Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_22 Rindu


__ADS_3

Dua Minggu berlalu, tepatnya hari libur. Arkan duduk melamun di atas ranjang mengamati cincin yang melingkar di jari kelingkingnya. Ia di terpa kerinduan pada sosok gadis pemilik cincin itu.


Ia sudah berupaya mencari tahu tapi itu semua tidak ada gunanya karena tak ada satu pun teman Dara yang sudi memberikan nomer ponsel Dara.


Dara juga tidak memberikan nomer ponselnya pada Arkan karena Arkan juga lupa memintanya. Kalau pun Ia meminta Ia tidak yakin Dara akan memberikanya.


"Kau merindukan seseorang, Kan?" tanya Raka mengamati kemurungan Arkan.


Arkan tersenyum getir.


"Apa ini rasanya kangen?" tanya Arkan sebaliknya.


"Ya, kurasa begitu. Kau jatuh cinta ya?"


"Entahlah, gadis itu membuatku merasa gelisah."


"Kenapa kau tidak tanya Mami Deby saja, siapa tahu dia memiliki nomer gadis itu," ucap Raka menyarankan sembari melipat sarung dan sajadahnya.


Mungkin benar pekerjaan yang di gelutinya adalah jurang nya dosa tapi Raka tak pernah sekali pun meninggalkan kewajiban nya sebagai muslim.


"Raka, ku perhatikan kau selalu mengerjakan itu. Apa kau yakin pendosa seperti kita masih bisa di terima ampunan Nya?" tanya Arkan mengalihkan perbincangan. Tak ingin Ia tenggelam dalam ketidak pastian.


"Aku tidak tahu, Kan. Tapi setidaknya aku ingin berusaha menjadi orang yang selalu mengingatnya. Di terima tidaknya itu urusan yang di atas 'kan?" ucap Raka pasrah.


Arkan mengangguk mengerti. Sejak pertama mengenal Raka, Arkan menyukai kepribadian pemuda itu tutur bahasa yang lembut dan teman yang mampu menjaga aib yang lainnya.


"Kau hebat, Raka. Meski di lumuri dosa, kau tidak melupakan kewajiban mu. Sedangkan aku, entahlah dosa ku pasti lebih banyak dari dirinya dan semua akan terasa sia-sia," ucap Arkan kelu.

__ADS_1


Perasaan itu tentu dimiliki Arkan karena sejak kecil Ia bahkan tidak tahu caranya Sholat.


"Raka, orang tua mu pasti salut dengan mu," ucap Arkan lagi. Ia merebah kan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong.


"Kau tidak boleh berprasangka buruk, Arkan. Allah itu maha pengampun. Ia pasti tahu kondisi kita bukan karena kita suka di dalam dunia kelam ini tapi kita berjuang untuk bertahan hidup."


Arkan terenyuh mendengar perkataan Raka. Pemuda itu seharusnya hidup di kalangan pesantren bukan terjerumus kedalam rumah maksiat itu.


Arkan melirik Raka, sedang mengutak-atik ponselnya sesaat Ia menghempaskan senyuman menyedihkan di dalam hatinya.


"Bagaimana kabar, Ayahmu?" Arkan sudah lama tidak mengetahui itu.


"Alhamdulilah, Ayah sudah membaik sejak menjalani alternatif pengobatan herbal."


"O ya? jadi Ayah mu tidak akan di operasi?" tanya Arkan ikut bahagia.


"Mudah-mudahan ya, Kan. Aku tidak bisa membayangkan itu di saat kondisi seperti ini."


"Ini sedikit uang, kamu kirim ya ke keluarga mu."


"Aduh jangan, Arkan. Aku sudah sering membuat mu repot." Raka juga selalu menolaknya karena tidak enak hati tapi Ia tak bisa mencegah kalau Arkan sudah memberikannya.


"Jangan pernah menolak ini, Raka. Toh, aku hanya mengurus diri ku sendiri tapi tidak dengan mu. Adik-adik mu perlu sekolah, bukan?"


Raka mengangguk kecil.


"Terima kasih, Arkan. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua ini," ucap Raka penuh kekaguman pada sosok Arkan.

__ADS_1


Arkan menepuk keras pundak Raka.


"Kau sudah membuatkan tinggal makan dan minum, Raka. Lalu apa lagi?" celotehnya kembali berbaring.


"O ya, gimana si Olivia?" tanya Arkan.


Raka cengengesan dan menepuk jidatnya.


"Dia punya pacar, Kan. Nasib aku jomblo seumur hidup ni kayaknya," tutur Raka meratapi kemalangan percintaannya.


"Belum aja ketemu, Raka," timpal Arkan sembari melempar bantal kewajah Raka yang langsung di tangkap oleh Raka.


"Ye, kamu sendiri gimana ma, Rachel?"


"Hem.. iya ya. Aku belum cerita soal itu. Aku hanya mengagumi nya saja, Raka. Kupikir aku menyukainya tapi setelah ku bandingkan perasaan ku baik pada Rachel maupun Dara itu sangat jauh berbeda."


"Dara? siapa? aku baru mendengarnya?" tanya Raka yang merasa asing dengan nama itu.


"Iya, pemilik cincin ini Dara namanya," ujar Arkan.


"Coba ke telisik pakai Indra ke enam ku." Raka meletakkan kedua telunjuknya di kedua sisi keningnya seolah sedang menerawang.


"Wah, pantas kau memilih Dara. Dia pasti sangat cantik," gelak Arkan.


"Dasar kau!" maki Arkan pias.


Sesaat Akan merasakan flu.

__ADS_1


"Kenapa, Kan?" tanya Raka heran.


"Entahlah aku mendadak Flu." Arkan menekan ujung hidungnya berharap lebih baik.


__ADS_2