Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_37 Izin


__ADS_3

"Bagus, kakinya masih bisa di perbaiki. Tapi kamu harus menunda pekerjaan mu dulu, Tomang. Karena Kakimu harus di balut dengan penyanggah sampai waktu yang di pastikan," ujar si tukang urut lelaki paruh baya itu.


"Baik, Mbah. Tapi kira-kira berapa lama, Mbah?"


"Lebih efektifnya bisa sampai tiga sampai empat minggu," jawab tukang urut itu.


"Aduh, selama itu, Mbah. Saya gak bisa ngenek dong," tukas Mang Tomang.


"Aih, kau itu kan punya dua belas kontrakan masih saja mengandalkan Ngenek, Tomang, Tomang. Aku bangga pada kamu. Kau memiliki jiwa yang sangat dermawan," tutur si tukang urut.


"La kok Mbah, tahu?" tanya Mang Tomang heran. Pasalnya Ia tidak pernah menceritakan apa pekerjaan dan sesuatu yang di milikinya.


Arkan dan Mang Dimun saling berpandangan.


"Hebat, Jun. Mbak Rawet punya ilmu batin," bisik Mang Dimun lirih di telinga Arkan.


"Ehem.. Apa yang kalian katakan pun aku tahu," timpal Mbah Rawet membuat Mang Dimun tersentak.


"Hehehe.. Mbah nampaknya tau segalanya coba lihat ponakan Mang Tomang ini gimana perjalanan hidupnya?" tantang Mang Dimun.

__ADS_1


"Hemz...." Mbah Rawet memandang lekat wajah Arkan sambil mengusap jakun nya cukup lama seraya menghela nafas.


"Kau akan melewati perjalanan sulit, Nak. Tapi semua itu akan mengubah mu jadi orang hebat. Yang pasti kau harus banyak mengkonsumsi sayuran dan rajinlah membersihkan tubuh terutama di area jantan mu," ucap Si Mbah yakin Membuat si Arkan mengernyitkan dahi.


Arkan tersenyum dan mengangguk. Meski Ia sendiri tidak paham maksud dari ucapan Mbak Rawet kepadanya.


Sepulang dari rumah Mbah Rawet, Arkan membantu Mang Dimun memapah Mang Tomang merebahkan diri di kasur Lantai.


"Aa, kunaon atuh sampek kes kiyek mendi gotek pisan ey, nasibna (Akang, kenapa sih sampai begini, jelek amat ya nasibnya)," rutuk Bi Lisa.


Mang Tomang menghela nafas.


"Jun, kenapa gak kamu saja yang menggantikan Mamang, ngenek? Uangnya buat kamu. Kamu kan kemaren minta di carikan pekerjaan," tukas Mang Tomang.


Arkan merenung, Ia masih memikirkan ucapan Mbah Rawet tadi.


Plok!


"Jun, kamu melamun ya?" Mang Dimun menepuk pundak Arkan.

__ADS_1


"Hah? apa Mang. bo_ boleh Mang. Pasti ini pengalaman yang menyenangkan," jawab Arkan sedikit kaget tapi Ia masih peka mendengar ucapan Mang Tomang.


"Baguslah, kamu bisa kerja mulai besok."


"Oke, Mang."


Hari mulai merangkak sore, Arkan kembali ke kontrakan miliknya dan melihat Dara tengah membuat gorengan pisang. Dara lupa mengikat rambutnya membuat Ia kesulitan menyingkirkan anak-anak rambut yang menghalangi wajahnya.


Dua tanganya putih oleh tepung, seluruh wajahnya jadi berantakan. Arkan sengaja tidak memanggil Dara dan hanya menikmati kegiatan Dara dari ambang pintu.


Semakin Lama, Dara semakin gerah. Arkan masuk kekamar dan mencari sesuatu. Arkan senang bisa menemukan ikat rambut.


Ia mendekati Dara dan meraup seluruh rambutnya. Dara menoleh dan tersenyum mengetahui Arkan yang melakukannya. Tentu Ia merasa bahagia mendapat perhatian seperti itu dari Arkan.


"Kalau masak jangan lupa mengikat rambut ya, Nona. Nanti rambutmu berjatuhan ke makanan kita," ujar Arkan sayup di telinga Dara.


"Hehehe.. iya Tuan, Maafkan saya. Saya lupa tadi," jawab Dara cengengesan. "O ya bagaimana keadaan Mang Tomang?" tanya Dara balik.


"Beliau patah tulang dan harus istirahat. O ya Dara, Aku akan menggantikan Mang Tomang ngenek, bolehkan? uangnya untuk menyambung hidup kita. Aku juga ingin kita menikah Dara. Aku tidak ingin hubungan kita tanpa status seperti ini," kata Arkan. Ia mendudukkan diri di dekat kursi kayu di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2