Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_39 Hari Pertama


__ADS_3

Hari pertama kerja, Arkan sedikit kaku. Ia tidak tahu caranya memanggil penumpang untuk menaiki Bis nya saat melewati jalan.


"Jeruk kecut, jeruk kecut, Yang mau naik pasti orangnya tahu yang enak lo!" teriak kenek Bis lainnya dari seberang jalan.


Suasana tempat itu begitu ramai, Mereka memilih naik Bis sesuai tujuan mereka.


"Naik, Mbak!" ucap Arkan pada seorang gadis. Gadis itu. hanya mengerutkan dahi dan berlalu.


"Jun, teriak yang kenceng. Pakai suara emas mu," tukas Pak sopir dari dalam bis.


Bis itu hanya mengantar dan menyambut orang-orang yang mau pergi mau pun kembali dari terminal Baru.


Ehemz....


Arkan membasahi pita suaranya yang tidak nyaman dan mulai berteriak.


"Yang mau ke kota yok naik kemari, mbak cantik, mas ganteng di jamin aman terkendali sampai tujuan!"


Satu kata keluar tapi belum ada respon. Arkan mengangkat topinya dan meniup peluit yang sengaja Ia siapkan dari rumah.


Priiiit!


"Ayo, ayo, hari sudah siang. Jarang-jarang lo di temenin orang cakep kayak aku!"


Beberapa orang gadis tertegun menatap Arkan. Mereka saling toel ingin ikut bis Arkan.


"Ya ampun, cakep banget sih? boleh poto gak?" seorang gadis memainkan bola matanya.


"Iya, ihk. Mas beneran kenek, kok gak pantes ya. Cocok nya jadi pemain film," tutur seorang lainnya.


Keempat gadis itu menggaet Arkan dan memaksa melakukan Selfi.


"Hadeh.. ya ampun. Kemana aja di bawa aku mau ini mah!" Mereka nampak terpikat akan kegantengan Arkan.


Arkan tersenyum, jangan di tanya senyumnya saja bikin orang mabuk kepayang.

__ADS_1


"Astaga, aku mau pingsan ni. Tolongin...." Salah seorang gadis bersikap lebay.


"Kalau mau lebih lama lihat saya, ayo naik kesini." Arkan menaikan kedua alisnya.


"Iya, iya. Ayo ikut!" Mereka bergerombol masuk di ikuti beberapa penumpang lainnya yang terpaut.


Tak butuh waktu lama, mobil bis itu sudah penuh.


"Sudah selesai semua ya?" tanya Pak sopir. Ia merasa bangga dengan kinerja Arkan. Ada untungnya juga punya kenek ganteng.


"Iya, Mang. Ayo jalan!"


Arkan memintai penumpang itu ongkos, seorang gadis bersuara.


"Mas, nyanyi dong. Pasti suaranya bagus. Nanti tak kasih bonus!"


"Wah, boleh tu. Aku juga mau empat kali lipat Doble ongkos," sahut seorang lainnya.


"Setuju!" tambah gadis lainnya.


"Ayo dong, Mas. Aku yakin kamu bisa."


"Buktikan kemampuan mu, Jun. Kamu bisa kok," kata Pak sopir. Tentu saja Ia senang jika ada tambahan bonus.


"Nyanyi apa ya, Mbak. Aku gak bisa nyanyi?" Arkan tersenyum simpul.


"Apa ajalah, Mas. Biar gak bosen," jawab gadis yang pertama tadi.


"Boleh juga sih, kamu pakai gitar ku?" seorang pemuda menawarkan gitar mahalnya.


Arkan menyambut gitar itu dan mencoba memainkan nada. Ada satu lagu yang sangat Ia sukai dan menjadi favoritnya.


jreng! jreng! jreng!


Cinta itu bagai misteri... 🎢🎢🎢

__ADS_1


Tak bisa di tebak...


Cinta itu bagaikan duri.. 🎢🎢🎢🎢


yang kapan saja bisa menusuk hati...


Jangan pupus kan harapan ku..


Saat kau sedang sendiri.. 🎢🎢🎢🎢


Disini aku masih setia..


Menjaga cinta kita*... 🎢🎢🎢🎢


(Ini lagu karangan author ya, kalian bisa menyanyikan dalam persi masing-masing)


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Prok! Prok!


Suara tepukan mengiringi penghujung lagunya hingga tak terasa mereka sampai di terminal kota.


"Terima kasih, Bang. Suara mu bagus," tukas si abang pemilik gitar.


"Terima kasih, Mas." Arkan mengatupkan tangan.


Arkan kembali masuk dan masih melihat keempat gadis tadi tak kunjung turun.


"Mbak, tidak turun. Itu kereta api sebentar lagi jalan lo." Arkan mengingatkan.


"Siapa juga yang mau ke kota, Mas. Kami cuma jalan-jalan saja," jawab salah satu dari mereka.


"Iya, Mas. tenang aja. Ongkos pulang pergi tetep masuk kok," jawab seorang lagi.


Mereka senyum-senyum sendiri memandang Arkan tanpa mengalihkan nya sedikit pun.

__ADS_1


"Oh, oke. Ya sudah kalian tunggu saja sampai penumpang penuh." Arkan keluar lagi dari bis itu.


__ADS_2