
Dua hari telah berlalu, Raka yang memang teman sejati menjaga Arkan. Bodyguard Mami Deby ada tugas lain dan tak bisa menunggui.
Hasil LAB juga sudah keluar, Dokter membawa amplop di tangannya sambil memeriksa kondisi Arkan yang sudah sedikit membaik.
Bintik-bintik merah di tanganya juga mulai menghilang. Itu menandakan sesuatu Ia sehat.
"Bagus, ini awal yang baik. Arkan, mulai hari tugas mu adalah menjaga kebersihan tubuh di bagian organ Vital mu. Ini sangat berguna untuk mencegah virus berkembang biak," tutur Dokter itu.
Arkan dan Raka tercengang, ulasan Dokter itu sangat tidak etis.
Dokter itu membuka selembaran dan menyerahkannya pada Arkan yang segera Ia baca.
"Sayang sekali, perkiraan saya tidak meleset. Anda sedang mengindap penyakit penular paling berbahaya yang di sebut HIV/Aids. Biasanya ini terjadi pada orang yang suka berhubungan badan dengan gonta-ganti pasangan."
"A_ apa?" Arkan dan Raka menggeleng tak percaya.
"Bisa juga itu di akibatkan oleh faktor keturunan yang di derita oleh salah satu keluarga dekat mu, dan saat ini anda sudah menunju ke stadium dua," papar Sang Dokter.
"Ya Allah, cobaan apa ini?" Arkan menangis mendengar kabar menyakitkan itu. Semua itu adalah tamparan keras yang harus Ia terima.
__ADS_1
"Sabar, Arkan. Dok, Apa penyakit ini bisa di sembuhkan?" tanya Raka gamang.
Ia ikut terpukul akan sahabatnya alami.
"Sulit, Mas. Sampai saat ini tak ada satu obat pun yang bisa mengobati penyakit ini, yang pasti belum di ketemukan oleh pakar nya sekali pun," jawab Sang Dokter.
"Lalu, ymaoa yang harus Arkan lakukan, Dok?" tanya Raka, diliriknya Arkan yang memilih mematung.
"Seperti yang saya katakan di awal, Mas Arkan harus rajin membersihkan kelaminnya agar bisa mencegah perkembangan virus itu," jawab Sang Dokter.
Hari itu Arkan terus merenung. Penjelasan Sang Dokter telah mempora-porandakan hatinya dalam sekejap.
"Entahlah, Raka. Ini pasti hukuman dari Tuhan untukku. Aku sudah menjalani hidup dengan berlumur dosa tanpa mengingatnya. Hidupku pasti tidak akan bertahan lama." Arkan merasa lelah dan hilang semangat dalam waktu singkat.
"Jangan begitu, Arkan. Tidak ada orang yang ingin hidup di dunia maksiat tapi nyatanya nasib membawa kita ketempat itu tanpa sebuah pilihan," ulas Raka.
Arkan terus mengamati garis positif di selembaran itu. Tak disangka nya itu harus Ia alami.
Gubrak!
__ADS_1
Mami Deby dan Richo mengagetkan mereka. Cepat Mami Deby merebut kertas itu di pangkuan Arkan untuk mengetahui hasil pemeriksaan Arkan.
"Mami....!" teriak Arkan. Ia tidak ingin Mami Deby tahu hal itu, karena itu pasti akan buruk dampaknya. Namun Arkan tak bisa mencegah kenyataan itu.
Lebih cepat Mami Deby tahu pasti akan lebih baik akhirnya.
Mami Deby membelalakkan mata melihat hasil yang tercetak dalam kertas itu.
"Astaga, Arkan. Kamu mengindap HIV?"
Arkan dan Raka mengulum bibir. Mereka tak berani membuka suara.
"Astaga, gawat ni? berapa banyak pelanggan ku yang sudah tertular?" Mami Deby melemparkan kertas itu kehadapan Arkan.
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu bekerja lagi di club dan satu hal lagi, kami tidak akan mendapat pesangon lagi karena biaya rumah sakit ini sangat mahal, dengar itu!"
Mami Deby tidak akan mengambil resiko jika membiarkan Arkan terus bekerja. Pasti Club yang Mami Deby bangun akan hancur dalam sekejap.
"Tapi, Mi_."
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, ayo kita pergi. Bahaya kalau kita tertular juga!" ajak Mami Deby pada Richo.