
Arkan dan Dara tak punya pilihan lain selain ikut. Mereka masuk lagi ke dalam bis hingga tiba di sebuah pemukiman padat.
"Ayo, Atuh. Akang, Eneng kita turun!" ajak Abang kenek. "Nuhun ya, Mang," ucapnya pada Si sopir. Bang kenek belum terlalu tua usianya masih sekitar tiga puluh lima tahun.
"Iyek, kontrakan urang. Akang jeng Eneng tinggal wae didiyek?" ucap Abang kenek. Seperti biasa Arkan dan Dara mengulum senyum.
"Maaf, Bang. Kami tidak paham arti dari ucapan, Abang." Dara ingin orang itu tidak meneruskan perkataan yang belum mereka mengerti.
Plok!
Si akang mukul mulutnya sendiri.
"Ges kebiasaan iyek baham, reriweh ey. Begini Kang, Neng, ini kontrakan saya. Ada yang masih kosong satu, jika mau kalian bisa menginap disini."
"Oh.. begitu, oke Bang. Kami_."
"Engkek helak atuh, ulah gancang-gancang. Ehk.. maksud saya pikirkan dulu sebulan Satu juta dua ratus ribu. Malam ini tek nanaon gratis lah buat kalian," ujar Abang kenek ikhlas
"Jangan, Bang. Kami tidak mungkin numpang gratis, saya rasa ini sudah cukup kok," kata Arkan ikut menimpali.
__ADS_1
"Ya udah, atuh. Ayo masuk, lihat dulu dalamnya!" Abang kenek menggiring keduanya kedalam.
Kontrakan itu sangat sederhana hanya ada kursi dari dipan beserta mejanya dan satu buah ruang kamar. Tapi bagusnya kamar mandi sudah tersedia.
Di sana juga ada dapur yang bisa di pergunakan untuk bertahan hidup.
"Nah, ini kamarnya. Cukup lah untuk berdua, suami istri ' kan maneh berdua iyek, ehk maksudnya kalian ini suami istri kan?" tanya Abang kenek. Ia pikir Arkan dan Dara tetap tidak paham arah tujuannya.
Arkan dan Dara kembali bertukar tatapan bingung harus menjawab apa.
"I_ iya, Bang. Kami sebenarnya tujuannya mau berbulan madu. Tapi kami malah nyasar kemari gara-gara tiket ilang," jawab Arkan berbohong.
"Da_."
"Ini istri saya Wilya dan saya sendiri Arjun," jawab Arkan memotong pembicaraan Dara. Akan lebih baik jika mereka memakai nama tengah agar tidak ada satu orang pun yang akan mengenal mereka di tempat asing itu.
"Ya sudah, ges peting. Aduh salah waek atuh.. maksudnya sudah malam kalian istirahat saja dulu pasti kalian lelah to. Jika ada perlu, panggil saja Abang. Rumah Abang melewati tiga rumah dari sebelah kanan," pungkas Abang Tomang.
"Iya, Bang. Terima kasih," jawab Keduanya.
__ADS_1
Bang Tomang berlalu dari rumah kontrakan itu. Arkan dan Dara merasa gerah. Mereka belum juga berganti pakaian seharian ini karena tidak melakukan persiapan untuk kabur.
Dara merentangkan tanganya keatas, pegal dan sakit-sakit menyemayangi tubuhnya.
Arkan tersenyum kelu, Ia tidak percaya akan aksi nekatnya membawa anak gadis orang ketempat sejauh itu .
"Dara..!"
"Hm?" Gadis itu menoleh menunjukkan kecantikannya. Dara sangat cocok jika rambutnya di ikat keatas seperti itu. Wajah nya semakin menarik pandangan Arkan.
"Kau lapar ya? aku keluar cari makan dulu," kata Arkan kemudian.
"Cari dimana, Kau kan belum paham daerah sini?" tanya Dara.
"Kan ada Bang Tomang, nanti aku tanya saja sama dia," jawab Arkan seraya tersenyum. Senyuman itulah yang selalu menjadi daya pikat tersendiri untuk kaum wanita.
"Baiklah, hati-hati ya!" pesannya sedikit khawatir.
"Tentu, jaga diri mu baik-baik. Kau kunci saja pintunya saat sendiri!" Arkan perlu berpesan pada Dara. Mereka tidak tahukan sikap dan sifat para penduduk di sana.
__ADS_1
Dara mengangguk pelan.