
Dara tidak menjawab dan menggeret Arkan kedepan penjual itu.
"Berapa satu kilonya, Bu?" tanya Dara.
"Dua belas ribu, Neng?" jawab Si penjual.
"Dua kilo ya, Bu."
"Oke."
Arkan menahan tawa, tak di sangka nya wanita sendu dan secantik Dara menyukai makanan berbauk menyengat tersebut.
"Kenapa ketawa, ada yang aneh?" Dara manyun. Tapi Ia tak peduli karena itu adalah makanan favorit nya.
"Enggak, beli aja yang banyak kalau suka." Arkan melipat tangan mengamati kesibukan Dara bersama pedagang itu.
Cukup lama berbelanja, Arkan mengajak Dara ke taman yang di maksud Mang Tomang. Arkan membeli dua buah es cream dan menyerahkan salah satunya pada Dara.
"Mau yang mana?" tanya Arkan. Satunya rasa coklat dan satunya lagi rasa vanila.
"Coklat aja." Dara menyambar pilihannya.
Dara tergiur melihat Arkan mencicipi nya sepertinya milik Arkan lebih enak dari miliknya.
"Arkan...."
"Hm?"
"Boleh cicip?"
"Ha, ini." Arkan menunjuk es Cream di tangannya.
__ADS_1
Dara mengangguk kecil, wajah nya bersemu merah. Ia sedikit malu meminta itu.
"Ini, ambil lah." Arkan mengulurkan es cream yang sudah berkurang itu di depan Dara.
Wajah Dara sangat bahagia dan menukar miliknya dengan Arkan.
"Iya, ini lebih enak. Lebih menantang," coleteh Dara memalingkan wajah.
"O ya, menurutku yang makan lebih menggoda," bisik Arkan jahil.
Dara menoleh dan menabrak wajah Arkan.
Gegas Ia menarik wajahnya dan hanya garuk-garuk kepala.
Arkan mengusap pucuk kepala Dara dan menggenggam tangan Dara meninggalkan tempat itu.
Sampai dirumah keduanya di sibukkan memasak di dapur. Arkan ikut turun tangan agar pekerjaan mereka cepat usai.
Melihat Dara mengusap keringatnya, Arkan sigap mengambil alih.
"Biar aku saja, kau buat bumbunya," kata Arkan.
"Oke."
Dara menggilas beberapa rempah-rempah yang sudah di bersihkan di atas benda bulat dari batu unik tersebut sampai lembut.
Harusnya bisa saja di blender tapi alat-alat masak disana hanya seadanya dan itu membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.
Sekitar Satu setengah jam bergelut di dapur akhirnya Sambel jengkol, ikan goreng dan Sambel tomat telah siap.
"Wah enak ni di lihat dari penampakannya," ucap Arkan meneguk liurnya.
__ADS_1
"Ya udah tunggu apa lagi, ayo kita santap!" Dara menarik kursi dan mengambil kan Arkan lebih dulu.
"Coba cicipi dulu, Tuan yang terhormat," goda Dara tak kalah pintar nya bergurau.
"Baik, Nona Cantik. Aku sudah tidak sabar lo," balas Arkan pula.
Arkan memasukkan satu sendok penuh kemulut nya, Ia tak menyangka masakan itu sangat nikmat.
"Bagaimana? apa ada yang kurang?"
Arkan tak bisa berkata-kata dan hanya mengacungkan lingkaran bulat jari ibu dan telunjuknya.
"Baguslah, artinya masakan aku layak di nikmati," Tutur Dara terpuaskan.
"Istri idaman," puji Arkan senang.
"Iya kah? semoga orang yang menikahi aku kelak tidak akan menyesal, Aamiin."
"Aamiin," ucap Arkan menambahi.
Seminggu telah berlalu uang yang di bawa Arkan mulai menipis. Ia tidak akan mungkin mengandalkan itu terus menerus tanpa adanya pekerjaan di tempat itu.
sibuk dalam kebingungan, Bi Lisa datang dengan wajah panik.
"Jun, tolongin Bibi!" teriaknya di barengi nafas terengah-engah.
"Kenapa, Bi?" tanya Arkan penasaran.
"Itu Mamang Tomang katanya kecelakaan di depan pasar kamu susulin gih, ini kunci motor tetangga. Kamu bawa saja."
Bi Lisa menyerahkan kunci motor bebek ke tangan Arkan.
__ADS_1
"Kenapa Bi?" sahut Dara. Ia baru saja selesai menjemur pakaian di belakang rumah.