang naik pitam.


Permohonan Adisty dan Dara tidak membuat Herlambang berhenti menyiksa Dara. Herlambang menyelam kan wajah Dara cukup lama di dalam bak air itu sampai Dara tersengal-sengal.


Itu di lakukan Herlambang berulang-ulang.


Adisty yang tidak tega melihat perlakuan Herlambang, mengikuti dan berlutut di kaki suaminya.


"Cukup, Mas. Cukup! Anak mu bisa mati karena keegoisanmu. Kau siksa saja aku dari pada putri kita."


Seorang Ibu tentu tidak rela melihat Anaknya menangis apa lagi meraung kesakitan saat dianiaya di depan matanya.


"Hos.. hos.. A_ampun, Ayah. A_ ampun...." Nafas Dara berat dan naik turun. Wajahnya mulai memucat dan kesulitan menghirup udara.


"Aku akan berhenti jika kau menyetujui pernikahan mu dengan Raymond, Dara," gertak Herlambang ingin kembali mendorong Kepala Dara ke dalam bak air.


"Tidak, Mas. Jangan Mas, kasihan dia. Aku pastikan Dara akan menikah dengan Raymond," ucap Adisty mencegah dan berjanji.


Sakit dan teriris perasaannya melihat keadaan Dara.


Uhuk.. Uhuk...


Gadis itu terus terbatuk-batuh dan menggigil.


Herlambang mendorong Dara jatuh ke lantai cukup keras.

__ADS_1


"Kau akan merasakan lagi akibatnya jika kau berencana kabur lagi, Dara," ancam Herlambang kejam dan berlalu meninggalkan tempat itu.


Dara sesenggukan meratapi nasibnya, Adisty segera membungkus tubuh Dara dengan handuk yang tergantung di dinding dan melewati Eyang Deswita dan Tantenya Tika yang sedari tadi melipat tangan dan menonton drama penyiksaan Dara dirumah itu.


__ADS_2