
"Raka, Arkan mana?" tanya Mama Deby dengan suara marah. Musik club berdendang ria menghiasi malam penuh madu di tempat itu.
"Gak tau, Mi. Aku tadi gak pulang dulu," jawab Raka spontan. Dia memang ada kepentingan sesaat dan tak lagi kembali kerumah.
Mendengar ucapan Raka, Mami Deby mengutus Richo dan dua bodyguard nya memeriksa Arkan di tempat penginapan.
"Arkan! Arkan!" panggil mereka nyaring.
Tak ada jawaban, Arkan tak menjawab meski Ia mendengar karena tubuhnya terlalu lemah.
"Dobrak saja, To!" perintah Richo geram.
"Oke, Bang!"
Gubrak!
Hanya sekali tendangan pintu langsung terbuka.
Mereka menemukan Arkan tengah menggigil di ranjang.
"Waduh, kenapa lo, Kan?" Richo terkejut saat menyentuh kening Arkan yang terasa sangat panas.
"Wah, gawat ni. Arkan sakit, Mami Deby harus tahu ini."
Gegas Richo menelpon sang Bos untuk memberi kabar akan kondisi Arkan.
"Kenapa, Cho?" tanya Mami Deby dari sebrang. "Apa kau tidak menemukan Arkan di sana?" imbuh Mami Deby.
"Bukan, Mi. Si kumbang sakit ni, kayaknya parah," jawab Richo tegas.
__ADS_1
"Bawa saja kerumah sakit dan infus bila perlu. Aku gak mau dia sakit lama-lama!" perintah Mami Deby.
"Oke, Mi."
Usai menelpon, ketiganya secepatnya memboyong Arkan kerumah sakit terdekat. Disana Ia tak sengaja Mamanya Rachel melihat Arkan.
Rasa penasarannya membuatnya mengikuti Arkan sampai di bawa masuk kesebuah ruangan.
Ada apa dengan anak itu? Apa dia sedang sakit?...
Bu Irma mengintip dari jendela seorang Dokter memeriksa dengan sangat telaten.
"Sepertinya sakit nya cukup serius, Mas. Lihat kulitnya mengeluarkan bintik-bintik merah tapi masih jarang!" jelas Sang Dokter.
"Kira-kira sakitnya apa, Dok?" Tanya Richo khawatir.
"Untuk memastikan dugaan ku salah alangkah baiknya jika pasien di ambil sampel darahnya dan kita cek di Laboratorium," ujar Dokter itu.
"Baiklah, untuk sementara Mas Arkan sebaiknya di rawat inap lebih dulu," saran Sang Dokter.
"Oke, Dok."
Dokter itu meminta perawatnya memasang selang infus untuk Arkan guna memberikan cairan untuk menguatkan tubuh Arkan.
Arkan hanya diam, wajahnya terlihat pucat pasi. Baru kali ini Ia sakit dan tubuhnya seperti di hantam batu karang.
Bu Irma menitikan air mata. Ia merasa berdosa akan kelakuannya pada pemuda itu di masa lalu.
Anakku maaf kan Ibu, nak...
__ADS_1
Dokter dan perawat yang sudah mendapatkan sampel darah Arkan keluar. Bu Irma secepatnya mengikuti keduanya.
"Dokter tunggu!" teriaknya.
"Iya, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Sang Dokter.
"Saya butuh bantuan, Dok. Kemungkinan Arkan adalah anak saya yang hilang bisakah Dokter sekalian melakukan tes DNA untuk saya dan Arkan, saya mohon, Dok. Saya hanya ingin memastikan meski ikatan batin saya, saya yakin tidak salah," mohon Bu Irma seraya mengatupkan tangan.
Bu Dokter dan perawat ini saling bertatapan kemudian Dokter itu mengangguk.
"Baiklah, Bu. Semoga dia benar anak Ibu," jawab Sang Dokter.
"Dok, boleh saya tahu satu hal lagi?" tanya Bu Irma.
"Silakan, Bu."
"Dia sakit apa, Dok?" tanya Sang Dokter.
"Oh itu. Saya belum yakin, Bu. Tapi seperti nya dia mengalami gejala virus HIV," jawab Sang Dokter.
"Apa?" tubuh Bu Irma hampir terhuyung namun sang Dokter segera menahan tubuhnya.
"Maaf, Dok. Bukannya Bu Irma ini adalah Ibu Dokter Radit," bisik si perawat.
"Oh, jadi Ibu adalah Ibunda Dokter Radit?" tanya Sang Dokter memastikan.
Bu Irma mengangguk.
"Tolong sembuh kan anak saya, Dok. Tolong juga rahasiakan pada Radit perihal tes DNA ini sampai saya siap mengatakannya," melas Bu Irma lagi.
__ADS_1
"Baik, Bu. Ayo kita keruangan saya!"