
Dara terus merasa mual dan pusing. Padahal obat pereda sudah Ia minum namun tetap saja tubuhnya lemah.
"Ya Allah, apa yang terjadi dengan perutku. Sudah lewat dua minggu dari tanggal datang bulan, apa aku sedang hamil?"
Dara memegangi perutnya terus menerus tanpa henti. Ia hanya tinggal sendiri di sebuah kontrakan sederhana.
Dara memutuskan membeli alat tes kehamilan di apotik. Setibanya dirumah Ia langsung memeriksakan air seninya.
Lima menit kemudian, Dara tercekat. Dua garis merah muncul sejajar dengan warna yang sangat cerah.
"Apa? Positif? jadi a_ aku hamil?" Dara sangat bahagia, Ia tak bisa berkata-kata hanya linangan yang menggenang di kelopak matanya.
"Arkan, aku bisa hamil? ku kira, aku gak akan bisa hamil karena penyakit ini? Arkan pasti senang mendengar kabar kehamilan ku?"
Dara meraih ponselnya dan mencoba menghubungi. Ia tersentak saat suara perempuan yang mengangkat.
"Halo, siapa ya? Halo, ada orang gak? Halo..., Ih dasar aneh ganggu orang aja lagi enak-enak."
ponsel di tangan Dara jatuh merosot kebawah. Ia mengira Arkan sedang bercumbu dengan perempuan itu.
"Ya Allah, aku lupa, Siapa suami ku. Dia pasti sedang bersenang-senang dengan perempuan lain."
__ADS_1
Air mata yang menggenang itu akhirnya tumpah. Dadanya terasa sesak membayangkan Arkan menjamah wanita selain dirinya.
"Nak, Maafkan Mama. Mama sudah jatuh cinta sama lelaki yang memiliki pekerjaan itu." Dara mengusap-usap perutnya.
Semakin lama, Ia merasa semakin berat membiarkan Arkan melakukan pekerjaan menyakitkan hatinya itu.
Drrrrrt...
Sebuah nomor baru masuk. Dara ragu untuk mengangkatnya. Sayangnya, ponsel itu terus berdering menanti jawaban darinya.
Dara memutuskan merima panggilan itu tanpa mengeluarkan suara, Ia khawatir itu datang nya dari Sang Ayah atau laki-laki gila itu.
"Halo, Dara. Ini Arkan. Kau ada disana?"
"Hari ini, aku baru keluar dari rumah sakit. Aku sudah tidak bekerja di tempat Mami Deby. Bisakah kamu memberi alamat mu?"
Ja- Jadi Arkan masih dirumah sakit, lalu nomer tadi...
"Dara, kau dengar aku. Ini nomer ponsel Raka kamu simpan saja, aku belum punya ponsel lagi," jelas Arkan.
"Oh, iya, Baiklah."
__ADS_1
Dara segera mengirim alamat tinggalnya kepada Arkan. Akhirnya Ia akan bersama Arkan lagi.
Dua jam berlalu, Arkan dan Raka tiba di rumah Dara. Arkan tidak menyangka kontrakan Dara sangat kecil. Tapi ada perasaan bangga di hati Arkan, Motor gedenya masih terparkir indah di teras rumah Dara.
"Ayo, Raka. Kita masuk!" ajak Arkan.
Raka menurut dan keduanya segera mengetuk pintu. Tidak berapa lama Dara muncul dengan senyum indahnya.
Arkan dan Dara berpelukan. Rindu itu sudah menggumpal di hati pasangan sirih itu.
Raka terharu, Ia senang Arkan akhirnya mendapatkan keluarga kecilnya sendiri.
Dara menyuguhkan dua gelas koffe dan sepiring pisang goreng yang langsung mereka nikmati.
"Astaga, jadi kalian sudah menikah?" Raka kaget, mendengar cerita keduanya.
"Iya, Raka. Doakan kami selalu langgeng ya," ujar Arkan.
"Tentu saja, sobat. Aku yakin kalian bisa melewati badai ini dan secepatnya memiliki momongan, Aamiin." Raka adalah teman terbaik Arkan selama mereka bersama.
Baik buruk tabiat kedua nya, mereka sudah sama-sama hapal.
__ADS_1
Raka melirik jam tangannya.
"Sudah sore , Maaf ya aku sepertinya harus berpamitan." Raka segera menyalami keduanya dan berlalu dari tempat itu.