
Dara menyiapkan satu piring pisang goreng yang sudah masak dan satu gelas koffee di depan Arkan. Mereka harus belajar membiasakan diri hidup sederhana sejak memutuskan meninggalkan rumah.
"Kan, maafkan aku ya karena aku kau harus melakukan pekerjaan sulit," ujar Dara memasang mimik wajah sedihnya.
"Tidak, dulu aku jauh lebih susah dari sekarang ini, Dara," jawab Arkan merendah. Memang itu lah kenyataanya, kalau Ia sudah hidup enak lebih dulu mana mungkin Ia sudi melayani setiap wanita yang menginginkan dirinya.
"Tapi pekerjaan mu itu kan menjanjikan, kau hanya perlu berolah raga di atas ranjang maka kau akan mendapatkan uang tanpa merasakan teriknya panas matahari, debu dan polusi," kata Dara lagi sayu.
Arkan menggenggam tangan Dara, hatinya tidak pernah merasa bersedih atas pilihannya itu.
"Jangan bilang begitu, Dara. Aku lakukan itu juga untuk hidup. Jika aku kaya dan mengenalmu di tempat yang lebih pantas tentu aku akan memilih itu sebagai jalannya."
Siapa pun manusia di dunia tak akan mau menginjak tanah berlumpur jika ada jalan beraspal. Namun manusia nyatanya tak bisa memilih bagaimana dan seperti apa Ia di lahir kan dan hidup di dunia.
"Kan, aku juga tak sebaik pemikiran mu. Kau bisa saja menyesal setelah ini. Ada hal yang tidak kau pahami tentang kehidupan kelam yang aku jalani," tutur Dara getir.
__ADS_1
Dara juga bukanlah perempuan sempurna yang di bayangkan oleh seluruh kau Adam. Paktanya setiap hari Ia menangis meratapi nasibnya sebagai Orang yang tidak berguna.
Benar adanya Ia hidup di kalangan orang tua banyak uang tapi tak membuatnya hidup bahagia.
"Dara, kita lupakan masa itu dan mulai lembaran baru sebagai Arjun Dan Wilya. Aku yakin kita bisa menjalani ini bersama-sama."
Dara mengulum bibir. Ia berharap semua itu akan berjalan sesuai harapan. Ia tahu benar tentang sifat Papa nya dan Raymond yang akan terus mengejarnya kemana pun Ia berlari.
"Semoga kita mendapat kemudahan ya, tak ada yang akan memisahkan kita," ungkap Dara akhirnya.
Keajaiban mengenal Dara, Dara memiliki rasa syukur yang tinggi meski hidup apa adanya.
"Arkan, jangan diliatin aja pisangnya. Udah dingin lo," sungut Dara tak kunjung melihat Arkan menyantapnya.
"Hehehe.. iya sampai lupa." Arkan memotong pisang itu dua bagian. Satunya Ia suap kan pada Dara.
__ADS_1
"Em.. lumayan rasanya. Meski belajar sebentar," oceh Dara seorang.
"Itu karena kamu selalu bersyukur, apa pun yang di awali dengan syukur pasti akan terasa nikmat," sambung Arkan sok bijak.
Pagi hari yang cerah, Arkan memulai rutinitas baru nya sebagai kenek Bis. Pengalaman baru yang tidak akan terlupakan oleh nya.
"Sayang, Wil. Aku pergi ya." Perjanjian tidak boleh memanggil nama harian mereka.
"Iya, hati-hati ya. Pekerjaan kenek itu tak semudah kelihatanya." Mendesis Dara di telinga Arkan.
"Pasti, ingat jangan pergi kemana-mana tanpa aku." Tak tenang Arkan meninggalkan Dara di tempat baru saat Ia keluar rumah.
Mereka sudah seperti keluarga kecil sungguhan, begitu mengharukan rasanya dada Arkan mendapati kebahagiaan sederhana itu.
Sudah lama Ia tak lagi tahu rasanya kasih sayang keluarga. Hidup sebatang kara mengajarkannya arti sebuah kekuatan. Bernaung kan pekerjaan nista tak serta-merta membuatnya terhina.
__ADS_1