Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_46 Sakit Lagi


__ADS_3

Sudah cukup lama Arkan dan Dara tidak bertemu. Entah bagaimana kah kabar istri yang telah Ia nikahi secara sirih itu.


Kehidupan semakin memberi jarak antara Dara dan Arkan. Keduanya di pisahkan oleh keadaan yang menyakitkan. Hari itu Arkan bertekad diam-diam akan menemui sang istri.


Namun saat mau melangkah kepalanya mendadak pusing berat. Bahkan hidungnya berair. Arkan sudah sering merasakan kalau akhir-akhir ini kesehatannya selalu menurun.


Tapi Ia belum berkeinginan memeriksakan kondisinya. Baginya semua itu bukan lah penyakit yang harus ia perhatikan.


Arkan sudah menaiki taksi dan terus menghubungi sang istri namun ponsel Dara tak pernah aktif.


Hingga Arkan tiba di sebuah Mall. Ia berencana membelikan hadiah untuk Dara. Hadiah yang akan membuat Dara suka.


Lama dalam bingung apa yang pantas Ia bawakan, Arkan akhirnya mendapatkan apa yang di kehendakinya.


"Dara pasti suka ini, aku kangen sama kamu, Sayang." Arkan mengukir senyum memandangi paper bag mini berada dalam genggamannya.


Ia kembali keluar gedung itu namun Ia malah bertabrakan dengan seorang perempuan.


Brug!


"Aduh, maaf nak, Maaf." Ibu itu mengatupkan tangan. Bola mata itu membulat saat menatap netra matanya.


"Arkan.."

__ADS_1


"Tante, Mama nya Rachel ya?"


"Iya, Nak. Saya Mama nya Rachel."


"Sampai jumpa, Tante. Maaf, saya buru-buru."


Sang Ibu nampaknya ingin mengatakan sesuatu tapi Ia bingung untuk memulai dari mana.


"Tunggu, Nak!" cegahnya ketika Arkan hendak pergi.


Arkan menoleh sambil mengernyit heran.


"Kenapa, Bu?" tanya Arkan ingin tahu.


Arkan menunduk melihat maksud sang Ibu.


"Ini kalung Ibuku, Bu," jawab Arkan pias. "Apa Ibu mengenalnya?" Tentu saja Arkan akan merasa senang jika sang Ibu mau mengatakan sesuatu tentang ibu kandungnya yang sudah lama tak pernah ia jumpai.


Bu Irma melangkah mendekat dan memegang kalung itu sambil memperhatikannya dengan seksama.


"Boleh Ibu lihat di dalamnya?" Bu Irma perlu bukti untuk memastikan kebenaran dari identitas pemuda itu.


"Silakan, Bu." Rasanya tidak ada hal yang perlu di khawatirkan jika Bu Irma tahu.

__ADS_1


Bu Irma membuka perlahan isi bandul liontin itu dan Bu Irma menganga melihat hal yang Ia harapkan benar adanya.


Kaki Bu Irma bergetar hebat. Tak sanggup rasanya Ia menumpu kakinya.


"A_ Anakku," ujarnya mengagetkan Arkan.


"A_ apa, Bu?"


Bu Irma tak menjawab malah melangkah mundur dan bergegas meninggalkan Arkan dalam keheranan.


"Ada apa dengan Bu Irma? apa dia tahu sesuatu tentang Ibuku?" Arkan hanya bisa bergumam penuh pertanyaan.


Arkan memilih pulang dan baru saja masuk kekamar, Ia merasakan sakit kepala yang teramat sangat.


"Aduh, kenapa kepalaku sakit sekali?" Arkan meraba-raba menuju ranjang dan memutuskan merebahkan diri di kamar.


Demam dan Flu kembali menyerang lebih hebat dari sebelumnya.


"Raka, Raka tolong!" teriak Arkan. Ia membutuhkan sesuatu yang meringankan kondisinya namun sayangnya Raka tidak ada di tempat itu.


Hari mulai beranjak gelap, Arkan belum juga membaik. Ia tidak tahu apa yang harus Ia lakukan bahkan untuk berjalan saja tubuhnya sangat lemas.


Ponsel Arkan terus berdering nyaring. Sudah di pastikan itu datangnya dari Mami Deby tapi Arkan sudah tidak peduli akan benda itu.

__ADS_1


"Raka, kamu dimana? tubuhku rasanya sakit semua, Raka?"


__ADS_2