
Raymond menerobos masuk kedalam rumah Herlambang, dan melihat Dara masih tertidur.
"Om, aku ingin Dara di awasi seketat mungkin. Jika tidak Om dan keluarga akan kehilangan harta kekayaan dalam sekejap," ancam Raymond di ikuti bola mata yang menyala-nyala.
"Tentu, Nak. Sudah di pastikan Dara dan kamu akan menikah secepatnya," ucap Herlambang berjanji.
Herlambang memang keturunan ningrat tapi semuanya datang atas bantuan keluarga Raymond. Bahkan sepertiga dari saham yang tertanam di kantor Herlambang adalah milik Company Group milik Eyang Raymond.
Awalnya kerja sama mereka berjalan baik, namun semua berakhir sejak Raymond di pulangkan dari Jerman.
Pertama kalinya Raymond melihat Dara, Ia memaksa Ayahnya menikahkan Ia dan Dara dengan cara mengekang Herlambang yang memang tidak menginginkan kehadiran Dara.
Raymond mempunyai kepribadian berbeda bisa di sebut juga seorang psikopat gila yang tidak segan menyakiti orang lain jika Apa yang Ia mau tidak terpenuhi.
"Raymond keluar dan membanting pintu cukup keras, Dara yang masih di alam mimpi tersentak kaget.
__ADS_1
Ia membuka matanya dan melihat Herlambang baru saja mengikuti langkah Raymond.
"Hiks... Mengapa engkau tega, Ayah. Haruskan Ayah menjerumuskan ku masuk kedalam lubang derita?" Dara terisak-isak ingin menahan air matanya yang menerobos keluar namun air mata itu tidak terkendali bergantian jatuh membasahi bantal.
Raymond menatap tajam ke seluruh keluarga Herlambang. Nyatanya Ia tidak melihat keponakan Adisty yang cantik jelita.
"Kinara, Mana?" tanya Raymond kasar dan menendang meja.
Ya, Raymond memang sudah tidak waras. Ia ingin menikahi Dara dan Kinara secara bersamaan sebab Ia terobsesi pada kedua gadis itu.
"Apa? bukankah Om tahu kalau Papa Bintaro sudah mengatakannya dua hari yang lalu," jengah Raymond nyalanya.
Herlambang memang tidak menyukai kehadiran Dara, tapi Ia tidak ingin mengorbankan keponakan Adisty Kinara.
Kinara masih berusia tujuh belas tahun dan masih sekolah Menengah atas.
__ADS_1
"Busyeeet... Persetan itu. Jika dia tidak menjadi milikku. Maka aku akan menghabisi kalian," cecar Raymond sesuka hati.
Apa yang dia inginkan pasti akan tercapai. Bahkan tak ada satu yang berani menentang keinginannya.
"Nak Raymond.. kau sudah memiliki Dua orang istri, haruskan kau menikahi gadis yang memiliki ikatan darah dalam satu rumah?" tanya Adisty di sela tangisnya.
Raymond melotot tajam lalu mendorong Adisty hingga terduduk di sofa. "Diam perempuan, Tua. Jika ingin hidup layak lakukan saja perintahku!" Amuk Raymond tidak suka.
"Oke, oke, tenang kan dulu diri mu nak Raymond, kita bahas ini dengan kepala dingin," tukas Herlambang.
"Cuiih, aku tidak betah disini. Aku tidak mau tahu, Dara dan Kinara harus ada saat pernikahan itu tiba," paksa Raymond sembari berlalu meninggalkan ruangan itu di ikuti Algojonya.
Adisty menggeleng tak terima. Sudah cukup Ia mengorbankan Dara putrinya pada lelaki sadis itu tapi tidak dengan keponakannya.
"Kau boleh menjual putri mu demi kedudukan, Mas. Tapi sebagai seorang Bibi aku tidak akan rela kau menjual masa depan Kinara yang masih menuntut Ilmu demi mencapai cita-citanya di luar sana karena keegoisan mu, Mas," ucap Adisty menekankan kalimatnya dan menunjukkan dadanya betapa sakit hatinya akan kenyataan itu.
__ADS_1
Herlambang membisu seribu bahasa. Bisnis nya benar-benar akan hancur jika Kinara gagal di nikahkan pula dengan Pria seperti Raymond.