Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_43 Berpisah


__ADS_3

Sarapan pagi adalah rutinitas yang tidak boleh terlewatkan. Dara yang sudah bangun lebih cepat dari Arkan telah menyiapkan apa yang dibutuhkan suaminya.


Meski pernikahan mereka baru terjadi kemaren, Arkan harus tetap bekerja untuk memenuhi hidup mereka.


"Hey, Manis. Rajin bener ya. Udah siap saja sarapannya." Arkan menyipitkan bola matanya. Ia menyambar bibir yang tersenyum indah di depannya.


"Maaf, hanya ada nasi goreng saja, Kan." Dara menunduk malu.


"Is, bilang apa sih?" Syukuri aja apa yang ada. Yang penting kita bahagia' kan?" Arkan mengusap lembut pucuk kepala Dara.


Arkan mendudukkan diri dan menarik Dara di atas pangkuannya. Ia berusaha sebisa mungkin ingin membahagiakan wanita yang kini ada bersamanya.


"Arkan, aku ini berat lo." Dara hendak bangkit, tapi tangan kekar itu memeluk erat pinggangnya.


"Diam lah, aku akan makan jika kamu yang menyuapi," ujar Arkan lirih.


"Ihk, kan udah gede. Masak masih mau di suapi sih?" Walaupun protes sendok itu terbang juga kemulut Arkan.


"Makan di suapi emang lebih enak, Cantik. Aku akan selalu meminta ini saat aku bersama mu. Kamu gak boleh nolak ya," kata Arkan, mengecup lagi pipi yang sudah menjadi kesukaannya.


"Iya, Sayang. Makan yang banyak ya. Biar kerjanya semangat." Dara menyuapi lagi Sang suami dengan ikhlas.


Dara tidak merasa kekurangan hidup di dalam kontrakan mini itu asalkan Arkan selalu menemaninya.


Ia tak pernah menyesal meninggalkan rumah dan segala kehidupan kaya yang setiap hari dinikmatinya.


Cukup seperti saat ini saja, Ia sudah sangat berarti diberi cinta dan di manjakan.


Dor! Dor! Dor!


Gedoran pintu mengagetkan mereka.

__ADS_1


"Siapa, Sayang? kok bertamu pagi-pagi kasar begitu?" tanya Dara heran. Tak habis pikir dibuat oleh tamu itu.


"Biar aku buka," jawab Arkan.


Dara turun dari pangkuan Arkan agar Arkan yang menerima tamu mereka.


Sungguh Arkan terkejut saat mendapati siapa yang ada didepan matanya. Arkan ingin menutup lagi pintu itu tapi Mereka yang berjumlah empat orang lebih kuat tenaganya.


"Jangan macam-macam, Kan. Ayo ikut kami," ujar Richo disertai tatapan marah.


"Aku tidak mau pulang, Cho. Aku mau hidup sederhana saja disini."


Tolakan Arkan tidak berguna, Ketiga teman Richo memegangi tubuhnya.


"Tolong biarkan aku disini, Richo. Aku mau meninggalkan pekerjaan itu dan hidup lebih baik." Arkan memberontak tapi tengkuknya dipukul cukup keras hingga Ia terduduk.


Dara kaget mendengar keributan di ruang depan, Ia pun keluar dan melihat sesuatu yang terjadi.


"Oh.. jadi gadis ini yang sudah membuatmu meninggalkan Mami Deby, cantik juga ya. Gadis yang datang dan memberontak ingin bersama mu."


Richo mengelilingi tubuh Dara dan menoel Pipi Dara gemas.


"Singkirkan tangan mu itu, biarkan Arkan bersamaku," kata Dara kelu, tetesan air matanya jatuh berderai lara.


Richo mendorong Dara ke kursi dipan dan hendak lancang menggagahi Dara.


"Lepas, lepas bajingan." Dara tak ridho tubuhnya di jamah Richo.


"Richo, jangan apa-apakan, Dara. Aku mohon Richo..." Arkan tidak rela Richo melakukannya.


Richo yang sudah ada di atas tubuh Dara dan hendak melucuti ikat pinggangnya berhenti dan menoleh pada Arkan.

__ADS_1


"Oke, asal kau mau ikut suka rela. Aku akan melepaskan gadis simpanan mu ini." Richo menoel lagi pipi Dara.


Hiks.. hiks...


Dara terus menangis tanpa henti.


"Iya, aku akan ikut." Arkan tak punya pilihan lain jika terjadi hal hina itu pada Dara. "Izin kan aku bicara sebentar saja. pada dia, Richo. Ada yang ingin aku katakan aku mohon." Arkan mengatupkan tangan pada bodyguard yang dulu begitu baik padanya.


"Baiklah aku kasih waktu lima menit cepat katakan sekarang!" titah Richo garang. Ia segera menjauh dari tubuh Dara.


"Tolong lepaskan aku dulu. Aku tidak akan kabur," melas Arkan lagi menghiba pada Richo.


"Oke, lepas kan dia."


Dengan langkah lemah dan perasaan teriris, Arkan menghampiri Dara yang sudah berposisi duduk.


Di genggamannya tangan Dara dengan tatapan lekat. Ia harus meninggalkan wanita itu ditempat terpencil itu.


"Dara, maafkan aku tak bisa terus menjaga mu. Pegang ponsel ini dan sisa uang kemaren untuk pegangan. Aku pasti akan menghubungimu melalui ponsel ini. Aku mencintai mu, Dara. Maafkan aku."


Arkan mengecup kening Dara lama, dan mulai melangkah menjauh.


Dara tak sanggup berkata-kata melihat kepergian Arkan. Ia menahan tangan Arkan dan memeluknya erat-erat.


"Tenanglah, Sayang. Aku pasti datang untuk menemui mu lagi," kata Arkan yakin, meski tubuh itu seakan marah.


"Aku akan menyusul mu, Arkan. Aku akan menyusul mu," jawab Dara berulang-ulang.


Richo tak mau menunggu lama, lekas Ia memerintah ketiga orang-orangnya membawa Arkan.


Dara mengikuti Arkan sampai keluar, sakit hatinya melihat Arkan pergi. Sesekali Arkan menoleh kearah Dara namun Ia tak berdaya untuk tetap bertahan. Apalagi perilaku Richo tadi membuatnya tak bisa membayangkan jika hal buruk menimpa istrinya.

__ADS_1


__ADS_2