Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_33 Pertanyaan


__ADS_3

Arkan dan Mang Tomang sudah kembali lagi kerumah.


"Makasih ya, Mang. Sidah sudi mengantar saya," ucap Arkan.


"Siip, tidak papa. Santai saja. Walau bagaimana pun kita kan saudara, Jun l," jawab Mang Tomang seraya memasukkan motornya kedalam rumah.


Arkan mengetuk pintu tidak ada jawaban. Justru pintu itu terbuka dengan mudah. Pasti Dara lupa menguncinya setelah Ia pergi.


Arkan mengembang senyum melihat Dara telah tertidur di atas kursi.


Dia pasti sangat lelah.. Dara.. Dara...


Arkan memandangi wajah teduh itu, Meski tertidur pulas tak menghilangkan kecantikan Dara. Bahkan Gadis itu tidak menyadari sebagian helaian rambutnya menutupi wajah ayu Dara.


Arkan mengalihkan rambut itu perlahan tak ingin Ia mengganggu tidur Dara. Lambat laun ia Memindahkan Dara ke ranjang tapi Dara sadar saat Arkan merebahkan tubuhnya.


Dara malah melingkarkan tanganya di leher pemuda itu hingga Dara menindih tubuhnya.


"Kau sudah pulang, apa tempatnya jauh?" seloroh Dara menatap lekat mata Arkan.


Arkan mengangguk kecil, gadis itu mempora-porandakan hatinya. Entak setan apa yang membuatnya mengabulkan permintaan Dara.

__ADS_1


"Kamu lapar ya, ayo makan!" ajak Arkan melepas kan diri dari Dara tapi gadis itu mempererat pelukannya.


"Arkan, aku ingin kita menikah saja. Agar kita tak akan bisa dipisahkan," ucap gadis itu.


Sejenak Arkan terdiam dan mengangkat tubuh Dara bersama bangunnya Ia dari atas Dara.


"Kita pikirkan nanti, yang penting kita isi perut dulu ya," kata Arkan lembut.


Dara menurut. Keduanya beralih ke meja dan membuka isi menu makanan.


"Aku tidak tahu makanan kesukaan mu semoga kau tidak keberata, Dar," ujar Dara.


Dara menyantap makanan itu dengan nikmat. Ia bersyukur ada di tempat itu bersama Arkan. Pemuda yang sudah menentramkan hatinya.


Menjeratnya di antara taburan bunga-bunga Cinta dan kasih sayang dalam setiap sentuhan dan ucapannya.


Arkan ikut Makan, Ia terharu bisa berdua seperti keluarga bahagia. Tak terpikir kan oleh ya Ia bisa mengalami hal itu. Sesuatu yang rasanya tidak akan mungkin Ia alami.


"Dara...," ucapnya lirih.


Dara menghentikan sendok dan membiarkannya mengatung lalu meletakannya diatas bungkus nasi.

__ADS_1


"Kenapa?" Dara menyilang kan kedua tangannya di atas meja.


Arkan meraih dan menggenggam tangan Dara. Ada sesuatu yang terpancar di dalam bola matanya. Sesuatu yang penting yang Ingin Ia ungkapkan secara terang-terangan.


"Kau tahu kan? aku bukanlah pemuda yang baik. Tapi mengapa kau memilih kabur bersama ku?" tanya Arkan seraya meneguk salivanya.


Dara terkekeh. Setelah sejauh Ini Arkan baru bertanya sesuatu yang sudah basi.


"Cinta itu buta kan? Cinta tak memandang situasi dan kondisi. Aku merasa nyaman ada di sampingmu, Kan. Setiap hari aku selalu memikirkan mu. Menanti keajaiban kalau kau akan datang dan jadi penyelamat hidupku," jujur Dara.


Hatinya penuh luka tapi setiap bertemu Arkan luka itu seakan berangsur-angsur menghilang, yang ada hanyalah kebahagiaan.


"Apa kau menyesal?" tanya Dara akhirnya.


"Bu_ bukan itu, justru aku takut jika kau yang akan menyesal. Aku sudah sering menjamah perempuan lain, aku takut itu menyakiti mu nanti," ungkap Arkan.


Dara beranjak dari duduknya dan memantik sebuah vas bunga kusam di atas meja. Bola matanya berair. Ia tersenyum getir meratapi nasibnya yang sebenarnya tak lebih baik dari Arkan.


Arkan mengikuti Dara dan memeluk tubuh itu dengan syahdu.


"Maaf, aku pasti menyakiti mu," desis Arkan di telinga gadis itu. Suara beratnya terdengar merdu di telinga Dara.

__ADS_1


__ADS_2