Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_21 Takut


__ADS_3

Arkan mengangkat tubuh Dara dan menjatuhkannya di ranjang. Keduanya saling bertukar tatapan. Perlahan-lahan Arkan menarik kancing bajunya di bantu oleh Dara sampai keduanya tanpa helai sedikit pun.


Arkan membelai kepala Dara. Ia kembali memangut bibir Dara hingga Ia merasa puas.


Gadis itu diam dan hanya menikmati perlakuan Arkan yang terasa begitu membelenggu dalam relungnya.


Arkan menjelajahi lekuk tubuh Dara menciumi garis pemisah dua gunung Sahara didada gadis itu seraya memainkan tanganya di bagian mahkota gadis itu.


Gadis itu merintih syahdu di hujani cinta surgawi dunia oleh Arkan seorang pemuda tampan yang berwajah cendikiawan menarik patutan setiap wanita yang melihat dirinya.


"Auem..."


Sesekali suara itu sedikit mengeras di sertai geliinjangan yang muncul bereaksi sendiri dari tubuh Dara.


"Ahk..."


Desisnya mendayu-dayu merdu di telinga Arkan sampai Mahkota gadis itu banjir gadis itu mengerrang panjang.


Tidak ada percakapan dari keduanya Arkan benar-benar memanjakan Dara. Ia menghisap lekuk jenjang leher Dara hingga tertinggal noda merah di sana.


Keduanya kian terhanyut dalam asmara api cinta yang membara. Seakan dunia berhenti berputar. Milik Arkan sudah semakin mengeras tegang sedang milik Dara sudah mengencang basah ingin sesuatu yang lebih.

__ADS_1


Arkan tidak menunggu lagi memasukkan miliknya ke dalam sana.


"Euuum."


Keduanya bernostalgia bercumbu hingga malam itu seperti sesuatu yang tidak ingin di akhiri.


Malam semakin larut, tapi Arkan tak henti-hentinya merasai tubuh gadis itu sampai Ia merasa sudah cukup sampai Ia lelah dan kemudian lagi dan lagi tanpa memejamkan mata sekejap pun.


Sama hal nya Dara yang tidak ingin Arkan menyudahinya lebih cepat. Ia berharap setelah ini semua kembali normal dan Ia tidak takut lagi dengan kematian yang kapan saja bisa menjemputnya.


Pagi sekitar pukul lima barulah Arkan tertidur kemungkinan karena Ia malam itu tenaganya terkuras.


Dara yang tidak tidur lebih memilih memandangi wajah Arkan. Ia menangis lagi sembari mengelus-elus wajah Arkan dengan pelan karena tak ingin Arkan terganggu.


Dara menepuk keningnya dan ketakutan kembali menyerang dirinya.


Astaga, apa benar dia akan baik-baik saja. Ba.. Bagaimana jika dia_? tidak, ini tidak mungkin. Aku tidak mau kau merasakannya juga, Arkan...


Dara memutuskan pergi diam-diam untuk kesekian kalinya dari Arkan. Ia tidak ingin Arkan ikut merasakan yang Ia alami.


Dara memakai bajunya kemaren dan memakai sepatu Arkan untuk di jadikan kenangan terakhir. Dara berniat tidak akan menemui pemuda itu setelah ini.

__ADS_1


Masuk kedalam hidupnya pasti akan membuat Arkan menderita juga dan itu tidak Dara impikan sama sekali.


Dara mempercepat langkahnya sampai ke daun pintu. Ia menoleh lagi kearah Arkan yang belum juga menandakan akan bangun seraya menghapus air matanya.


Kepergian nya untuk menghindari Arkan mengikis psikisnya. Ia tidak ingin berpisah dengan Arkan tapi Ia juga tidak ingin Arkan merasakan luka dari dirinya.


"Aku mencinta mu, Arkan. Aku mencintai mu...."


Kata-kata itu sangat menyakitkan bagi Dara tapi itu adalah jalan terbaik untuknya.


Dara membuka kenop pintu dan meninggalkan Arkan tanpa berpamitan.


Klonteng!


Seorang pelayan hotel itu menjatuhkan tutup makanan dari atas nampannya membuat Arkan terbangun.


Arkan membulatkan mata ketika tak lagi melihat keberadaan Dara di sampingnya.


Arkan mengacak-acak nya rambutnya. Ia kecewa karena Ia harus kehilangan Dara lagi.


Arkan butuh memastikan kekamar mandi tapi semua sia-sia. Dara benar-benar sudah pergi dan Ia tidak tahu kemana Ia harus mencari Dara.

__ADS_1


"Dara.., ada apa dengan mu? Mengapa kau selalu seperti ini? apa kau bukan manusia, Ha?" Kekesalan menyelimuti hatinya.


__ADS_2