
"Tenang kan hati mu, Nak. Turuti saja kemauan Ayah." Adisty memeluk sang putri yang terlihat lemah.
Hanya ada tatapan kosong di dalam bola mata gadis dua puluh satu tahun itu.
"Aku sudah mati rasa, Bu. Aku sudah tidak peduli dengan hidupku. Aku mau mati saja bahkan Ayah tidak tahu kondisi ku sekarang ini karena Raymond," ujar Dara kelu. Di pejamkan matanya hingga lelehan demi lelehan buliran air jatuh berderai di bola mata indah itu.
"Ibu mengerti, Nak. Sebenarnya Ayah mu dan keluarga ini tidak menginginkan anak perempuan itu sebabnya dia tidak menyukai kehadiran mu yang dianggapnya membawa sial."
Dara menatap lekat kedua manik Ibunya. Ia sedikit terkejut mendengar pengakuan Sang Ibu.
"Karena itu, Ayah ingin aku cepat pergi dari rumah ini?" tercetuslah pertanyaan Dara setelah mengetahui pengakuan sang Ibu.
"Ada lagi, putriku," Kata Adisty yang memutar tubuhnya ke arah bingkai foto yang ada di meja kamar.
"Dulu kelahiran mu dianggap penyebab kematian Dimas putra Ayahmu dari istri pertamanya," ujar Adisty sambil mengusap-usap poto Dimas.
__ADS_1
"Maksud, Ibu? Memang apa yang pernah Dara lakukan, Bu? Kenapa Dara tidak ingat apa pun?" tubuh Dara mendadak gemetar. Kedua tangan saling bertaut takut.
Mungkin kah Ia adalah seorang pembunuh berbahaya seperti yang dikatakan Ibu nya barusan.
"Bukan seperti itu, Dara. Waktu itu saat usianya masih sekitar enam bulan, kereta dorong mu terlepas dari genggaman Dimas yang tengah menjaga mu bersama Tante Tika."
"Tante Tika?" tanya Dara mengerutkan dahi.
"Ya, dialah yang sebenarnya mengasuh mu hari itu di pintu pagar besi di depan sana. Tante Tika asyik mengobrol dengan Pacarnya dan menyerahkan kereta dorong itu pada Dimas yang waktu itu masih berusia tujuh tahun."
Dara menganguk-angguk kan kepalanya.
"Dara mengerti, Bu. Dara tidak tahu harus berbuat apa. Dara bener-benar tidak menginginkan ini, Bu. Dara takut pada Raymond, pria itu sama seperti Ayah, bengis dan kejam."
Duka, sakit dan kegetiran hidup sudah biasa Dara jalani bahkan kekerasan fisik bukan lagi hal yang awam. Setiap malam Ia menangis membekap mulutnya agar tak seorang mendengarnya betapa perih hatinya.
__ADS_1
Tubuh yang sakit sudah tidak terasa akibat kesakitan batin yang menggumpal.
Adisty menarik kepala Dara di pangkuannya. Di usap-usapnya kepala gadis cantik berparas sendu itu dengan lembut. Jika bisa menggantikan posisi Dara, pasti Adisty aku memilih menjadi gadis malang itu.
Kau pasti kan menemukan kebahagian mu, Nak. Bersabarlah lebih lama sampai waktu itu tiba...
Dara sudah terlelap tidur, seharian menangis dan dipukul Ayahnya membuat Dara nampaknya kelelahan.
Adisty memindahkan kepala Dara keranjang lalu mengambil Cream dingin untuk memolesi wajah Dara yang sudah membiru agar sakitnya berkurang.
Baru saja rampung Adisty di kaget kan oleh suara dentuman dari luar.
"Jangan membohongi aku, Om. Atau rumah megah mu ini rata dengan tanah."
Itulah suara Raymond. Sifatnya yang bringas membuat nyali Herlambang menciut. Di antara lelaki yang di jodohkan nya dengan Dara hanyalah Raymond yang garang dan memaksa ingin bersama Dara.
__ADS_1