Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_09 Hampir Khilaf


__ADS_3

"Maaf, aku khilaf." Suara Arkan terasa mengais naluriah hati Rachel. Wajahnya memerah tersipu. Ia tak menduga begitu rasanya ciuman pertama dari laki-laki. Membangkitkan bulu kuduk yang tertidur ingin lagi dan lagi.


Rachel mengulas senyum, Ia menganggap ciuman Arkan adalah sesuatu yang istimewa di hari ulang tahunnya tanpa perayaan.


"Gak papa, Kak," jawabnya menapaki kaki keluar membiarkan Arkan berganti pakaian. Takut juga bila berlama-lama berduaan di dalam satu kamar.


Arkan seperti ketiban duren runtuh baru dua kali bertemu Ia sudah berani menyentuh gadis polos itu. Arkan tergelak menggeleng-gelengkkan kepalanya.


"Jangan gila, Arkan. Gadis itu gadis baik-baik bukan perempuan sembarangan."


Malam itu Arkan seharusnya pergi ke Club' tapi sayangnya belum juga usai menyantap makanan dengan Rachel hujan turun cukup deras.


"Wah, kok tiba-tiba hujan ya, Hel?" tukas Arkan gelisah.


"Gak tau, Kak. Sekarang kan emang musim hujan jadi hujan turun gak ngasih tau dulu," jawab Rachel bermaksud guyon.


Arkan terkekeh menatap lekat gadis itu, gadis itu sudah mempora-porandakan ketenangan hatinya. Ia memikirkan tentang pekerjaan yang mungkin tengah menanti kedatangannya.


"Kenapa, Kak? Kakak bingung mau pulang?" tanya Rachel. Rachel cukup pandai menebak rupanya.


"Iya, Hel. Hujan ternyata cukup lebat diluar," jawab Arkan tersenyum melihat bibir gadis itu membuatnya tak bisa mengalihkan tatapannya.


"Kakak nginep aja di sini, besok baru pulang," jawab Rachel membuat Arkan terkesima.


"Gak mungkin, Hel. Aku takut ada fitnah nanti."


"Kakak tenang saja, Rachel sama Bibi kok. Lagian penduduk disini bukan orang-orang usil," jawab Rachel.


Arkan mengangguk.


Terpaksa Ia menuruti keinginan Rachel menginap disana.


"Kak ini selimutnya." Rachel menyerahkan selimut di dalam pelukannya Arkan menerimanya.


"Hel, apa Kita bisa mengobrol saja? Kakak tidak mengantuk."


"Oh iya santai saja."


Rachel duduk di tepi ranjang di ikuti Arkan. Degup jantung Rachel tak karuan karena Arkan terus saja memandanginya


"Kenapa orang tua Rachel ninggalin Rachel sendiri?" seloroh Arkan ingin tahu.


Rachel melirik Arkan.


"Yah, mau gimana lagi. Mereka emang perhatian kak. Tapi mereka selalu ninggalin Rachel, Rachel sering kesepian kadang Olivia yang nemenin tapi sekarang jarang mau dianya."


"Kenapa?"


"Karena pacar," bisik Rachel.

__ADS_1


Arkan kembali terkekeh.


"Emang gak bisa pacaran disini?


"Disini gak bebas katanya."


"La kok?"


"Aku julitin, Kak. Hehehe...."


Gadis itu benar-benar sudah membuat Arkan jatuh hati, Arkan bahkan tak bisa menahan diri ingin menyentuh pipi gadis itu. Arkan menarik tangan Rachel di atas pangkuannya dan di usap-usapnya dengan lembut tanpa ada penolakan dari Rachel. Rachel punya perasaan sama. Ia sangat menyukai Arkan karena wajah Arkan begitu memikat.


"Kak..."


"Apa?"


"Aku mau bilang sekali lagi aku suka sama Kakak," ucapnya membalas tatapan Rachel.


Arkan mencubit gemas batang hidung Rachel.


Di pegang nya kedua pundak Rachel membuat darah Rachel seolah berlari cepat.


Arkan mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Rachel membuat Rachel kembali terpejam.


Arkan mel*mat bibir Rachel membuat Rachel tak kuasa menikmatinya.


Begini rasanya sentuhan itu pantas saja Olivia sering melakukan perbuatan itu pada teman kencan lelakinya.


Arkan ingin menahan diri tapi mendapat balasan dari Rachel membuatnya melanjutkan aksinya menyapu bibir Rachel.


