Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_13 Kehilangan Lagi


__ADS_3

Hari itu terasa indah, Arkan terbangun dari tidurnya. Diraba-raba nya tempat di sampingnya ingin merengkuh tubuh Dara. Rupanya Dara sudah tidak ada bahkan Dara pergi tanpa berpamitan.


Arkan menghela nafas, Ia kecewa kehilangan Dara lagi. Pasti Dara tidak ingin Arkan mengetahui kepergian dirinya.


Arkan berkemas dan keluar, Seorang wanita yang semalam sempat mengobrol denganya duduk seorang diri di sofa disertai senyum mengembang. Ada koper besar di hadapannya perempuan itu memperhatikan Arkan dengan tatapan liar.


"Kau sudah bangun, tampan? pasti tidurmu sangat nyenyak ya?" tanya Wanita itu.


"Apa Dara sudah pergi?" Arkan balik bertanya.


"Kenapa? kau masih menginginkan gadis itu?" tanya wanita itu mengerling manja.


"Beri aku alamatnya," pinta Arga yang ikut duduk di sofa.


Wanita itu malah menertawakan Arkan.


"Panggil aku Sheila agar lebih akrab," ucap Sheila memberi tahu.


"Kau pasti sudah tahu namaku, bukan?" tanya Arkan balik.


"Tentu, namamu sudah sangat terkenal. Kau adalah kumbang tertampan nomer satu di negeri ini," ucap gadis itu seraya duduk di pangkuan Arkan.


Wanita itu mengecup bibir Arkan, Arkan tak menolaknya dan menatap lekat wanita itu.


"Ku beri tahu, Dara tidak ingin kau mengetahui jati dirinya. Sebentar lagi Dara akan menikah, Arkan. Jadi, alangkah baiknya kau melupakan dirinya dan bermain denganku," tukas Sheila liar.

__ADS_1


"Heh, kau benar. Kau tidak kalah cantik dengannya. Aku akan datang jika kau mengundangku atau sebaliknya kau yang datang ke tempat dimana aku bekerja," balas Arkan tak kalah gemas mencubit pipi Sheila.


"Oke, tapi jujur. Aku melihat ada cinta di matamu untuk Dara. Apa itu benar?" tebak Sheila memainkan kancing baju Arkan.


"Cinta itu seperti tinta, Sheil. Aku tidak akan mungkin memiliki dirinya, Bukan? hanya menyisakan noda tak berarti."


"Kau benar, bagaimana kalau Dara menerima mu apa adanya? Apa yang akan kau lakukan, Kan? Dia masih suci hanya kamu yang sudah menyentuhnya," desis Sheila lirih.


"Aku tahu," jawab Arkan.


"Waw, berarti kau sangat paham, dong. Sungguh luar biasa," puji Sheila kagum.


"Tidak sepenuhnya, tapi aku merasakan perbedaan itu ketika menyentuh tubuhnya," jujur Arkan pada Sheila.


Sheila bangkit dari pangkuan Arkan. Ia kembali duduk di tempat semula seraya menatap Arkan penuh arti.


Arkan mengernyit bingung, Ia kurang paham maksud dari ucapan Sheila.


"Laki-laki itu suka bermain tangan, dia tidak ingin Dara menolak sedikit pun keinginannya. Bahkan Ia mempermalukan Dara dengan cara meminta Dara melucuti pakaian nya di depan semua tamu lelakinya. Gila, Bukan?"


"Dara melakukan itu?" tanya Arkan penasaran.


"Tidak, Dara memberontak. Ia meludahi wajah Lelaki itu didepan mereka. Lelaki itu akhirnya marah dan menghina dirinya. Dia bilang tubuh Dara tidak sempurna dan jelek karena itu Dara menolak menunjukkan ya. Lelaki itu bahkan memukul punggung Dara dengan ikat pinggang miliknya. Aku tidak tahu apakan memar itu masih ada atau tidak sampai sekarang." Sheila mengakhiri ceritanya.


"Lalu, mengapa dia malah memilih aku, Sheil?" tanya Arkan lagi. Rasanya penting Ia tahu alasan Dara.

__ADS_1


Sheila menertawakan lagi pertanyaan Arkan.


"Hahaha.. itu karena salah seorang temanku yang memberikan foto mu padanya saat Ia mabuk-mabukan. Kurasa dia masuk dalam jeratan pesona mu, termasuk aku," ulas Sheila nakal.


Arkan mengusap dagunya, pikirnya bermunajat. Ia kian penasaran akan kehidupan Dara. Gadis sempurna yang melulu lantahkan hatinya. Sayang, Sheila pun tak mau berbaik hati memberikan alamat gadis itu.


"Richo...!" teriak Sheila pada Richo yang sudah menunggu Arkan di ambang pintu.


Gegas Richo masuk dan mendekat.


"Ini uangnya. Dara sebenarnya meninggalkan cek tadi. Tapi ku dengar Mami Deby lebih suka uang Kes. Maka aku menyuruh seseorang mencairkannya. Dara adalah seorang anak komlomerat, Arkan. Tidak mudah baginya mengenal kehidupan gadis itu." Kata-kata Sheila syarat dengan makna terselubung.


"It's Oke. Aku mengerti Sheil. Jika kau bertemu denganya sampai kan salam ku." Hanya itu yang bisa Arkan katakan sekarang. Walaupun hatinya tetap akan mencari tahu.


"Terima kasih, Arkan. Boleh aku mendapat satu lagi kecupan bibir?" Sheila bergelayut di pundak Arkan dan menunjuk bbibirnya.


Arkan mengembang kan senyum dengan Senang hati Ia mencium bibir Sheila lembut.


Richo menunduk, Ia malu sendiri melihat itu dan lebih memilih mengambil koper uang di atas meja.


"Wah, ini nikmat, Kan. Pantas semua wanita ingin lagi dan lagi menemui mu," ucap Sheila membingkai wajah Arkan.


"Aku pergi!" pamit Arkan. Ia tidak bisa terlalu lama berada di tempat itu.


Terpaksa nya Sheila melepaskan Arkan dan hanya bisa menatap Arkan meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Sampai jumpa, Arkan," gumamnya seorang diri.


__ADS_2