
Arkan merasa dingin, suhu tubuhnya menguap. Seperti nya Ia akan meriang hari itu.
"Ahk.. bagaimana ini? Aku mau sakit Raka," keluh Arkan mengelap hidungnya dengan sapu tangan. Di hisab-hisapnya karena ada cairan yang hendak meleleh.
Raka bergerak kearah Arkan dan menyentuh kening Arkan.
"Iya kening mu panas, Kan. Minum obat saja dulu, nanti kau tidak bisa bekerja," ucap Raka menyarankan.
Raka adalah teman yang pengertian. Iya mencarikan obat di dalam kotak dan menyiapkan segelas air.
"Ayo minum ini, mudah-mudahan akan membaik."
Arkan menelan obat berwarna putih bundar dan menelannya di bantu air putih.
"Terima kasih, Raka."
"Sama-sama, lebih baik kau tidur saja mungkin kau kelelahan," ucap Raka lagi sangat perduli.
Arkan menurut dan merebahkan diri di tempat tidur.
Hari mulai senja barulah Arkan terbangun. Benar yang dikatakan Raka kondisi tubuhnya membaik. Ia harus bersiap untuk kembali bekerja.
Meskipun sebagian orang mengatakan pekerjaan itu sangatlah terhina tapi pekerjaan itulah yang sudah membuatnya hidup layak.
Arkan membasuh tubuhnya di bawah guyuran shower dan itu menyejukkan perasaan raganya.
Tepat jam setengah tujuh Raka dan Arkan pergi bersama. Wajah para perempuan hari ini nampaknya banyak yang muda-muda.
Pakaian kurang bahan melekat sempurna di setiap lekuk tubuh mereka.
Dua gundukan menyembul keatas sedang Rok mini sejengkal menampakan paha yang putih dan mulus.
"Ini hari istimewa kali ya, Kan," celoteh Raka antusias. Ia pasti akan mendapatkan wanita terbaik malam ini.
__ADS_1
Arkan tersenyum kecil.
Ia sudah tak heran lagi dengan peristiwa itu. Bahkan hal semacam itu lumrah sudah baginya.
Di hati kecilnya merana tapi Ia harus bisa se mempesona mungkin dihadapan mereka.
Dua wanita cantik menghampiri Arkan dan memeluk kedua tangannya dari sisi berbeda.
"Mas Arkan, ayo kita mojok yuk!" ajak si perempuan berambut kriting.
"Di sana, Bang," saran satunya. Menunjuk di sebuah tempat yang hanya temaram tersorot lampu.
"Oke, ayo cantik." Arkan merangkul keduanya.
Raka terkekeh. Ia tak kalah juga sama Arkan seorang wanita cantik mendekati dirinya.
"Halo Mas Raka, sendirian saja? belum memilih kah?" tawa wanita itu menghiasi binar wajahnya.
"Iya, baru saja datang," jawab Raka.
"Mas Raka sama Nay aja ya?" wanita itu menawar. Dia masih muda seusia Raka mungkin.
"Oke, kamu maunya dimana?" goda Raka pada wanita itu.
"Biasa, di kamar," jawab Wanita itu lirih.
Raka menggandeng wanita itu dan menariknya menuju kamar. Apalagi yang mereka lakukan selain memadu kasih.
Berbeda dengan Raka. Kedua wanita yang menggaet Arkan tadi hanya mengajaknya mengobrol santai tapi tak jauh-jauh dari seputar ranjang.
"Mas Arkan suka perempuan yang seperti apa?" tanya wanita yang berambut panjang.
"Maksudnya seperti apa, Sayang?" tanya nya kurang paham.
__ADS_1
"Maksud Lili, saat menghadapi wanita di ranjang. Lebih suka yang panas menantang atau kalem saja?" wanita itu cekikikan mengatakan maksudnya.
"Iya Mas Arkan bagaimana dengan kami?" tanya wanita yang berambut kriting namanya Siska.
"Eum.. tergantung?" jawabnya membuat kedua wanita itu mengernyitkan dahi.
"Kok tergantung, Mas?" protes Siska cemberut.
"Wanita kalem pun bisa buas kalau aku yang jadi lawannya," ucap Arkan berbangga diri.
Sejauh nya Ia bekerja ditempat itu ia cukup paham sedikit banyak soal karakter cewek yang bermain dengannya.
Tengah asyik mengobrol seorang wanita bertubuh berisi menarik lengan Arkan.
"Layani aku, dua puluh juta untukmu," ucap wanita itu tegas.
"Ihk, Mbak nyerobot aja kerjanya. Bisakah kau berhenti membuatku kesal," dengkus Lily.
"Ya udah sih repot amat, biar malam ini bagian ku. Aku sudah tidak tahan," jawabnya judes.
Wanita itu membawa Arkan pergi dan mengajak Arkan kekamar kosong yang belum berpenghuni.
Ia menggerayangi tubuh Arkan yang Ia suruh duduk di ranjang dan mulai membuka paksa baju Arkan.
"Waw, sispeck," ucap nya memuji. Bola matanya sudah bisa di samakan dengan bola pingpong.
Badan Arkan putih, bersih, tidak terlalu berotot namun sangat kekar dan menggoda.
Wanita itu percaya diri membuka sendiri miliknya lalu memijat batangan alot milik Arkan.
"Besar ya," ucapnya lagi lalu mencecapi milik Arkan membuat Arkan ter pedaya.
"Enak, Sis," ucapnya menikmati luluhan wanita itu.
__ADS_1
Sudah seperti menikmati es cream lezat saja tanpa sungkan.
Arkan semakin merongrong kenikmatan hakiki walau Ia tahu Ia sendiri tidaklah terlalu sehat.