Rachel menikmatinya dan terus menikmatinya hingga Arkan menghentikan aksinya. Di tatapnya lagi dalam-dalam manik mata Rachel. Gadis polos yang sangat lugu. Arkan bisa menilai dari caranya yang tidak pandai membalas sentuhannya.


Arkan tersenyum lagi, Ia bisa saja khilaf malam ini. Melakukan sesuatu di luar kemampuannya pada gadis itu.


"Rachel tau kan sekarang rasanya berciuman?" desis Arkan.


Rachel menunduk tapi Arkan menaikkan dagunya agar tetap melihatnya.


"Maaf, Rachel ternyata tidak sebaik itu, Kak. Rachel menyukainya," jawab Rachel pelan.


Arkan memegang pucuk kepala Rachel dan diusapnya dengan tulus lalu menarik kepala Rachel jatuh di pundaknya.


"Rachel, ini bisa di lakukan oleh pasangan menikah Rachel tidak bisa melakukannya pada sembarang orang," ucap Arkan.


"Kenapa begitu?" tanya Rachel menatap Arkan.


"Karena Rachel bisa melahirkan anak," jawab Arkan.


"Masak sih, Kak. Kan cuma ciuman," bantah Rachel.

__ADS_1


"Tidak hanya itu, Rachel. Tapi jika dua orang berbeda jenis kelamin bisa melakukan hal lainnya."


Rachel mengernyit bingung.


"Maksudnya?"


"Apa Rachel merasakan sesuatu di bagian inti Rachel?"


Rachel makin bingung akan penuturan Arkan yang makin tidak di pahami nya.


"Jelaskan Kak, aku tidak suka tebak-tebakan," pinta Rachel manja.


"Bagaimana bisa menjelaskannya, Hel. Jika tidak melalui praktek," ujar Arkan mengusap wajahnya. Gadis itu sangatlah polos.


"Kalau begitu kasih tau Rachel, Kak."


Arkan menggelengkan kepalanya. Di pegang nya tengkuk Rachel dan di pangut nya lagi bibir Rachel lebih lama lagi.


Arkan terlalu buas untuk itu apalagi menghadapi wanita seperti Rachel dengan mudahnya di bohongi pria.


Deru nafas Rachel menjadi berat naik turun Ia menekan Kepala Arkan meminta Arkan melakukannya lebih dalam.


"Kak, Lakukan lagi!" pinta Rachel ketika Arkan ingin mengakhirinya. Arkan kaget Rachel merebahkan diri di atas ranjang dan meminta Arkan naik di atasnya.


"Rachel..." Arkan bingung ternyata aksinya membuat Rachel menjadi kecanduan.


"Ayo, Kak," rengek Rachel. Begitu santainya Rachel. Wajar saja Rachel tidak pernah bergaul membuatnya cenderung menginginkan sesuatu berbeda.


Arkan merangkak ketubuh Rachel lalu mengulangi lagi ciumannya. Sensasi darah mendidih dan dinginnya malam membuat keduanya berlama-lama melakukan nya.


"Gila, Aku akan khilaf sungguhan kali ini," batin Arkan dalam hati.


Rachel merapatkan tubuh Arkan ketubuh nya makin erat berharap Arkan tidak akan menyudahinya.


Arkan tidak ingin terpancing dan tetap menahan diri.


"Jangan, Hel. Kamu akan menyesal nanti," ucap Arkan masih posisi mengungkung tubuh Rachel.


"Kak, ada sesuatu di bawah sana yang membuat Rachel ingin lagi," jawab Rachel. Arkan mengerti hal itu. Pasti miliknya sudah mengencang ingin di rongrong oleh miliknya.


Arkan menghela nafas kasar dan beranjak dari tubuh Rachel. Pantang baginya merusak seorang gadis seperti Rachel yang bahkan tidak mengerti apa pun tentang bercinta.


Ada tatapan kecewa dan mendung di wajah Rachel mengamati Arkan. Rachel kemudian mendudukkan diri di samping Arkan dalam diam.


"Rachel tidur ya ini sudah malam!" pinta Arkan. Berlama-lama dengan Rachel pasti Ia akan terpengaruh.


Rachel mengangguk dan keluar, Ia sangat bersedih. Biarlah, Arkan tidak mau gadis itu menderita oleh perbuatan bejatnya.


"Maaf, Hel. Jika Aku bukan Pria malam sudah pasti akan kulakukan spesial untukmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu yang akan membuatnya menangisinya setelah sadar dan mengetahui keburukan tentang diriku. Kamu terlalu suci untuk menjadi partner ranjang ku."

__ADS_1


__ADS_2