Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_18 Rela


__ADS_3

Radit melepaskan tanganya dari kerah baju Arkan dengan kasar dan mengusap wajahnya yang di penuhi keringat.


"Bunda, suruh Abang berhenti berbuat kasar pada teman Rachel, Bunda," rengek Rachel menarik-narik lengan sang Bunda.


"Diam, Rachel!" bentak Radit tidak suka.


"Radit, sejak kapan kau membentak adik mu begitu? lalu kenapa kau memukuli Arkan, nak?" tanya Sang bunda heran.


Bunda Irma ter patut pada kalung di leher Arkan. Benda itu serasa tidak asing baginya. Tapi Bunda Irma belum yakin akan kebenaran itu. Toh banyak juga yang memiliki kalung serupa di belahan dunia ini.


"Dia ini_." Belum selesai Radit bicara, Bunda Irma meminta Maaf pada Arkan yang sedari tadi menundukkan kepala.


"Maafkan Radit, Nak. Wajah mu jadi memar begini," kata Bunda Irma tak enak hati.


Radit menganga mendengar Bundanya yang justru merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Tan," jawab Arkan mengusap darah segar di tepian bibir nya.


Bug!


Radit gemas dan kembali memukul Arkan. Gatal tanganya kalau tidak membuat Arkan babak belur.


"Radit!" teriak Bunda.


"Dasar brengsek, wajah mu saja yang terlihat polos tapi sebenarnya kau itu bermuka dua," maki Radit belum puas.


Memukul lagi dan lagi hingga Arkan kembali tergeletak.

__ADS_1


"Abang, jangan Bang!" melas Rachel sampai histeris.


Rachel gegas membantu Arkan berdiri. Tubuh Arkan serasa lemas dan tak berdaya. Tapi Ia juga tidak ingin membalas perbuatan Radit.


Baginya wajar seorang Kakak marah jika Ia yang notabennya bukan mukhrim dari Rachel sudah lancang hendak mencium Rachel.


"Maaf, Dit," ucapnya lirih.


"Cuiih, jijik aku mendengar itu dari mulut mu, lelaki biadab!"


"Ada masalah apa Radit, bukankah kemaren kau dan Arkan baik-baik saja?" tanya Bunda mengintimidasi Radit.


Radit meraih benda pipih di sakunya dan menunjukkan hasil vidio semalam.


"Lihat ini, lihat dengan mata kepala kamu Rachel. Agar kau tidak buta menilai seorang pria," jengah Radit pada Rachel.


Bunda Irma dan Rachel menganga tak percaya dan menatap tajam kearah Arkan.


"Kak Arkan, kau_?" Rachel menggeleng-geleng kan kepalanya. Ia tidak menyangka Arkan seburuk itu.


"AstaufituLlahal azhim, Nak. Kenapa kamu bekerja seperti itu, Nak?"


"Sekarang kalian tahu, kan? dia ini lelaki bayaran yang setiap malam bergonta-ganti wanita untuk tidur bersama dia," ungkap Radit puas.


Rachel sangat kecewa, Ia merasa telah di bohongi.


Rachel mendorong dada Arkan secara kasar diiringi air mata yang tak kunjung mengering.

__ADS_1


"Kau keterlaluan, Kak. Se bejat itukah dirimu? benarkah yang kulihat itu, Kak? benarkah?"


"Jadi itu alasan Kakak tidak mau membalas cinta Rachel? Makasih, Kak. Makasih sudah menolak Rachel. Karena Rachel juga tidak sudi mengenal pria seperti Kakak. Pergi sekarang, Pergi!" Usir Rachel yang akhirnya ikut emosi.


Sakit dan kecewa telah membaluri hati gadis belia itu, Ia terisak-isak menahan perih di dadanya.


"Maaf, Hel," lirih Arkan. Ia menyeret kaki lemah itu untuk pergi dan terhuyung-huyung hampir jatuh.


Rachel tidak tega, tapi Ia enggan menolong akibat kekecewaan hatinya begitu besar.


Radit tidak membiarkan Rachel memberikan belas kasihan pada Arkan lalu secepatnya menarik lengan Rachel untuk masuk kedalam rumah di ikuti Bunda Irma yang masih saja menoleh pada Arkan.


Bunda Irma penasaran akan kalung itu. Mungkinkah dia orang yang selama ini Ia cari. Besar harapan akan hal itu, Ia berniat untuk memastikannya kelak.


Sopir taksi yang mengantar Arkan tadi sudah pergi terpaksa? Arkan harus berjalan lebih dulu untuk mencari tumpangan.


Sakit di wajahnya membuat Ia terus meringis, bahkan hari mulai petang. Ia tidak tahu apakah malam itu Ia bisa bekerja dalam kondisi seperti saat ini.


Sesak hatinya melihat Rachel terus menangis karena dirinya barusan, tapi akan lebih baik Rachel tahu sekarang dari pada Nanti setelah cintanya semakin dalam.


"Maafkan Kakak, Hel. Semoga kamu bahagia ya. Kakak Menyayangi Rachel tapi tidak bisa lebih dari itu. Pasti Rachel sangat membenci Kakak sekarang. Setelah Rachel tahu kalau Kakak hanya seorang pekerja malam," gumam Arkan dalam hening.


Arkan menendang-nendang benda apa saja yang berserakan di jalan untuk menumpahkan keluh kesahnya.


Tidak berapa kemudian dari kejauhan, Ia mendengar seorang wanita meminta tolong.


Wanita itu ketakutan karena di kejar beberapa orang. Ia memakai dress putih tanpa alas kaki berlari kearah Arkan.

__ADS_1


"Tolong! Tolong...."


Wanita itu makin mendekat dan terlihat jelas siapa wanita itu membuat Arkan membelalakkan bola matanya.


__ADS_2