Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_34 Berbelanja


__ADS_3

"Tidak, bukan itu." Dara membalikkan tubuhnya. Keduanya bertukar tatapan. Tatapan yang di penuhi makna tersendiri bagi pemiliknya.


Dara mengangkat tangan Arkan dan mencium tangan itu dengan takzim.


"Aku ingin hidup lebih baik, Kan. Aku memimpikan hidup bersama orang yang tulus mencintaiku dengan kelembutan. bukan siksaan dan kekerasan."


Perkataan Dara begitu dalam dan menusuk dada Arkan. Kehidupan panjang telah menghancurkan gadis itu. Ia sudah seperti sampah di mata keluarganya.


Dara merindukan ketenangan batin, menjauhi keluarga kejamnya adalah pilihan terbaik.


"Aku mendapatkan kelembutan itu di dirimu. Kupikir kau adalah pria terbaik yang di kirim Tuhan untuk mengakhiri duka ku," tambah Dara lagi.


Arkan tersentuh, Gadis itu mengatakan hal yang benar. Kisahnya juga sangatlah rumit. Di tinggalkan Ibu dan hanya di rawat seorang Ayah menjadikan Ia tumbuh tegar dan tidak cengeng.


Meski Sang Ayah telah tiada, Ia tetap berjuang hidup normal sendirian. Bekerja di tempat nista tak membuatnya merasa hina.


Dari sanalah Ia belajar banyak bahwa dunia itu keras. Kakinya tak lagi lemah dan sudah tidak takut lagi menghadapi kekejaman dunia.


"Terimakasih sudah mau menerima aku apa adanya. Aku akan berusaha membahagiakan kamu sebisa aku, Dara. Tapi satu hal yang penting adalah dukungan mu untukku," tukas Arkan di angguki Dara.


Arkan menciumi wajah Dara, wajah yang di penuhi air mata. Arkan menaburkan seluruh cintanya pada tubuh gadis itu.


Malam itu untuk kesekian kalinya mereka menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.

__ADS_1


Pagi mulai membias, Mang Tomang mengetuk pintu kontrakan mereka. Tujuannya Ia ingin berpamitan bekerja.


Tok! Tok! Tok!


"Jun, Jun. Kamu sudah bangun?" teriak Mang Tomang cukup keras.


Arkan baru membuka mata, secepat kilat Ia memakai baju dan menghampiri daun pintu.


"Maaf, Mang. Ada apa ya?" tanya Arkan.


"Ini Mamang mau narik, kalau kamu butuh sesuatu tanya aja sama Bi Lisa istri Amang," tukas Mang Tomang.


"Oh, oke Mang. Hati-hati ya!"


"Iya, Mang. Terima kasih..."


"Sama-sama, ya udah Mamang pergi dulu."


"Tunggu, Mang. Disini ada pasar gak? kami mau mencari baju ganti?"


"Oh, ada. Pakai aja motor Amang. Gak jauh kok paling tujuh kilo dari sini," Jawab Mang Tomang tak segan-segan membantu..


"Baik, Mang. Jadi merepotkan."

__ADS_1


"Santai saja, atuh. Anggap saudara sendiri."


Sebuah keberuntungan bagi Arkan dan Dara bisa mengenal Mang Tomang di tempat itu. Orang nya begitu hambel dan dan cendikiawan.


Usai membersihkan diri keduanya, pergi kepasar dan membeli beberapa potong pakaian.


"Maaf ya, Dar. Aku hanya bisa membelikan baju dari bahan murahan," ujar Arkan.


"Apaan sih, Kan. Santai saja lah. Ini sudah lebih dari cukup kok.Bukankah kita harus ngirit uang disini."


Arkan beruntung Dara sepengertian itu padanya.


"Aku akan mencari pekerjaan nanti."


Dara mengerutkan dahi, Ia tidak yakin Arkan mendapat pekerjaan di tempat asing itu. Siapa yang sudi berbesar hati menolong Ia memberikan pekerjaan.


"Aku akan mendoakan kamu, Kan," timpal Dara. Hanya itu yang bisa Ia ungkapkan pada pemuda itu. Karena support dan Doa adalah yang terpenting.


Arkan dan Dara juga membeli keperluan dapur, Mulai Hari ini mereka akan masak sendiri.


"Wah itu jengkol, kita beli ya!" tukas Dara menunjuk kearah si penjual.


Arkan menautkan alisnya.

__ADS_1


"Kau suka makanan itu?"


__ADS_2